Kamis, 20 Oktober 2011

Remember you - gadis hujan

lagi, hari ini berhasil ikutan proyek @nulisbuku. let's pray, tulisan gue ada yang masuk salah satu dari buku yang akan mereka terbitin *amin*

Remember you

Gadis Hujan

“Citra!” aku menoleh. Dion terlihat tergopoh melangkah kearahku, terlihat sedikit bosan dengan tas selempang merah bata. Aku memicingkan mata, berharap kali ini ada topik lain yang ia bawa untuk dibicarakan. “Diky nyariin lo tau,” lanjutnya setelah berhasil duduk disebelahku. Aku mendesah malas. “lo ngapain dia sih? Orangnya sampe mati-matian nyari lo gini. Salah masang pelet ya, Cit?” dahiku mengernyit.

“Mana bahan tugas kelompok yang gue minta?” aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Jujur, aku bosan membahas masalah yang tengah ia angkat ke permukaan.

Mungkin bukan bosan.

“Nih,” Dion menyodorkan setumpuk kertas yang masih terasa hangat, mungkin baru selesai di fotocopy. “lo ngapain ganti nomor hape sih? Provider butut ya?”

“Ampun deh, Yon. Nanya mulu kerjaan lo,”

“Ya iyalah, gue penasaran tau.” Dion memotong. “Si Diky ada salah sama lo ya? Dia ngapain lo sih? Orangnya ngotot banget pengen ketemu sama lo, tau.” Aku pura-pura menyibukkan diri dengan bahan-bahan yang ada dihadapanku. Jelas terasa, Dion belum akan mengakhiri rasa ingin tahunya. “Diky itu mantannya Dinda kan? Sekarang lo juga udah ngga pernah keliatan sama Dinda lagi. Ada apaan sih?” aku dapat merasakan tatapan penasaran Dion menusuk dari sisi kiri, tapi aku berusaha keras untuk tidak menghiraukan.

Tidak, setelah semua sudah kutempuh sampai sejauh ini.

xxx

“Kamu kemana aja sih?” saat itu malam sudah merayap, dengan nyamuk mulai aktif berkeliaran. Aku yakin kamu menyadari rasa rindu yang terpancar dari nada suaraku. Kamu bahkan tidak menatapku, malah sibuk menepuk lenganku yang dihinggapi nyamuk kelaparan. Lelah, aku meraih telapak tanganmu yang kosong kemudian menatap matamu dalam.

“Kamu yakin mau aku jujur?” aku tersentak. Kini malah tanganku yang sudah ada didalam genggamanmu. “Dinda minta tolong sama aku untuk nganterin dia sama ibunya belanja,” kamu melanjutkan kalimat tanpa menyadari ada luka baru dalam hati. Aku menatap lantai, berusaha mengerti. Tetapi ada sakit baru yang menggelayut disekujur tubuh.

“Tapi kemaren kan ulang tahun aku,” suaraku hilang ditengah kalimat. Setengah sadar aku menyadari kedua tanganmu merayap naik ke bahu. “kamu bener-bener ngga dateng loh, Diky. Kamu tau kan, siapa orang yang paling aku butuhin? Yang bener-bener aku mau? Aku mau kamu ada, ngga usah bawa kado juga ngga papa kok. Tapi apa?” pelan-pelan kesal kembali naik ke ubun-ubun ketika mengingat kejadian kemarin. Memang tidak ada acara spesial, tetapi aku telah menyiapkan makanan dikamar kos, berharap lelaki yang paling disayangi datang dan menghabiskan hari tanpa spasi.

Jangankan makan bersama, sms pun tidak kunjung datang.

“Jangan marah dulu,” kamu berusaha menyela. “tadinya aku mau jadi orang pertama yang ngucapin, tapi aku pikir itu udah biasa. Jadi aku mau kekosan kamu aja. Ngga taunya, Dinda mau ditemenin belanja. Dan, aku rasa kamu tau dia belanja kayak gimana, iya kan? Akhirnya aku mau ngucapin terakhir, tapi ngga sengaja ketiduran...” bahkan aku enggan menatap matamu meskipun ada rasa cukup kuat yang menyuruhku segera memelukmu. “Tolong banget berhenti marah sama aku. Aku ngga kuat didiemin sama kamu,” kecupan kecil mendarat diatas dahi. Ternyata merambat ke pipi. Lalu berhenti sebentar ke ujung hidung. Kemudian...

“Diky, cukup.” Aku mendorong bahunya pelan kemudian tersentak. Entah darimana ada kekuatan datang, mungkin rasa marah sudah menumpuk sampai luber keseluruh bagian. “Aku ngga bisa ngelanjutin hubungan ini lagi,” kini otakku terbagi menjadi dua bagian. Satu sisi aku seperti merutuki diri, sisi lain seolah mendukung mulut agar tetap membela ego. “Ini baru moment ulang tahun aku. What about tomorrow? Akan ada ultah kamu, natal, tahun baru dan masih banyak lagi. Lantas? Aku ngga akan dapetin waktu dari kamu. Cuma Dinda. Iya kan?” aku menatap matamu, dan terlihat ragu tergores disana. “Apa kamu mau milih aku?” kini kamu bahkan tak mau menatapku.

“Aku bukan ngga mau milih kamu, tapi aku belum bisa mutusin Dinda. Aku belum punya alasan cukup,”

“Jadi aku bukan alasan kan?” aku menyadari mataku terasa berkaca-kaca. Kamu memilih untuk tetap menunduk. “Aku ngga bisa terus jadi nomor dua. Dan aku milih untuk mundur,” suaraku terdengar kokoh, tetapi tekadku mengendur. Perlahan, kedua tanganmu mundur dari bahu. Detik kemudian, ada rasa ingin menarik semua kata-kataku yang terlontar kemudian menarikmu kedalam pelukan.

“Aku,”

It’s over, Diky. We’re done.” Aku terhenyak, jelas bukan ini yang ingin kuucapkan. Tetapi bagaimana bisa kalimat yang keluar dari mulutku sendiri tidak kuakui keluar dari hati? Aku berpaling dari bayanganmu, memilih untuk masuk kamar dan mengunci pintu dari dalam. Bahkan setelah aku berada didalam, kamu tidak berusaha mengetuk dan hanya berdiri diam.

Dan dalam diam juga, aku menelan rindu banyak-banyak, yang tidak terungkap.

xxx

“Jangan bengong woy,” aku merespon tepukan halus di bahu kiri. Dion menatap mataku bingung. “Gue nanya soal Diky, lo mingkem. Giliran gue diem, lo bengong. Tugas kelompok gimana nih?” tanyanya sambil menunjuk lembaran-lembaran penuh tabel dihadapan. Aku membenahi sebagian, kemudian membaginya menjadi dua.

“Lo urus yang itu deh, gue yang ini,” setengah sadar aku menunjuk salah satu tumpukan kertas. Aku merindukannya. Lelaki yang berhasil memecah hatiku menjadi dua.

“Yakin nih segini doang? Lo mau ngerjain setumpuk gitu?” suara Dion mengawang. Entah bagaimana hingga sebagian dari suaranya terdengar seperti suara Diky. Aku menelan liur sambil mengangguk, berharap rasa rindu yang tercekat di tenggorokan bisa turun ke perut kemudian hilang selamanya. “Hehe asik, ya udah gue cabut ya! Nanti gue kabarin lagi deh nih tugas!” Dion melambai kemudian menghilang ditengah keramaian orang. Aku mengkerut menatap bangku kosong yang baru saja ditinggal Dion.

Baru saja aku menyadari bahwa ini bangku yang sama dengan bangku yang dulu ditempati Diky.

Ponselku berdering, tanda pesan masuk berbunyi. Linglung, aku bukan membuka pesan yang baru masuk dan justru membuka saved messages. Ada sekitar 20 pesan darimu yang masih tersimpan.

‘makasih. Makasih banget udah ngasih ijin untuk aku tinggal di hati kamu.’

morning, sunshine. How was your sleep? Pasti mimpiin aku, iya kan? Hehe’

Nafasku tertahan di kerongkongan. Baru kali ini aku merasa membaca pesan masuk menjadi hal paling menyakitkan yang bisa dilakukan. Tanpa sadar, aku justru terus membaca, membiarkan nyeri di ulu hati yang semakin menyiksa.

‘hey my little fairy, dont ever dare to run from my life, please?

‘gombal apaan tuh? Aku sih ga mau neko-neko. Intinya, kalau kamu jadi prangko, aku ga mau jadi lemnya. Aku mau jadi gambar yang ada didalam kamu. Jadi bagian dari kamu.’

‘wah! Awas aja klo nanti kita ketemu. Kamu abis aku makan! Rawr! Hehe’

‘kamu itu sebagian dari jiwa aku, tau ga sih?!’

let me know if I could make your life happier...’

‘I miss you a lot! Your eyes, your nose, your lips, your everything!’

Maaf ya, aku lagi sama Dinda. Dia minta dibantuin nyari kado, katanya buat kamu. Kan kamu ulang tahun dua hari lagi :)’

Jemariku bergerak ragu. Entah siapa yang menggerakkan mereka hingga kini tampilan ‘Delete all?’ terpampang di layar utama.

Entah kemana setengah nyawaku melayang.

ps : kali ini saya berhasil menulis sebuah cerpen hanya dalam waktu dua jam kurang! what a miracle it is! *pekik girang*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar