Selasa, 18 Oktober 2011

Kamu - gadis hujan

ikutan #11projects11days untuk ulang tahun @nulisbuku baru kesampean hari ini di hari ke #8 :)
gotta write mine here. boleh kritik kok, tetapi masukan lebih diterima <3

Kamu
by Gadis Hujan

“Aku suka kamu.” seluruh gerakanku terhenti tiba-tiba. Itu bukan kalimat sembarangan. Aku menatap matamu, berusaha mencari kesempatan agar bisa tertawa dan menganggap kalimat barusan hanya bagian dari lawakan. Tetapi, sia-sia. Dan aku justru tenggelam dalam tatapan matamu yang baru kusadari berwarna abu gelap.

“Tapi...”

“Kamu ngga suka sama aku?” nafasku hampir terhenti ketika tanganmu sudah lancang menggenggam kedua tanganku. Terhipnotis, aku tidak menyadari bahwa jarak yang tercipta diantara aku denganmu mulai menipis. “Beneran, aku suka sama kamu.” Kini nafasmu sudah terasa, meniup pelan diwajahku. Wangi cengkeh, dan mint. Aku menggigit bibirku pelan. Setengah mati aku berusaha menahan diri agar tidak langsung memeluk bahumu yang bidang ataupun melumat bibir yang hanya berjarak sekian senti dari hadapanku.

“Tapi...”

“Kalau suka ngga harus ada alasan kan?” aku tak yakin masih ada jarak yang tercipta. “aku mau kamu cuma untuk aku...” Kamu merangsek maju, dan aku hanya diam. Kemudian wangi cengkeh dan mint sudah terasa didalam mulutku. Rasa bibirmu. Konsentrasiku hilang, yang ada hanya rasa ingin dan ingin yang berlebihan. Kesadaranku buyar, yang tersisa hanya cinta yang semakin berkembang.

Aku lupa ada hal-hal lain yang juga harus diperhatikan.

xx

Kata orang, kalau orang lagi jatuh cinta biasanya suka bertingkah seperti orang gila. Aku jatuh cinta, tapi tidak merasa gila tuh. Hanya saja, sejak pagi aku sudah suka tersenyum. Aku juga menyempatkan diri membuat sarapan untuk orang rumah, hal yang baru kali ini kulakukan. Dan pagi ini aku masuk kelas matematika tanpa keluhan. Bukan hal gila, kan?

“Cit, lo kenapa?” Dinda menyenggol pelan lengan kananku. Aku menghentikan diri dari kesibukan mencatat rumus yang tengah ditulis Pak Fredy, kemudian menoleh sebentar kearahnya.

“Emang kenapa?” dahiku berkerut bingung. Dinda menatapku lebih bingung lagi.

For your info, ini kelas matek, Citra. Lo jadi orang satu-satunya yang nyatet rumus! Anak-anak lain aja pada tidur!” aku menjauhkan telingaku sedikit dari rentetan kalimatnya. “dan, ini pertama kalinya lo nyatet! Ya ampun Cit, lo lagi stres?” Dinda mencoba menyentuh keningku dengan tangannya.

“Lo kira gue sakit?” aku mendengus pelan, berusaha mengabaikan tingkahnya. “Gue cuma lagi mau nyatet kok, itu aja. Kasian Pak Fredy, ngga pernah ada yang mau nyimak dia,” aku kembali menatap whiteboard yang kini mulai penuh dengan simbol dan angka. “padahal penjelasan dia lumayan bagus loh. Gampang dicerna,” dan aku kembali sibuk dengan pensil dan kertas, menyalin semua yang ditulis di papan tulis.

“Biar gue tebak. Lo lagi suka sama cowo ya?” aku tersedak. Permen yang tengah kukulum tanpa sengaja langsung tertelan. Dinda semakin bersemangat melihat tingkahku barusan. “Siapa Cit? Anak kampus ini juga? Kenal dimana?” Aku gelagapan. Bukan panik, tetapi kerongkongan tertahan itu rasanya ngga karuan.

“Din, lo liat gue keselek kan? Kasih minum dulu kek!” suaraku panik. Dinda cengengesan, kemudian menyerahkan botol air mineral yang sempat ia beli sebelum kelas dimulai. Sambil menenggak, mau tak mau senyumku terkulum dibibir. Jatuh cinta memang tak bisa diatur, kan?

Kelas berakhir ketika matahari tengah menyunggingkan senyumnya yang terlebar. Aku menatap Dinda yang tengah sibuk merogoh tasnya, mencari kipas lipat sambil membalas pesan yang masuk kedalam smart phone kepunyaannya. Aku? Setelah membalas pesan singkat darimu yang sampai sekitar lima menit yang lalu, aku langsung menyimpan ponsel dan menunggu. Ini saatnya menguatkan diri untuk menatap senyummu yang terlalu tampan dan matamu yang terlampau menghipnotis. Senyumku terkembang, baru semalam aku menatap wajahmu dan kini aku sudah kembali merindu.

“Cit, lo mau kan nemenin gue nunggu Diky?” Dinda memelas, menatap wajahku dengan memohon. “bisa gila gara-gara bosen nih gue kalo nungguin dia sendirian disini. Kosan lo kan deket, daripada pulang sekarang mending disini dulu... ya?” lanjutnya sambil mengipasi wajahnya yang mulai berkeringat. Aku tersenyum kecil sambil mengangguk.

“Nyantai, toh gue juga nunggu orang kok,” senyumku melebar, membuat Dinda mendelik. Aku melihat ekspresi-ingin-tahu-banget sudah bertengger di wajahnya, membuatku tak mampu menahan tawa. “Tadi sih bilangnya ketemu disini...”

“Tuh kan, gue bener! Lo baru jadian ya?” pekik Dinda girang sambil menepuk kedua telapak tangannya. “Siapa sih? Anak kampus ini juga deh pasti. Kenalin!” Dinda menarik-narik lengan bajuku kemudian menoleh kekiri dan kekanan, mencoba mencari tokoh yang berhasil meraih rasa ketertarikanku akan lawan jenis.

“Orangnya belom sampe disini tau,” aku tertawa pelan. “belum jadian Din, tapi kemaren... dia nyium gue...” ceritaku terbata. Bibir merah Dinda menganga.

“Serius?” Dinda menatapku terpana. Wajahnya yang mulus tertimpa sinar matahari, tetapi ia acuh ketika mendengar kalimatku barusan. Perlahan aku mengangguk, dan menyadari kini pasti ada rona merah terpantul di pipi kiri dan kananku. “Itu sih lo udah jadian Cit, masa dia nyium lo kalo dia ngga suka sama lo?” Dinda terlihat excited. “Mungkin dia bukan tipe orang yang suka nyatain perasaan, tapi langsung dilakoni lewat perbuatan,” Dinda mengerling, membuatku semakin malu. “Anak mana sih? Gue kenal?” tanyanya lagi.

“Hehe, lo kenal kok Din,” aku menjawab pertanyaannya. “Anak Budibakti,”

“Ya ampun, sama kayak Diky dong!” Dinda memotong kalimatku. “Gue kenal banyak anak Budibakti, Citra. Yang mana?” Dinda merongrong penasaran. Aku hanya menggeleng sambil tertawa. “Anak fotografi? Anak klifonara? Anak teater? Citra jawab dong, gue penasaran!” wajahnya semakin berbinar menatapku, berusaha mendapat informasi lebih lanjut. Aku hanya menggeleng sambil terus tertawa.

Kemudian kamu datang. Dengan senyum manis terpatri di bibir, dari arah depan. Aku balas tersenyum ketika kamu melambaikan tangan, mengecup telapak tangan kemudian meniupkannya kearahku. Langkahmu pasti, kemudian berhenti tepat dibelakang Dinda.

I miss you,” kedua tanganmu menutup kedua mata Dinda dari belakang, kemudian menatap kedua mataku dan mengunci sisa kesadaran yang kumiliki.

I miss you too,” Dinda tertawa renyah sambil menggenggam kedua tanganmu, kemudian mendaratkan bibirnya ke pipi kananmu. Masih, aku hanya mampu menatap kedua mata abu milikmu yang masih menatap mataku. Aku juga merindukanmu.

“Udah lama nunggu?” bibirmu bergerak, bertanya. Aku menatap bibirmu, membayangkan wangi cengkeh dan mint yang masih tersisa hingga saat ini.

“Ngga kok, sayang,” Dinda menjawab sambil merangkul tanganmu, menarikmu untuk duduk di sisi kirinya. Aku selalu menunggumu sebegini lama, meski hanya untuk merasa hangatmu. Dan kini rasanya panas matahari berhasil menggigit isi kepalaku.

“Cit, cowo kamu masih lama?” tanya Dinda, mengembalikan kesadaranku yang sempat mengambang entah kemana. Aku hanya menjawab dengan senyuman.

“Citra udah punya pacar?” kamu bertanya kemudian kembali menatap mataku dalam. Kekasihku itu, hanya kamu. Matamu, bibirmu, senyummu.

“Iya, katanya anak Budibakti juga! Terus dia nunggu disini, mau dijemput disini juga kan?” Dinda tersenyum lebar. “Wah banget deh pasti cowo itu, sampe bisa bikin Citra luluh,” lanjutnya kemudian. Aku hanya bisa menunduk. Entah mengapa.

“Pasti cowo itu beruntung banget ya,” kalimatmu membuatku kembali mendongak. Senyummu masih disana. “seberuntung aku...” Tiba-tiba seperti ada yang membuncah didalam sini. Didalam hati. Kemudian tanganmu terangkat, mengusap pelan rambut Dinda. Kedua tanganku mengepal kencang dibawah meja, kemudian saling mencakar satu sama lainnya.

“Kalian kalo mau duluan juga ngga papa kok, aku nunggu disini sendiri aja,” aku melontarkan senyum paling manis yang bisa kubuat. “jangan sampe, gue ngerusak jam date kalian...” susah payah aku melanjutkan kalimat ketika Dinda kembali mengecup pelan pipimu. Aku menelan rasa sesak yang tertinggal di tenggorokan.

“Filmnya dimulai bentar lagi, yang,” kamu mencolek Dinda pelan. Aku pura-pura buta, mencoba mencari benda lain yang bisa mengalihkan pemikiranku dari niat untuk mencakar Dinda.

“Yakin lo mau nunggu sendirian disini?” Dinda menatapku ragu. “Emang dia mau dateng jam berapa?”

“Harusnya sih udah dateng Din, tapi kayaknya dia ada janji sama orang lain deh,” aku tertawa. Miris. “gue balik kekosan aja deh, paling ntar dia kekosan gue,” jelasku kemudian. Senyummu terukir kembali, membuatku lupa cara bernafas.

“Yaudah, kita pergi ya...” Dinda beranjak dari tempat duduknya. Aku menatap gerakan bibirmu. Kamu memintaku menunggu. “Daaah Citra!” Dinda melambaikan tangan kemudian bergelayut dilenganmu. Aku berusaha keras menahan emosi yang membludak didalam, hampir meledak dari tenggorokan. Kemudian tanganmu merangkul pinggang Dinda, lalu mengecup keningnya. Tanpa sadar aku merasa ada dingin yang menyelimuti seluruh tubuhku. Atau panas? Entah apapun itu.

Entah berapa lama aku mampu bertahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar