Kamis, 20 Oktober 2011

Mimpi - Gadis Hujan

what a miracle! Sempet mikir ngga akan bisa ikutan proyek @nulisbuku sama sekali, ternyata berhasil ikutan meski cuma tiga hari aja :) dan entah bagaimana, tulisan ini kok malah ga nyambung sama tema ya? ya sudah lah check this out, cerpen ketiga dengan sudut pandang yang jauh berbeda dari dua cerpen sebelumnya. hehehe. lagi, kritik sangat diterima tetapi saran lebih ditampung ;)

MIMPI
gadis hujan
Jika matahari selama ini sudah menggigit, siang ini terasa lebih menjepit. Terik cahayanya membuat daerah disekitar kampus terasa lengang. Tanpa menghiraukan cuaca, Citra asyik bercokol dengan tumpukan kertas dihadapannya. Ratusan lembar kertas penuh tulisan kini sedang diurus oleh lelaki berambut gondrong berkulit cokelat matang.
“Mas Jok, satu dijilid pake cover warna biru ya, dua lagi putih aja,” Citra sibuk mengingatkan. Lelaki didepannya hanya menoleh sebentar, melempar senyum singkat kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya. “Halo, yang?” ia sibuk menjawab ponsel yang tiba-tiba berdering. “Aku di fotokopi depan kampus, kamu dimana? Ya udah kesini aja, ntar kita makan siang bareng ya. Dah!” Citra mengakhiri pembicaraan, kemudian memilih untuk duduk di deretan kursi yang kosong melompong.
“Hey,” Citra tersentak ketika ada sepasang tangan yang menyentuh kepala dan bahunya lembut dari arah belakang. Dhika. Senyumnya lantas terkembang, kemudian menarik tangan lelaki itu agar duduk disebelahnya. “bahan skripsi?” nada si lelaki bertanya sambil menunjuk kearah kertas yang dipegang Mas Jok, tukang fotokopi langganan mereka. Citra lantas mengangguk sambil tersenyum lebar.
“Bu Andin udah setuju, tinggal sidang aja ini...” Dhika ikut tersenyum melihat wajah gadis dihadapannya cerah. “Aduh, ngga sabar pengen pake toga!” lanjutnya kemudian. Matanya mengawang. “Nanti mau minta ibu nemenin nyari kebaya ah, buat wisuda! Ngga mau pake kebaya yang biasa, ini kan momen penting!” senyum lebar terukir manis di wajah Citra.
“Kamu mau nyari kebaya?” potong Dhika, yang dibalas dengan anggukan kepala Citra. “Hmm, ibu aku juga mau ikut beli kebaya deh kayaknya...” kalimat Dhika terputus di udara. Kening Citra lantas berkerut bingung.
“Ibu kamu mau beli kebaya baru?”
“Bukan, katanya sih ibu mau beli kebaya samaan dari sekarang, buat nikahan kita nanti...” Dhika bergerak canggung ketika melihat ekspresi kaget terpancar dari wajah Citra. “Aku udah nabung buat beliin ibu kita kebaya samaan yang, sedikit demi sedikit buat ngurangin biaya nanti, boleh kan?” mata mereka beradu, kemudian Dhika menyadari ada sesuatu yang keliru. “Kamu marah?” tanyanya kemudian.
“Ngga kok, aku ngga marah...” Citra menunduk ragu. Menatap ujung sepatunya yang berhias pita berwarna hitam dan kelabu. “Yang, kamu inget kan? Dulu aku pernah dapet beasiswa S1 ke Australia?” Citra kembali menatap lelaki dihadapannya yang kini tengah mengangguk bingung. Mungkin mempertanyakan kemana arah pembicaraan mereka, dari kebaya menjadi beasiswa. “Sekitar dua bulan yang lalu aku nyoba ikut tes beasiswa ke Jerman yang, dan aku lulus seleksi pertama,” suara Citra sedikit meninggi, bangga akan dirinya sendiri. Mata lelaki dihadapannya ikut berbinar bangga. “dan aku berencana untuk ikut seleksi kedua, sekitar bulan depan...” lanjutnya kemudian. Keduanya terdiam sejenak. Merenungi makna kalimat tersebut.
“Kamu berniat nyoba doang?”
“Nyoba doang sih, tapi aku mau berusaha maksimal. Pol pol-an deh, kasian sama orang yang udah ikut dari awal terus gagal gara-gara aku cuma nyoba...”
“Bukannya butuh pengalaman kerja ya?”
“Aku sempet ngajar di bimbingan belajar dari awal kuliah sampe semester lima kan? Katanya sih itu cukup. Lagipula aku sempet magang di kantor papa juga,”
“Kalau kamu berhasil, lantas kamu disana sama siapa?”
“Ada kelompok mahasiswa mahasiswi Indonesia kok disana, jadi aman,”
“Biaya lain-lainnya?”
“Aku kan ada tabungan, Dhika. Aku juga sempet cerita sama tante Desti, katanya kalau berhasil dia mau ngebantuin aku,”
“Ke Jerman?” nada Dhika menciut.
“Iya.” Citra bahkan tak mampu menatap wajah Dhika.
“Kenapa ngga di Indonesia?” Dhika menggenggam tangan Citra lembut. “Jadi kamu mau kita nikah nanti terus kepisah dulu, gitu?” Citra mendongak, langsung menatap mata Dhika sesaat setelah kalimat terakhirnya terucap.
“Apa ngga sebaiknya... ditunda dulu semua rencananya?” tanya Citra pelan. Kini ia benar-benar tidak mengerti ekspresi yang muncul di wajah Dhika.
“Maksud kamu?”
“Iya, rencana beli kebaya kembaran untuk ibu kita, atau batik yang sama untuk ayah, tunda dulu aja... Kita pikirin dulu masak-masak,” Citra membungkam kalimat Dhika. “Tabungan kamu, simpen dulu aja... Ibu ngga perlu dibeliin kebaya dulu,”
“Terus hubungan kita?” Dhika memotong pembicaraan. Citra tersentak, ini kali pertama ia mendengar seorang Dhika berbicara dengan nada yang cukup tinggi. Ia kembali menatap lantai, kemudian berusaha melanjutkan pembicaraan.
“Aku bener-bener mau mempertahankan hubungan kita. Lagipula, seharusnya ini ngga ada hubungannya sama hubungan kita. Aku sayang kamu, tapi aku ngga mau nelen mimpi aku gitu aja. Kamu tau kan betapa excited aku sama beasiswa keluar negeri? Udah lima tahun lebih kamu ngejalin hubungan sama aku, aku yakin kamu pasti tau sebesar apa keinginan aku untuk ngambil beasiswa ini...”
“Jadi kamu bener-bener udah nyusun plan dari dulu tanpa ngomongin sedikitpun sama aku?”
“Aku kan udah pernah ngebahas, tapi kamu selalu ngubah arah pembicaraan...” Citra menghela nafas berat. “Tolong Dhika, jangan ngelarang aku buat ngeraih mimpi aku yang satu ini,” kalimat Citra menggantung. Tiba-tiba otaknya kosong, blank. “Kamu tau ngga gimana bahagianya aku sama kehidupan aku ini? Sebentar lagi lulus strata satu, punya pacar se-amazing kamu, dukungan penuh dari keluarga aku, dan ternyata mimpi aku untuk kuliah ke negara orang mulai ada jalannya!” rona berapi-api jelas terpapar dari wajah manis Citra.
“Kenapa kamu ngga mau ngelanjutin di Indonesia aja sih?” Dhika kembali membahas pertanyaannya yang belum sempat terjawab. “Pendidikan disini juga ngga kalah berkualitas kok. Apalagi universitas negerinya. Iya kan?” lanjutnya. “Kalau kamu ambil kuliah disini, kamu ngga perlu repot mikirin biayanya. Aku bisa ngebantuin juga kok,”
“Bukan soal kualitas, Dhika. Apalagi biaya,” Citra menyela. “Kamu tau kan aku tipe orang yang suka mencoba hal-hal baru?” Citra menatap mata Dhika, berharap lelaki yang ia cintai itu mau mengerti. “Kalau aku bisa dapetin beasiswanya, aku bakalan nyoba hidup di negara orang! Ngerasain jadi bagian dari kehidupan mereka, jadi bagian dari mereka, aku mau nyoba itu semua!” Citra mengemukakan pemikirannya segamblang mungkin.
“Kamu bener-bener ngga mikirin aku?” Dhika memelas, menatap Citra dengan wajah pias. “Kamu ngga ngebayangin gimana jadinya aku ditinggal sama kamu selama kurun waktu dua tahun? Ngga mungkin kan aku bolak-balik Indonesia-Jerman? Dan kamu juga ngga mungkin ngelakuin itu, iya kan?”
“Kan ada internet. Ada banyak media, Dhika. Email, skype, messenger sekarang udah ada banyak tipe,”
“Kamu yakin kamu kuat dua tahun berhubungan sama aku hanya lewat layar yang ngga lebih dari 14 inchi?” Dhika kembali menyela. Tatapannya, campur aduk. Marah, sedih, kesal, semua ditumpuk dan dibumbui penat dari gerahnya kota Jakarta.
“Aku yakin, Dhika. Keputusan aku udah bulat.” Citra melepaskan genggaman tangan Dhika yang kini membuat tangannya berkeringat. “Hubungan kita, aku masih ingin perjuangkan. Ngga ada kata putus atau ambil jarak, atau apapun itu. Ini mimpiku, dan kamu juga bagian dari semua itu.” Citra berusaha mengakhiri pembicaraan, kemudian mengecup pipi Dhika pelan.
Sayup terdengar suara mesin fotokopi dan mesin jilid berdengung memecah keheningan.
ps : mohon bantuan doa, semoga tulisan saya ada yang ikut tercetak dalam proyeknya ya *amin*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar