Kamis, 18 Juni 2015

Blacklisted, Lotte Shopping Avenue



Another day to having fun! Raiyt naw I’m trying to write a review about one of good restaurant located in Jakarta. At first, me and my boyfie don’t have any plan to eat here (we were just walking around without any destination), but then we are curious enough to have a meal here.


Located at the first floor of Lotte Shopping Avenue, you will see this place as a good place to hang out with your best friends or spend time alone with a cup of coffee. But when I was there, this place is a bit full with people.
Blacklisted
While we were here, we tried some good food.

  • BAD (Bacon Absolutely Delicious) Burger (around 75.000 IDR)

Well yeah, this is my first time trying a black burger. This burger contains an Australian beef patty, beef bacon streaks, bacon jam, grilled apple, lettuce, melted cheese and served along with nachos. Honestly, I don’t really think that burger will be match with nachos. But I do adore the taste that comes from the bacon, apple grilled and its sauce. This is a good main meal to have here!

  • Norwegian Salmon (around 98.000 IDR)


Since I have a very good relationship with salmon, I do always adore the taste of this kind of fish no matter what *ehe*. Blacklisted knows well how to present a luxurious salmon with lemon butter sauce, mashed potato and also sautéed vegetables. Trust me, you will love this one.

  •  French Chocolate Marshmallow (around 42.000 IDR)

My favorite!
Actually, I am craving for some sweet stuff that time. When I read there is a French Chocolate served with Marshmallow Brulee, right that time I believe this menu was belong to me *lebay*. Honestly, this drink will taste too sweet for you who doesn’t like sweetness that much, but not for me. It tastes very delicious when you let the marshmallow melted inside your tongue with the chocolate <3




Actually, they also have manual brewed coffee here, from Aeropress until Cold Drip. But I have no time to taste them all. Perhaps next time, I will come here again and having a day with their coffee with myself only. Since I stayed at Jakarta, I have to make sure that I can face the traffic and the route to this place that’s a bit confusing. Well, I think I need a kind of personal car which has a small size but excellence performance, is it? And somehow, the car that comes into my mind is Toyota Agya.

Cool, isn't it?
Besides, this car has a big space for luggage and also a pretty exterior design, match with my character who loves to be stylist everytime *HA!*


For sure, I have to set the time!
(price here exclude 5% Service Tax and 10% PB1)


Blacklisted
Lotte Shopping Avenue,
1st floor Unit 9
South Jakarta

Kamis, 07 Mei 2015

Holiday trip, JOGJAKARTA!

HELLO!
Long time no see, kangennya ngga ketulungan deh buat nulis disini. And guess what? Now I'm going to share to you my last week trip to Jogjakarta!
Hohoho.

It is me, my big brother Bang Monce, my best friend Checong and her fiancee (aminin ya, biar mereka bisa cepet bagi undangan) Erwin. Sebenernya sih, ini bukan kali pertama gue jalan-jalan ke Jogja, tapi gue selalu ngerasa kalau Jogja itu punya cerita cantik untuk dibagi :)

First, we were go to Sri Gethuk, di Gunung Kidul. Disini kita bisa menyusuri sungai dengan rakit atau langsung rafting untuk jalan (re: berenang) ke air terjunnya. This place is seriously amazing. Pesan gue, kalau jalan kesini kudu basah total! Mending bawa baju ganti deh, biar ngga nanggung main airnya. Dan jangan lupa bawa kamera anti air atau pelindung hape buat narsis. 
Flare disitu bukan editan loh, asli!


Then we visit Pantai Indrayanti. Awalnya pengen ke Pantai Sundak, tapi wisata sebelumnya udah kesana, jadi kita nyobain dateng ke pantai yang satu ini. Lebih ramai dari pantai2 lainnya di sepanjang jalan, but I prefer Pantai Sundak sih. Lebih kece. But Indrayanti is also perfect *halah*. Pantai Indrayanti kayaknya agak lebih landai, 'cause when we were there, kebetulan banget ada 2 orang yang hanyut ke tengah laut :| Ngga mau mikir ke arah mistis sih, tapi itu emang agak... menyeramkan. Berakhir dengan satu orang selamat sementara yang satu lagi ngga bisa diselamatkan. A bit horror, it is. Foto di Indrayanti yang gue share disini adalah sebelum insiden itu :|
Mirip banget sama salah satu spot di Bali ya?


Bosen mantai, kita naik ke atas, tepatnya Kebun Buah Mangunan. The view here is extremely amazing, cocok banget untuk kalian yang suka ngeliatin betapa ijo-nya Indonesia atau buat kalian yang pengen punya background kece untuk narsis. Saran sih, jangan pakai sendal biasa, khawatir licin. Dan sediakan kamera dengan batere full buat narsis. Kalau beruntung dan cuaca bagus, coba dateng kesini pagi-pagi, dan kamu akan berhasil dapet sunrise dan ngerasa lagi berdiri diatas awan. Sayangnya kita kesini pas udah agak sore (well, blame on our 'minim' time). But still, selama matahari masih ada kayaknya view disini ngga akan pernah mengecewakan :)
Matanya ilang semua :))


Beralih dari Gunung Kidul, gue dan rombongan kembali ke Kota. Disini, kita stay di salah satu penginapan di daerah Sleman, Jogjakarta. Nama tempatnya Tiga Lima Home Stay.

Pyjamas parteh!

 We were having so much fun! Nongkrong di salah satu kafe es krim di daerah penginapan, menyusuri jalan Malioboro (well, shopping is the must thing to do. Raiyt?), makan nasi goreng babi, bahkan sempet muterin satu gang Sarkem (tempat prostitusi yang ada di belakang wilayah Malioboro) untuk sekedar ngeliat-liat yang berakhir dengan dipelototin balik sama mba2-nya dan dikira salah jalan sama pelanggan2 disana :p

Selama muterin jalan di Jogja, kita bener2 bergantung sama google map (walaupun Checong sama Erwin udah jauh lebih sering ke Jogja, tapi tetep aja kita butuh panduan jalan), dan gue shock ternyata banyak wilayah Jogja yang wujudnya berupa gang2 kecil dan jalanan nyempil. Google map sering banget ngasih alternatif jalan kecil dan gang yang sering bikin degdegan, antara ada ujungnya atau ngga -_- seriously I wish I could have Agya keluaran Toyota at this time, ukuran mobilnya yang mungil pasti cocok banget untuk dibawa muter-muter wilayah Jogja. Belom lagi bensinnya yang irit, duh mupeng banget untuk manusia2 sekelas gue yang kantongnya ngga tebel :))

In short, gue ngga akan pernah bosen sama Jogja. Besides of its mystique aura, Jogja bener2 udah jadi tempat wisata gokil yang ngga bikin kantong terlalu terkuras :))
Catch you on my next trip!

Jumat, 16 Januari 2015

What is the right thing to do?

Just co-pas and little edit, from a stranger and perhaps a friend wanna be.

What is "right"?
Owning a slave isnt right today,
But 1000 years ago, it was rightful.
Even more years, if you were a king, you could just fuck a random woman, rape her and all, and you would have her as your wife - this, according to Bible, was the right thing to do.
Now? I dont think so.
In Indonesia, being a Muslim is a right thing to do - or at least being religious.
Rewind a thousand years ago, being Hindu was the right thing to do. Even more years, being an animist was the right thing to do.
Now, succeeding in life economically is the right thing to do. As well as being a doctor or an engineer.
Centuries ago, being a mayor was the right thing to do, as well as being a good wife who stayed her whole life in a kitchen.
Not even a century ago, smoking was the right thing to do when you were sick.
Now, by not smoking, is the right thing to do when you are sick.
Now, war isnt the right thing to do to solve a big problem.
Centuries ago, war is the right thing to do to solve a big problem.
Lets stop seeing it from time to time,
Lets start seeing it from place to place.
In Indonesia, being virgin until marriage is the right thing to do.
In Russia, not being virgin after 18yo is the right thing to do.
In Indonesia, not criticizing religions is the right thing to do.
In Europe, criticizing religions is the right thing to do.
In Sweden, a rapist treated with psychological and social treatment is the right thing.
In Iran, a rapist treated with stones to the head until death is the right thing.
Whether you see it throughout the time or place,
Whether you see it from my point of view or else,
I dont think we can know the truly "right".
Or maybe, just maybe,
Rightness itself doesnt exist,
And we are deluding ourselves, the rightness should exist.
In conclusion,
There is no right path,
There is only a path you choose.

Credit to: Mario.

Senin, 22 Desember 2014

Celoteh daun teh di pagi hari

Istirahat makan siang, jemari saya menarikan ritual pemanggil hujan. Satu-dua ketukan, justru menemukan satu tulisan lama milik seorang Shinta yang lama.
Mungkin menarik untuk kalian baca, mungkin tidak. Tetapi ini rumah saya, dan saya punya kapasitas penuh untuk meletakkan sampah apapun didalamnya.


Celoteh daun teh di pagi hari
Menggenggam embun di pangkuan, tatapannya menerawang
Matahari tersenyum lebar, tidakkah kamu ingin mengecupnya ringan?
Jangan tunggu hari esok, rupanya semu
Sepetik lengah dan kita hanya akan lebur menjadi uap dengan udara

Celoteh daun teh di pagi hari
Menantang terik di hadapan dunia, angannya terbahak
Matahari mengerling penuh makna, tidakkah kamu ingin merengkuhnya dalam?
Jangan tunggu hari esok, rupanya semu
Sebelum malam menjadi preman dan mencuri harap yang tertumpuk di permukaan

Celoteh daun teh di pagi hari
Warnanya kian memudar, sementara aromanya telah menyengat pekat
"Waktuku menipuku," bisingnya pilu
Dan kini saatku menyelinap pergi, pagi-pagi yang kulalui
Mengapa kamu hanya menunggu hari esok, yang rupanya semu?


Cipanas, Juli 2013

Gadis Hujan.


Ps: saya bahagia. Ada apresiasi dari tulisan saya, yang lamat tersendat dan terlihat tidak mungkin memikat. Setidaknya ada peminat. Terima kasih, kamu :)

Jumat, 21 November 2014

Apakah kamu baik-baik saja?

It has been a very long time. How are you? Are you alright? Did anything hurt you anywhere? What is just going on while I am not around?

Saya bertandang selayaknya tamu di dalam rumah sendiri. Ruah. Kedinginan, Bersin-bersin tidak karuan. Memetakan mimpi masa lalu yang tidak lagi memiliki rupa. Saya datang hanya ingin sedikit bersih-bersih. Mengelap kaca, menyapu lantai. Menghapus debu-debu yang sudah menyisakan karat pada sisi-sisi kehidupan.
Apakah kamu baik-baik saja?

Hidup saya mengkeret. Mimpi saya luar biasa hitam. Hari saya kelabu, walau sekarang-sekarang ini ada banyak awan putih menaungi. Menjadi dari abu-abu menjadi abu-putih. Cita-cita saya meredup, realita saya kian menyiksa. Waktu-waktu melangkah maju tanpa mampu dirasa. Umur semakin bergulir tanpa ada daya untuk tidak menyakiti sesiapa, tetapi merusak segala.
Apakah kamu baik-baik saja?

Adakah diantara kita; abu imaji dan harapan; baik-baik saja?


Kepada Langit Sendu,
Gadis yang menunggu hujan.

Selasa, 10 Juni 2014

What worth is?

Hari ini panjang dan melelahkan, sejujurnya. Dengan status sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta, saya diwajibkan masuk kerja sebelum jam delapan, dan barusan *dengan terpaksa* saya harus mengambil lembur sampai baru menginjakkan kaki di rumah jam sepuluh malam.
Life. is. hard. enough. LOL

Meski kemarin malam saya kurang tidur, tadi ambil lembur sampai telat makan kemudian maag, tetapi saya berhasil menemukan celah waktu untuk menulis lagi, disini. Lagi, rasa rindu mengikat yang membuat saya kembali menulis di blog. Meskipun *lagi-lagi* tidak tahu apa yang mau ditulis. Meskipun rasanya saya mau nyopot badan terlebih dahulu, agar lelah-nya hilang.
But I feel like this is worth to do. So I choose to do this, writing.

Talk about worth or not, I wanna ask you *anyone, yang ngebaca postingan ini* something.

Menurut kalian, apakah keputusan yang sudah kalian ambil dan tengah kalian jalani saat ini adalah keputusan yang pantas untuk dipertahankan?

Mungkin efek malam, hujan dan rasa lelah membuat saya -sekali lagi, kembali- menulis postingan yang cukup, galau. Tentang kehidupan.

Saya akui, saya tengah merasa hilang jejak. Menulis bukan lagi menjadi sebuah cita-cita namun hanya hobi yang sesekali harus saya lampiaskan. Musik bukan lagi menjadi harapan untuk digapai tetapi kebutuhan yang harus tetap dijalankan. Seperti manusia butuh nafas dan tidur, atau seorang hiperseks yang butuh hubungan intim. Saya butuh menulis, saya butuh musik.
Tetapi saya justru menjadi seorang musafir tersesat dalam construction company yang tengah berusaha untuk berkembang, ikut mengais rejeki ketika saya bahkan tidak mengerti apa yang terjadi.

Stress? Jangan tanya. Saya hampir gila, dalam makna yang sebenarnya. Pelarian saya tidak ada, hilang. Saya tidak puas hanya membaca, saya butuh menulis tetapi waktu seakan pergi berlarian. Tidak cukup hanya mendengarkan musik, saya butuh bermain tetapi jemari saya kaku; terlalu lama memegang keyboard dengan jenis yang berbeda, yang tidak melahirkan nada.

But, guess what, time heals. Saya mulai merasa ini semua menjadi habit. Saya menjadi seorang yang pendiam, acuh tidak acuh, Menjalankan hari tanpa target yang saya inginkan. Begitu saja, sudah. Pergi pagi pulang petang untuk mengumpulkan pundi-pundi yang masih juga tidak terkumpul, karena banyak sekali yang harus ditanggung selain diri sendiri.

But -again-, I feel like it is worth. Pengalaman ini. Pertahanan diri model seperti ini. Didikan yang saya terima dari manusia-manusia kantor dan kantor itu sendiri. Kelelahan dan muak yang menumpuk ini. Jangan tanya -please do not ask- apa yang membuat hal ini worth. Saya sendiri bingung, tetapi menurut saya, this strengthen my mental. Kalau kata lagu, what doesn't kill you makes you stronger. Dan saya tidak menyesal. Saya merasa keputusan yang saya ambil untuk tenggelam disini, adalah pantas untuk dipertahankan. Meskipun ada banyak kata "tetapi" mengekor dibelakang.

Bagaimana dengan keputusan yang tengah kalian ambil? Pertanyaannya hanya satu; is it worth?

Entah. Mungkin otak saya memang benar sudah tumpul. Setidaknya saya menguapkan sedikit kepul dari kepala saya, dengan menulis saat ini :)

Selasa, 26 November 2013

Aku si Penggila Rasa

Jangan kata kamu mengerti tentang rasa, aku lebih gila
Karena kamu.

Ketika segaris senyum seharga satu tarikan nafas
Saat sekejap tatap berarti menggenggam sebuah harap
Dimana menanti hadir lenyapkan detik-detik nyawa
Kemudian tertolak jadikan tiap tawa hilang lenyap
Kamu tahu apa? Tetiada, hanya apa-apa yang fana
Ini rasa yang tidak akan kamu mengerti tanpa dirasa.

Tanpa ra-sa.

Jumat, 01 November 2013

Reaching Older

Yesterday was my birthday. Yeap. Dan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini saya tidak membuat resolusi. Saya menyerah. Kalah.

Atau lebih tepat jika disebut pasrah, dengan tingkat penyerahan level tidak terhingga. Terutama mengenai mimpi.

Saya ingat jelas, ketika ulangtahun yang ke-5. Dirayakan di te-ka, guru saya bertanya setelah meniup lilin ultah,"nanti besar, mau jadi apa?" Spontan saya menjawab, "dokter.". Pemikiran standar anak umur kisaran. Lulus SD, saya berkata sama orangtua saya kalau saya ingin menjadi pianis. Ketika SMA, saya berharap menjadi seorang psikolog dengan sambilan menjadi seorang penulis. Bahkan ketika kuliah, saya masih sempat bermimpi menjadi seorang presenter.

Sekarang?

Saya jadi kuli bagi kehidupan. Merintis kehidupan yang diinginkan orangtua, yang dituntut keluarga ditambah situasi saya sebagai anak pertama. Menyadari bahwa mimpi-mimpi itu indah tetapi tidak cukup menghasilkan uang; hal yang dianggap menaikkan martabat diri ditengah kota metropolitan. Mengibarkan bendera putih sepenuhnya. Mimpi saya hilang, lenyap.

Make a wish? Di usia yang mencetak angka favorit saya, saya hilang arah; ditelan tekanan hidup.

Selamat ulang tahun Semoga suatu hari nanti, kamu bisa kembali bermimpi, diriku sendiri.

But still, sweet things happened when you are having birth-day. Yang agak ngeselin comes from seli; my cutiest sister. But still, that's sweet. Just check her blog : here

gift from bang remon and kakandong che. My only dream that I have : punya rumah pake connecting door sebelahan sama kakandong.

Jumat, 26 Juli 2013

BALI I AM IN HOLIDAY!


Lagi mau cerita panjaaang. I even prepared some pictures for this. Actually, this trip was held about 4 months ago, but it is still worth to share.
Seriously, I am in love with all the ethnic that exsist in Bali. Deeply in love.


 I did forget the story behind this relief. Maybe, about Rama and Shinta? *narsis sebut nama sendiri* Anyone knows?


 Take a look at those statue. Purrrfect. Sekilas, ukurannya terlihat normal. Do you wanna know its real size?

me, mom, sally
 After some trial, my mom’s friend who took this can’t even reach a whole statue in one picture together. Once I saw this statue, it is only one word comes. BIG. But big is beautiful, isn’t it? So it is.

Somehow I wonder, where is this statue lookin’ at? Or who?
Here is still around those location. I think i can jump higher, but none of picture captured it perfectly *PUHA* But this is high enough, I do look like flying, rite?


Awee! The frogs are peeping!
Honestly, they look like frogs who hide behind the wall*laughs* 

I love my sister’s smile in here. Ngga sebanding sama batu-batu tajam yang melatari senyumannya *okesip*
When the sunset comes, we are going to watch Kecak dance. There was full with people! Kecak dance is a story about Rama and Shinta. And Brahmana. And else. I got a paper which have a full story, but I’d lost it already 

She is very pretty, especially her long skirt. Pink! Those kind of ethnic skirt, aweee~
Oiya, baru tahu. Bali isnt only pretty by its beaches but also mountain and all. Dan saya baru tahu kalau Bali ngga cuma punya pantai *blushes*

greenday. LOL
Trust me, it was cold there. Seriously cold. Rain was fall in that time, membuat suhu turun sekian derajat lagi. Wew.
pretty, isn't it?
pura in Bedugul
Bedugul
Aaand, the most famous place at Bali : Tanah Lot! I’ve been here too many times, LOL. So that I took only few captures. And there is no one of my picture, because nobody wants to take it for me T.T so here is my pretty little sister~

And for the last day, me and my family decided to go to Kuta Beach in the early morning, to see sunrise. Or –at least-, jogging bule. But there was no good-looking one passed by. So? We (It is only me and my lil sis, actually) were bored.
moron sista
But still, we were have fun there. I love beach too much, and it makes me feel so much happy. I love Bali, indeed! One day, I will come here again. Soon.


ps : all the pictures here are belong to me. was taken by me. so? nope, I just wanna let you know.. :p

Jumat, 24 Mei 2013

Ketika galau datang lagi

hai! lama tak bersua.
rasanya saya rindu menulis. sangat. dan karena -terimakasih atas datangnya kembali- rasa rindu yang mendesak tersebut, saya kembali melongok kesini. sekedar menulis, sekedar basa-basi. bertemu teman lama, blog.
saya patah arang. kemarin, saya resign dari posisi reporter sebuah televisi swasta yang disiarkan lewat kabel -atau sebut saja tv berbayar LOL- dan hal itu membuat saya semakin bingung harus apa. pusing.
sebelumnya sempat keterima di Gramedia PKG -kalau ngga salah, lupa juga sih singkatannya- sebagai editor, tapi ayah ngga setuju. he said, "editor kan cuma duduk dibelakang meja, ngobrol sama komputer. kalau reporter kan bisa ketemu banyak orang penting!"
then, I tried to make him happy. I took that job, but I failed.
ibarat kata, saya tidak biasa mencari berita, saya biasanya menjadi sumber berita *PUIH* XD
meskipun salary dari posisi reporter jauh lebih besar, tetapi ternyata saya berharap kemarin saya mengambil posisi editor. don't ask me why.
dan sekarang, saya semakin bingung mengenai masa depan. mungkin saya harus kuliah lagi. Magister. dan kemudian bekerja kantoran, just like ordinary people.
Tuhan, saya tidak akan melepaskan passion saya sebagai seorang penulis. entah darimana jiwa seni yang satu ini, yang pasti saya menyukainya. walaupun orang-orang disekeliling tidak begitu ngeh akan tulisan saya.

eniwey! ngga sengaja buka blog lama jamannya sama mantan pas kuliah dulu. and damn, I miss that moment so much. rasanya memang butuh lelaki baru yah? *hihi

penasaran sama blognya? I won't tell you :P that's privacy! saya aja kaget pas ngeliat blog itu sekarang, kinda shocked kalau saya bisa merangkai kalimat romantis. romansa memang bisa membuat manusia menjadi pujangga. yang setuju katakan amen!

Kamis, 22 November 2012

hujan mengendap-endap

saya mau curhat. saya butuh teman curhat.

barusan, hujan mencurangi tindak tanduk yang saya lakukan. padahal semua yang saya lakukan itu untuk dia. pulang kerumah pakai jaket hitam hoodie, pakai maskara non waterproof -agar ada jejak ketika hujan mencuri cium-, dan keluar kosan tepat ketika angin dari awan yang ia tunggangi lewat.

tapi dia ngga datang. dia cuma ngikutin diam-diam dari belakang; tanpa mencoba menghampiri atau menyapa atau bermain bersama. entah, dia tidak punya alasan untuk marah. seharusnya saya yang marah. ketika saya menelan rindu bulat-bulat, dia justru sok jual mahal. menyebalkan.

seharusnya saya yang marah, tetapi saya tidak pernah bisa marah; hujan terlalu memikat untuk dimarahi.

Selasa, 23 Oktober 2012

pendewasaan diri dari segi apa?

Saya galau. saya kalut. setelah sekian lama saya lupa untuk berkutat dengan kemelut -well, beberapa waktu berselang saya benar menyadari bahwa kesibukan bisa bikin kita lupa total sama sesuatu yang sering disebut orang sebagai galau- dan pagi ini saya merasa ada hal yang menggigiti pikiran, perasaan, dan ingatan.


Saya akan -kembali- bertambah tua dalam hitungan beberapa hari lagi.



Kalau mau dikaji ulang, sebenernya bertambah tua itu terjadi di setiap milisekan waktu. setiap kali waktu berhitung maju, maka umur kita juga ikut berputar laju. hanya saja, manusia tidak begitu memperhatikan, karena pertambahannya konstan tanpa perbedaan. sementara manusia membutuhkan perubahan fisik; mungkin muncul uban, atau kerutan, atau penambahan angka pada usia.



Setelah perubahan fisik, maka akan merangkak maju ke perubahan yang sedikit lebih tidak terlihat; hal-hal yang disebut seperti pendewasaan diri. setelah menulis satu kalimat tadi, jemari saya membeku.



PENDEWASAAN DIRI.



Dalam hitungan hari, angka di usia saya akan bertambah banyak satu lagi. dan sejauh ini, saya merasa memasuki kepala dua tidak berarti banyak; saya masih menjadi seorang yang manja -tolong, jangan sebut kata ini sebagai singkatan dari mandi jarang. saya rajin mandi!-, masih bergantung sama orangtua -sementara saya ini anak pertama yang seharusnya menjadi tumpuan banyak pihak-, tidak becus mengambil keputusan, kekanakan, dan segudang karakter lain yang seharusnya sudah saya buang namun masih aktif dalam kelakuan.



Satu sisi, ibunda tercinta sudah mulai aktif bertanya hal-hal konyol, such as : 'jadi pacarmu yang mana?' atau, 'nanti setelah lulus mau lamar kemana?' seringkali juga mengeluarkan komentar membingungkan, seperti 'kalau mau pacaran jangan pulang malem-malem ya,' sementara saya cuma bisa bengong, mungkin menurut beliau minum secangkir kopi bersama skripsi dikategorikan sebagai pacaran.



Hal-hal kecil seperti ini muncul di pagi hari setelah hari sebelumnya saya hanya tidur selama tiga jam -skripsi dan kepergian alm. Tulang Daud benar-benar membuat kedua kelopak mata saya sulit terpejam- seakan membuat alarm di otak saya berdering kencang. it feels so much weird. saya seperti merasa dalam hitungan beberapa hari, usia saya bertambah 10 tahun.



Saya masih suka bermain air. saya masih suka manja 'ngga jelas sama Seli, my cutiest sister. saya masih merasa bahwa adik kecil saya Jojo memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa. Saya belum menjadi apa-apa, tetapi usia mendorong secara paksa agar saya segera menjadi apa. disaat saya merasa tidak -dan sepertinya tidak akan pernah- siap.



Jika saya menyimpulkan bahwa keputusan saya untuk single sementara waktu ini -sampai nanti yang disebut entah kapan- adalah keputusan terbaik agar saya mampu meraih kata pendewasaan diri, hal ini bener ngga ya? toh saya -merasa- belum setua itu untuk berpikir masalah jodoh atau apapun itu. saya masih ingin seneng-seneng tanpa status dulu, sebelum serius...

Selasa, 25 September 2012

Nothing to lose

It has been a looong... time since my last chit chat in here, ya? Dan saya merasa sangat kangen. Pada hakekatnya, saya adalah orang yang suka nulis. Tapi kali ini saya nulis bukan dengan tema yang ada di otak, tapi yang dikasih orang. Karena otak saya lagi ngga bisa mikirin tema. Karena tema lagi musuhan sama otak saya. Halah -_-

Actually, someone told me soal lomba yang diadain oleh @bloggercomp, namanya @eliahutajulu. He just said, "ikutan aja, ka. Nothing to lose lah." Terus saya sadar akan situasi blog saya yang -mungkin kalau dia berbentuk benda nyata- sudah jamuran. Sudah kudisan. Sudah katarak. Wong sudah sekian bulan saya tidak menjenguk, membersihkan ataupun sekedar ngasih kata hi. So here I am, -tentu saja,- nulis. Nothing to lose, bukan?

Gara-gara sedari tadi saya berulang kali menulis nothing to lose, saya jadi ngeh kalau sudah banyak kesempatan yang saya ambil karena kalimat tersebut belakangan ini. Ikutan cast untuk sebuah talkshow, ikutan temen yang mau traktir makan, ikutan sebuah organisasi, ikutan bikin blog, ikutan temen yang lagi suka jualan, dan masih banyak ikutan-ikutan lainnya. Toh, ikut atau tidak, saya tidak akan kehilangan apapun. Paling parah, mungkin saya hanya akan menyia-nyiakan waktu yang saya miliki. Tapi di jaman yang sudah super canggih seperti sekarang ini, saya rasa waktu-pun akan sulit untuk disia-siakan.

 Beberapa bulan yang lalu, saya sibuk memperhatikan bagaimana cara teman saya mengefisiensikan waktu yang ia miliki dengan mengandalkan teknologi yang ada. Melalui smart phone yang dimiliki, ia berhasil mengembangkan bisnis jual-beli baju bola yang ia kelola. Dan marketing yang ia lakukan hanya melalui satu benda mungil tersebut. Rasa penasaran saya memuncak, sampai akhirnya saya memilih untuk mengamati bagaimana ia memanfaatkan teknologi yang ia miliki untuk menyokong usaha kecilnya itu.

Pertama, promosi. Selain menjadikan kaos bola sebagi topik awal ketika ia membuka sebuah pembicaraan, ia -pastinya- juga menggunakan ponselnya sebagai ajang 'pamer'. Ia akan menggunakan BBM, whatsapp, twitter, facebook dan masih banyak media promosi lainnya yang ia manfaatkan dengan cara memajang foto baju kaos bola yang ia jual. Dan yang saya tahu, he's doing it with fun, karena orangnya memang tergila-gila sama dunia bola.

Kedua, komunikasi. Serius, semua teknologi yang ada sekarang ini is totally useful. Ponsel jaman sekarang -sebut saja dia smart phone- tidak hanya membuat kita dapat mengirim sms ataupun nelpon, it is much more than this. Bisa kirim voice note, kirim gambar, akses internet, dan -uh- saya rasa berbagai hal lain yang tidak saya ketahui. Tanpa perlu tatap muka, ponsel pintar ini membantu teman saya dalam komunikasi; dengan konsumen maupun distributor sehingga mengurangi ribet yang ada.

Karena kemudahan-kemudahan tersebut, saya jadi ikut nyemplung di dunia bisnis seperti ini. Menjual apapun yang bisa dijual (LOL). Nothing to lose, rite? Saya rasa tidak ada rugi, tetapi membuka peluang untuk sebuah keuntungan agar bisa kita raih. Oh ya, saya pengen sekalian ngingetin lagi pihak yang mengadakan event ini :

 
mungkin kalian ingin ikutan lomba blog. Atau ingin seperti dua tokoh yang terlihat disana, two awesome bloggers yang sudah berhasil meraup ketenaran dan banyak hal lainnya. 
Coba saja, nothing to lose.

Rabu, 13 Juni 2012

bahagiaan

bahagia itu semu adanya

Saya yakin kalian yang membaca setuju dengan pernyataan saya yang satu ini. Kebahagiaan itu membingungkan. Ia tidak bertuan, dan memiliki kebebasan untuk datang dan pergi dan meninggalkan. Ia kembaran dari kenyataan, dan ketidaknyataan.

Saya pernah dengan bodohnya menyerahkan sebagian besar kehidupan saya kepada rasa bahagia. Ketika naif masih menjadi bagian dari jiwa. Saat itu bahagia sedang betah tinggal bersama saya, tidur bersebelahan dengan senyum dan tangis dan tawa dan airmata. Saya ingat, mereka berteman akrab. Hanya saja, saya tidak boleh membiarkan mereka terlalu akrab. Dan saya melewatkan hal itu.

 Yang saya ingat, saat itu ada tokoh baru, namanya masalah. Ia gemar memporak poranda segala sesuatu, termasuk hubungan. Dan yang saat itu berhasil ia hancurkan adalah hubungan antara bahagia dengan airmata. Dan airmata menjalin hubungan khusus dengan tangis. Alhasil, mereka membuat bahagia tidak mampu bertahan. Ia memilih pergi dari peraduan, sehingga jiwa tidak lagi menjadi bagian. Mencari tuan yang baru, atau memilih menjadi perantau bisu.

Saya tahu persis, airmata dan tangis juga merasa kehilangan. Mereka juga membutuhkan. Tetapi... sudah. Ceritanya sudah menemukan kata berakhir. Bagiannya sudah lagi layu dan tidak mampu berbuah.

Ia tahu, saya seringkali merindu. Saya sering menatap tempat dimana ia sering singgah dan beristirahat. Saya juga tahu ia sering mengintip dari balik jendela, entah hanya mengintip atau memang rindu yang menggelitik. Tetapi kemudian ia akan pergi lagi, tanpa sempat membubuhkan rasa. Dan saya tidak memiliki kuasa untuk mengundang, walau sekedar minum kopi dan bersenda kawan.

Saya juga tidak bisa meminta balik kehidupan yang sering ia bawa di bibirnya. Saya yang bodoh, mentato bagian terpenting dari jiwa kepadanya. Menitipkan segala yang saya punya kebagiannya. Ia sudah terluka, dan saya sudah menggila. Sedang airmata dan tangis memilih tinggal diam dan bersabda.

Jumat, 04 Mei 2012

selamat malam, malam rindu.

selamat malam, malam. mengapa hujan tidak menemanimu hari ini? ah sayang, padahal aku merindu suasana itu. dingin dengan tanah yang berbau lembab. air yang merintik titik-titik sampai bosan. langit yang sendu, aroma yang kelabu.
jangan bilang galau, karena aku tidak. aku hanya merindu.
baru saja ingin menyadur lelah yang terkumpul sedari kosan sampai rumah, tetapi otak berisik. ingin bicara, ingin didengar, tiada yang menyimak. jadi jemari saja yang berkutat. dengan hati yang melunjak. minta hati, minta manusia, minta lelaki kaya.
kaya hati, kaya materi. kaya cinta, kaya jejaka muda. kaya lelaki yang dicari oleh wanita-wanita seusia.
tetap, jangan bilang galau. karena aku tidak, aku hanya merindu.
lalu lalang kantung mata dan kantuk yang menghadang, tetapi heran. jemari memilih tidak berhenti dan terus membisik. dipandu otak, dibimbing kangen. ditambah pahit yang menelisik kemudian menyusuri jengkal demi jengkal aliran sadar.
jangan bilang galau, karena sejujurnya aku merasa tidak. aku hanya merindu.
kiri kanan belakang dilirik, dan tiada sesiapa yang menyentik. ah, saya linglung.
mungkin memang sedang butuh orang yang bisa dilawan. atau orang untuk dicinta.
atau lawan yang untuk dicinta? entah
tetap, jangan bilang galau. karena aku tidak, aku hanya merindu.
 
merindu suasana yang itu.