Jumat, 16 Januari 2015

What is the right thing to do?

Just co-pas and little edit, from a stranger and perhaps a friend wanna be.

What is "right"?
Owning a slave isnt right today,
But 1000 years ago, it was rightful.
Even more years, if you were a king, you could just fuck a random woman, rape her and all, and you would have her as your wife - this, according to Bible, was the right thing to do.
Now? I dont think so.
In Indonesia, being a Muslim is a right thing to do - or at least being religious.
Rewind a thousand years ago, being Hindu was the right thing to do. Even more years, being an animist was the right thing to do.
Now, succeeding in life economically is the right thing to do. As well as being a doctor or an engineer.
Centuries ago, being a mayor was the right thing to do, as well as being a good wife who stayed her whole life in a kitchen.
Not even a century ago, smoking was the right thing to do when you were sick.
Now, by not smoking, is the right thing to do when you are sick.
Now, war isnt the right thing to do to solve a big problem.
Centuries ago, war is the right thing to do to solve a big problem.
Lets stop seeing it from time to time,
Lets start seeing it from place to place.
In Indonesia, being virgin until marriage is the right thing to do.
In Russia, not being virgin after 18yo is the right thing to do.
In Indonesia, not criticizing religions is the right thing to do.
In Europe, criticizing religions is the right thing to do.
In Sweden, a rapist treated with psychological and social treatment is the right thing.
In Iran, a rapist treated with stones to the head until death is the right thing.
Whether you see it throughout the time or place,
Whether you see it from my point of view or else,
I dont think we can know the truly "right".
Or maybe, just maybe,
Rightness itself doesnt exist,
And we are deluding ourselves, the rightness should exist.
In conclusion,
There is no right path,
There is only a path you choose.

Credit to: Mario.

Senin, 22 Desember 2014

Celoteh daun teh di pagi hari

Istirahat makan siang, jemari saya menarikan ritual pemanggil hujan. Satu-dua ketukan, justru menemukan satu tulisan lama milik seorang Shinta yang lama.
Mungkin menarik untuk kalian baca, mungkin tidak. Tetapi ini rumah saya, dan saya punya kapasitas penuh untuk meletakkan sampah apapun didalamnya.


Celoteh daun teh di pagi hari
Menggenggam embun di pangkuan, tatapannya menerawang
Matahari tersenyum lebar, tidakkah kamu ingin mengecupnya ringan?
Jangan tunggu hari esok, rupanya semu
Sepetik lengah dan kita hanya akan lebur menjadi uap dengan udara

Celoteh daun teh di pagi hari
Menantang terik di hadapan dunia, angannya terbahak
Matahari mengerling penuh makna, tidakkah kamu ingin merengkuhnya dalam?
Jangan tunggu hari esok, rupanya semu
Sebelum malam menjadi preman dan mencuri harap yang tertumpuk di permukaan

Celoteh daun teh di pagi hari
Warnanya kian memudar, sementara aromanya telah menyengat pekat
"Waktuku menipuku," bisingnya pilu
Dan kini saatku menyelinap pergi, pagi-pagi yang kulalui
Mengapa kamu hanya menunggu hari esok, yang rupanya semu?


Cipanas, Juli 2013

Gadis Hujan.


Ps: saya bahagia. Ada apresiasi dari tulisan saya, yang lamat tersendat dan terlihat tidak mungkin memikat. Setidaknya ada peminat. Terima kasih, kamu :)

Jumat, 21 November 2014

Apakah kamu baik-baik saja?

It has been a very long time. How are you? Are you alright? Did anything hurt you anywhere? What is just going on while I am not around?

Saya bertandang selayaknya tamu di dalam rumah sendiri. Ruah. Kedinginan, Bersin-bersin tidak karuan. Memetakan mimpi masa lalu yang tidak lagi memiliki rupa. Saya datang hanya ingin sedikit bersih-bersih. Mengelap kaca, menyapu lantai. Menghapus debu-debu yang sudah menyisakan karat pada sisi-sisi kehidupan.
Apakah kamu baik-baik saja?

Hidup saya mengkeret. Mimpi saya luar biasa hitam. Hari saya kelabu, walau sekarang-sekarang ini ada banyak awan putih menaungi. Menjadi dari abu-abu menjadi abu-putih. Cita-cita saya meredup, realita saya kian menyiksa. Waktu-waktu melangkah maju tanpa mampu dirasa. Umur semakin bergulir tanpa ada daya untuk tidak menyakiti sesiapa, tetapi merusak segala.
Apakah kamu baik-baik saja?

Adakah diantara kita; abu imaji dan harapan; baik-baik saja?


Kepada Langit Sendu,
Gadis yang menunggu hujan.

Selasa, 10 Juni 2014

What worth is?

Hari ini panjang dan melelahkan, sejujurnya. Dengan status sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta, saya diwajibkan masuk kerja sebelum jam delapan, dan barusan *dengan terpaksa* saya harus mengambil lembur sampai baru menginjakkan kaki di rumah jam sepuluh malam.
Life. is. hard. enough. LOL

Meski kemarin malam saya kurang tidur, tadi ambil lembur sampai telat makan kemudian maag, tetapi saya berhasil menemukan celah waktu untuk menulis lagi, disini. Lagi, rasa rindu mengikat yang membuat saya kembali menulis di blog. Meskipun *lagi-lagi* tidak tahu apa yang mau ditulis. Meskipun rasanya saya mau nyopot badan terlebih dahulu, agar lelah-nya hilang.
But I feel like this is worth to do. So I choose to do this, writing.

Talk about worth or not, I wanna ask you *anyone, yang ngebaca postingan ini* something.

Menurut kalian, apakah keputusan yang sudah kalian ambil dan tengah kalian jalani saat ini adalah keputusan yang pantas untuk dipertahankan?

Mungkin efek malam, hujan dan rasa lelah membuat saya -sekali lagi, kembali- menulis postingan yang cukup, galau. Tentang kehidupan.

Saya akui, saya tengah merasa hilang jejak. Menulis bukan lagi menjadi sebuah cita-cita namun hanya hobi yang sesekali harus saya lampiaskan. Musik bukan lagi menjadi harapan untuk digapai tetapi kebutuhan yang harus tetap dijalankan. Seperti manusia butuh nafas dan tidur, atau seorang hiperseks yang butuh hubungan intim. Saya butuh menulis, saya butuh musik.
Tetapi saya justru menjadi seorang musafir tersesat dalam construction company yang tengah berusaha untuk berkembang, ikut mengais rejeki ketika saya bahkan tidak mengerti apa yang terjadi.

Stress? Jangan tanya. Saya hampir gila, dalam makna yang sebenarnya. Pelarian saya tidak ada, hilang. Saya tidak puas hanya membaca, saya butuh menulis tetapi waktu seakan pergi berlarian. Tidak cukup hanya mendengarkan musik, saya butuh bermain tetapi jemari saya kaku; terlalu lama memegang keyboard dengan jenis yang berbeda, yang tidak melahirkan nada.

But, guess what, time heals. Saya mulai merasa ini semua menjadi habit. Saya menjadi seorang yang pendiam, acuh tidak acuh, Menjalankan hari tanpa target yang saya inginkan. Begitu saja, sudah. Pergi pagi pulang petang untuk mengumpulkan pundi-pundi yang masih juga tidak terkumpul, karena banyak sekali yang harus ditanggung selain diri sendiri.

But -again-, I feel like it is worth. Pengalaman ini. Pertahanan diri model seperti ini. Didikan yang saya terima dari manusia-manusia kantor dan kantor itu sendiri. Kelelahan dan muak yang menumpuk ini. Jangan tanya -please do not ask- apa yang membuat hal ini worth. Saya sendiri bingung, tetapi menurut saya, this strengthen my mental. Kalau kata lagu, what doesn't kill you makes you stronger. Dan saya tidak menyesal. Saya merasa keputusan yang saya ambil untuk tenggelam disini, adalah pantas untuk dipertahankan. Meskipun ada banyak kata "tetapi" mengekor dibelakang.

Bagaimana dengan keputusan yang tengah kalian ambil? Pertanyaannya hanya satu; is it worth?

Entah. Mungkin otak saya memang benar sudah tumpul. Setidaknya saya menguapkan sedikit kepul dari kepala saya, dengan menulis saat ini :)

Selasa, 26 November 2013

Aku si Penggila Rasa

Jangan kata kamu mengerti tentang rasa, aku lebih gila
Karena kamu.

Ketika segaris senyum seharga satu tarikan nafas
Saat sekejap tatap berarti menggenggam sebuah harap
Dimana menanti hadir lenyapkan detik-detik nyawa
Kemudian tertolak jadikan tiap tawa hilang lenyap
Kamu tahu apa? Tetiada, hanya apa-apa yang fana
Ini rasa yang tidak akan kamu mengerti tanpa dirasa.

Tanpa ra-sa.

Jumat, 01 November 2013

Reaching Older

Yesterday was my birthday. Yeap. Dan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini saya tidak membuat resolusi. Saya menyerah. Kalah.

Atau lebih tepat jika disebut pasrah, dengan tingkat penyerahan level tidak terhingga. Terutama mengenai mimpi.

Saya ingat jelas, ketika ulangtahun yang ke-5. Dirayakan di te-ka, guru saya bertanya setelah meniup lilin ultah,"nanti besar, mau jadi apa?" Spontan saya menjawab, "dokter.". Pemikiran standar anak umur kisaran. Lulus SD, saya berkata sama orangtua saya kalau saya ingin menjadi pianis. Ketika SMA, saya berharap menjadi seorang psikolog dengan sambilan menjadi seorang penulis. Bahkan ketika kuliah, saya masih sempat bermimpi menjadi seorang presenter.

Sekarang?

Saya jadi kuli bagi kehidupan. Merintis kehidupan yang diinginkan orangtua, yang dituntut keluarga ditambah situasi saya sebagai anak pertama. Menyadari bahwa mimpi-mimpi itu indah tetapi tidak cukup menghasilkan uang; hal yang dianggap menaikkan martabat diri ditengah kota metropolitan. Mengibarkan bendera putih sepenuhnya. Mimpi saya hilang, lenyap.

Make a wish? Di usia yang mencetak angka favorit saya, saya hilang arah; ditelan tekanan hidup.

Selamat ulang tahun Semoga suatu hari nanti, kamu bisa kembali bermimpi, diriku sendiri.

But still, sweet things happened when you are having birth-day. Yang agak ngeselin comes from seli; my cutiest sister. But still, that's sweet. Just check her blog : here

gift from bang remon and kakandong che. My only dream that I have : punya rumah pake connecting door sebelahan sama kakandong.

Jumat, 26 Juli 2013

BALI I AM IN HOLIDAY!


Lagi mau cerita panjaaang. I even prepared some pictures for this. Actually, this trip was held about 4 months ago, but it is still worth to share.
Seriously, I am in love with all the ethnic that exsist in Bali. Deeply in love.


 I did forget the story behind this relief. Maybe, about Rama and Shinta? *narsis sebut nama sendiri* Anyone knows?


 Take a look at those statue. Purrrfect. Sekilas, ukurannya terlihat normal. Do you wanna know its real size?

me, mom, sally
 After some trial, my mom’s friend who took this can’t even reach a whole statue in one picture together. Once I saw this statue, it is only one word comes. BIG. But big is beautiful, isn’t it? So it is.

Somehow I wonder, where is this statue lookin’ at? Or who?
Here is still around those location. I think i can jump higher, but none of picture captured it perfectly *PUHA* But this is high enough, I do look like flying, rite?


Awee! The frogs are peeping!
Honestly, they look like frogs who hide behind the wall*laughs* 

I love my sister’s smile in here. Ngga sebanding sama batu-batu tajam yang melatari senyumannya *okesip*
When the sunset comes, we are going to watch Kecak dance. There was full with people! Kecak dance is a story about Rama and Shinta. And Brahmana. And else. I got a paper which have a full story, but I’d lost it already 

She is very pretty, especially her long skirt. Pink! Those kind of ethnic skirt, aweee~
Oiya, baru tahu. Bali isnt only pretty by its beaches but also mountain and all. Dan saya baru tahu kalau Bali ngga cuma punya pantai *blushes*

greenday. LOL
Trust me, it was cold there. Seriously cold. Rain was fall in that time, membuat suhu turun sekian derajat lagi. Wew.
pretty, isn't it?
pura in Bedugul
Bedugul
Aaand, the most famous place at Bali : Tanah Lot! I’ve been here too many times, LOL. So that I took only few captures. And there is no one of my picture, because nobody wants to take it for me T.T so here is my pretty little sister~

And for the last day, me and my family decided to go to Kuta Beach in the early morning, to see sunrise. Or –at least-, jogging bule. But there was no good-looking one passed by. So? We (It is only me and my lil sis, actually) were bored.
moron sista
But still, we were have fun there. I love beach too much, and it makes me feel so much happy. I love Bali, indeed! One day, I will come here again. Soon.


ps : all the pictures here are belong to me. was taken by me. so? nope, I just wanna let you know.. :p

Jumat, 24 Mei 2013

Ketika galau datang lagi

hai! lama tak bersua.
rasanya saya rindu menulis. sangat. dan karena -terimakasih atas datangnya kembali- rasa rindu yang mendesak tersebut, saya kembali melongok kesini. sekedar menulis, sekedar basa-basi. bertemu teman lama, blog.
saya patah arang. kemarin, saya resign dari posisi reporter sebuah televisi swasta yang disiarkan lewat kabel -atau sebut saja tv berbayar LOL- dan hal itu membuat saya semakin bingung harus apa. pusing.
sebelumnya sempat keterima di Gramedia PKG -kalau ngga salah, lupa juga sih singkatannya- sebagai editor, tapi ayah ngga setuju. he said, "editor kan cuma duduk dibelakang meja, ngobrol sama komputer. kalau reporter kan bisa ketemu banyak orang penting!"
then, I tried to make him happy. I took that job, but I failed.
ibarat kata, saya tidak biasa mencari berita, saya biasanya menjadi sumber berita *PUIH* XD
meskipun salary dari posisi reporter jauh lebih besar, tetapi ternyata saya berharap kemarin saya mengambil posisi editor. don't ask me why.
dan sekarang, saya semakin bingung mengenai masa depan. mungkin saya harus kuliah lagi. Magister. dan kemudian bekerja kantoran, just like ordinary people.
Tuhan, saya tidak akan melepaskan passion saya sebagai seorang penulis. entah darimana jiwa seni yang satu ini, yang pasti saya menyukainya. walaupun orang-orang disekeliling tidak begitu ngeh akan tulisan saya.

eniwey! ngga sengaja buka blog lama jamannya sama mantan pas kuliah dulu. and damn, I miss that moment so much. rasanya memang butuh lelaki baru yah? *hihi

penasaran sama blognya? I won't tell you :P that's privacy! saya aja kaget pas ngeliat blog itu sekarang, kinda shocked kalau saya bisa merangkai kalimat romantis. romansa memang bisa membuat manusia menjadi pujangga. yang setuju katakan amen!

Kamis, 22 November 2012

hujan mengendap-endap

saya mau curhat. saya butuh teman curhat.

barusan, hujan mencurangi tindak tanduk yang saya lakukan. padahal semua yang saya lakukan itu untuk dia. pulang kerumah pakai jaket hitam hoodie, pakai maskara non waterproof -agar ada jejak ketika hujan mencuri cium-, dan keluar kosan tepat ketika angin dari awan yang ia tunggangi lewat.

tapi dia ngga datang. dia cuma ngikutin diam-diam dari belakang; tanpa mencoba menghampiri atau menyapa atau bermain bersama. entah, dia tidak punya alasan untuk marah. seharusnya saya yang marah. ketika saya menelan rindu bulat-bulat, dia justru sok jual mahal. menyebalkan.

seharusnya saya yang marah, tetapi saya tidak pernah bisa marah; hujan terlalu memikat untuk dimarahi.

Selasa, 23 Oktober 2012

pendewasaan diri dari segi apa?

Saya galau. saya kalut. setelah sekian lama saya lupa untuk berkutat dengan kemelut -well, beberapa waktu berselang saya benar menyadari bahwa kesibukan bisa bikin kita lupa total sama sesuatu yang sering disebut orang sebagai galau- dan pagi ini saya merasa ada hal yang menggigiti pikiran, perasaan, dan ingatan.


Saya akan -kembali- bertambah tua dalam hitungan beberapa hari lagi.



Kalau mau dikaji ulang, sebenernya bertambah tua itu terjadi di setiap milisekan waktu. setiap kali waktu berhitung maju, maka umur kita juga ikut berputar laju. hanya saja, manusia tidak begitu memperhatikan, karena pertambahannya konstan tanpa perbedaan. sementara manusia membutuhkan perubahan fisik; mungkin muncul uban, atau kerutan, atau penambahan angka pada usia.



Setelah perubahan fisik, maka akan merangkak maju ke perubahan yang sedikit lebih tidak terlihat; hal-hal yang disebut seperti pendewasaan diri. setelah menulis satu kalimat tadi, jemari saya membeku.



PENDEWASAAN DIRI.



Dalam hitungan hari, angka di usia saya akan bertambah banyak satu lagi. dan sejauh ini, saya merasa memasuki kepala dua tidak berarti banyak; saya masih menjadi seorang yang manja -tolong, jangan sebut kata ini sebagai singkatan dari mandi jarang. saya rajin mandi!-, masih bergantung sama orangtua -sementara saya ini anak pertama yang seharusnya menjadi tumpuan banyak pihak-, tidak becus mengambil keputusan, kekanakan, dan segudang karakter lain yang seharusnya sudah saya buang namun masih aktif dalam kelakuan.



Satu sisi, ibunda tercinta sudah mulai aktif bertanya hal-hal konyol, such as : 'jadi pacarmu yang mana?' atau, 'nanti setelah lulus mau lamar kemana?' seringkali juga mengeluarkan komentar membingungkan, seperti 'kalau mau pacaran jangan pulang malem-malem ya,' sementara saya cuma bisa bengong, mungkin menurut beliau minum secangkir kopi bersama skripsi dikategorikan sebagai pacaran.



Hal-hal kecil seperti ini muncul di pagi hari setelah hari sebelumnya saya hanya tidur selama tiga jam -skripsi dan kepergian alm. Tulang Daud benar-benar membuat kedua kelopak mata saya sulit terpejam- seakan membuat alarm di otak saya berdering kencang. it feels so much weird. saya seperti merasa dalam hitungan beberapa hari, usia saya bertambah 10 tahun.



Saya masih suka bermain air. saya masih suka manja 'ngga jelas sama Seli, my cutiest sister. saya masih merasa bahwa adik kecil saya Jojo memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa. Saya belum menjadi apa-apa, tetapi usia mendorong secara paksa agar saya segera menjadi apa. disaat saya merasa tidak -dan sepertinya tidak akan pernah- siap.



Jika saya menyimpulkan bahwa keputusan saya untuk single sementara waktu ini -sampai nanti yang disebut entah kapan- adalah keputusan terbaik agar saya mampu meraih kata pendewasaan diri, hal ini bener ngga ya? toh saya -merasa- belum setua itu untuk berpikir masalah jodoh atau apapun itu. saya masih ingin seneng-seneng tanpa status dulu, sebelum serius...

Selasa, 25 September 2012

Nothing to lose

It has been a looong... time since my last chit chat in here, ya? Dan saya merasa sangat kangen. Pada hakekatnya, saya adalah orang yang suka nulis. Tapi kali ini saya nulis bukan dengan tema yang ada di otak, tapi yang dikasih orang. Karena otak saya lagi ngga bisa mikirin tema. Karena tema lagi musuhan sama otak saya. Halah -_-

Actually, someone told me soal lomba yang diadain oleh @bloggercomp, namanya @eliahutajulu. He just said, "ikutan aja, ka. Nothing to lose lah." Terus saya sadar akan situasi blog saya yang -mungkin kalau dia berbentuk benda nyata- sudah jamuran. Sudah kudisan. Sudah katarak. Wong sudah sekian bulan saya tidak menjenguk, membersihkan ataupun sekedar ngasih kata hi. So here I am, -tentu saja,- nulis. Nothing to lose, bukan?

Gara-gara sedari tadi saya berulang kali menulis nothing to lose, saya jadi ngeh kalau sudah banyak kesempatan yang saya ambil karena kalimat tersebut belakangan ini. Ikutan cast untuk sebuah talkshow, ikutan temen yang mau traktir makan, ikutan sebuah organisasi, ikutan bikin blog, ikutan temen yang lagi suka jualan, dan masih banyak ikutan-ikutan lainnya. Toh, ikut atau tidak, saya tidak akan kehilangan apapun. Paling parah, mungkin saya hanya akan menyia-nyiakan waktu yang saya miliki. Tapi di jaman yang sudah super canggih seperti sekarang ini, saya rasa waktu-pun akan sulit untuk disia-siakan.

 Beberapa bulan yang lalu, saya sibuk memperhatikan bagaimana cara teman saya mengefisiensikan waktu yang ia miliki dengan mengandalkan teknologi yang ada. Melalui smart phone yang dimiliki, ia berhasil mengembangkan bisnis jual-beli baju bola yang ia kelola. Dan marketing yang ia lakukan hanya melalui satu benda mungil tersebut. Rasa penasaran saya memuncak, sampai akhirnya saya memilih untuk mengamati bagaimana ia memanfaatkan teknologi yang ia miliki untuk menyokong usaha kecilnya itu.

Pertama, promosi. Selain menjadikan kaos bola sebagi topik awal ketika ia membuka sebuah pembicaraan, ia -pastinya- juga menggunakan ponselnya sebagai ajang 'pamer'. Ia akan menggunakan BBM, whatsapp, twitter, facebook dan masih banyak media promosi lainnya yang ia manfaatkan dengan cara memajang foto baju kaos bola yang ia jual. Dan yang saya tahu, he's doing it with fun, karena orangnya memang tergila-gila sama dunia bola.

Kedua, komunikasi. Serius, semua teknologi yang ada sekarang ini is totally useful. Ponsel jaman sekarang -sebut saja dia smart phone- tidak hanya membuat kita dapat mengirim sms ataupun nelpon, it is much more than this. Bisa kirim voice note, kirim gambar, akses internet, dan -uh- saya rasa berbagai hal lain yang tidak saya ketahui. Tanpa perlu tatap muka, ponsel pintar ini membantu teman saya dalam komunikasi; dengan konsumen maupun distributor sehingga mengurangi ribet yang ada.

Karena kemudahan-kemudahan tersebut, saya jadi ikut nyemplung di dunia bisnis seperti ini. Menjual apapun yang bisa dijual (LOL). Nothing to lose, rite? Saya rasa tidak ada rugi, tetapi membuka peluang untuk sebuah keuntungan agar bisa kita raih. Oh ya, saya pengen sekalian ngingetin lagi pihak yang mengadakan event ini :

 
mungkin kalian ingin ikutan lomba blog. Atau ingin seperti dua tokoh yang terlihat disana, two awesome bloggers yang sudah berhasil meraup ketenaran dan banyak hal lainnya. 
Coba saja, nothing to lose.

Rabu, 13 Juni 2012

bahagiaan

bahagia itu semu adanya

Saya yakin kalian yang membaca setuju dengan pernyataan saya yang satu ini. Kebahagiaan itu membingungkan. Ia tidak bertuan, dan memiliki kebebasan untuk datang dan pergi dan meninggalkan. Ia kembaran dari kenyataan, dan ketidaknyataan.

Saya pernah dengan bodohnya menyerahkan sebagian besar kehidupan saya kepada rasa bahagia. Ketika naif masih menjadi bagian dari jiwa. Saat itu bahagia sedang betah tinggal bersama saya, tidur bersebelahan dengan senyum dan tangis dan tawa dan airmata. Saya ingat, mereka berteman akrab. Hanya saja, saya tidak boleh membiarkan mereka terlalu akrab. Dan saya melewatkan hal itu.

 Yang saya ingat, saat itu ada tokoh baru, namanya masalah. Ia gemar memporak poranda segala sesuatu, termasuk hubungan. Dan yang saat itu berhasil ia hancurkan adalah hubungan antara bahagia dengan airmata. Dan airmata menjalin hubungan khusus dengan tangis. Alhasil, mereka membuat bahagia tidak mampu bertahan. Ia memilih pergi dari peraduan, sehingga jiwa tidak lagi menjadi bagian. Mencari tuan yang baru, atau memilih menjadi perantau bisu.

Saya tahu persis, airmata dan tangis juga merasa kehilangan. Mereka juga membutuhkan. Tetapi... sudah. Ceritanya sudah menemukan kata berakhir. Bagiannya sudah lagi layu dan tidak mampu berbuah.

Ia tahu, saya seringkali merindu. Saya sering menatap tempat dimana ia sering singgah dan beristirahat. Saya juga tahu ia sering mengintip dari balik jendela, entah hanya mengintip atau memang rindu yang menggelitik. Tetapi kemudian ia akan pergi lagi, tanpa sempat membubuhkan rasa. Dan saya tidak memiliki kuasa untuk mengundang, walau sekedar minum kopi dan bersenda kawan.

Saya juga tidak bisa meminta balik kehidupan yang sering ia bawa di bibirnya. Saya yang bodoh, mentato bagian terpenting dari jiwa kepadanya. Menitipkan segala yang saya punya kebagiannya. Ia sudah terluka, dan saya sudah menggila. Sedang airmata dan tangis memilih tinggal diam dan bersabda.

Jumat, 04 Mei 2012

selamat malam, malam rindu.

selamat malam, malam. mengapa hujan tidak menemanimu hari ini? ah sayang, padahal aku merindu suasana itu. dingin dengan tanah yang berbau lembab. air yang merintik titik-titik sampai bosan. langit yang sendu, aroma yang kelabu.
jangan bilang galau, karena aku tidak. aku hanya merindu.
baru saja ingin menyadur lelah yang terkumpul sedari kosan sampai rumah, tetapi otak berisik. ingin bicara, ingin didengar, tiada yang menyimak. jadi jemari saja yang berkutat. dengan hati yang melunjak. minta hati, minta manusia, minta lelaki kaya.
kaya hati, kaya materi. kaya cinta, kaya jejaka muda. kaya lelaki yang dicari oleh wanita-wanita seusia.
tetap, jangan bilang galau. karena aku tidak, aku hanya merindu.
lalu lalang kantung mata dan kantuk yang menghadang, tetapi heran. jemari memilih tidak berhenti dan terus membisik. dipandu otak, dibimbing kangen. ditambah pahit yang menelisik kemudian menyusuri jengkal demi jengkal aliran sadar.
jangan bilang galau, karena sejujurnya aku merasa tidak. aku hanya merindu.
kiri kanan belakang dilirik, dan tiada sesiapa yang menyentik. ah, saya linglung.
mungkin memang sedang butuh orang yang bisa dilawan. atau orang untuk dicinta.
atau lawan yang untuk dicinta? entah
tetap, jangan bilang galau. karena aku tidak, aku hanya merindu.
 
merindu suasana yang itu.

Rabu, 04 April 2012

hilang nyawa

dua bulan penuh tanpa membuka blog ini rasanya... menusuk. saya tetap menulis, tetapi bukan menulis apa. ketika menulis biasanya mengisi jiwa, ini hanya sekedar alfabet. hanya rentetan kata yang jika diulang tiada makna. tulisan-tulisan yang ditulis tanpa apa. saya hilang apa, saya hilang nyawa. nyawa berarti arah bagi saya.
pendek kata : saya kehilangan arah.
nyawa saya tersesat entah dimana, ia hilang arah. mungkin dia lupa kalau dia punya rumah; hati saya. mungkin ia tengah bosan dengan kemunafikan hidup yang akhir-akhir ini ditujukan langsung, dikirim tanpa perantara untuknya. mungkin kini ia tengah duduk-duduk santai menikmati kopi pagi di hati yang lain. atau tengah berinteraksi dengan psikiater yang pastinya mampu mengendalikan segala pemikiran yang tidak diperlukan? entah. saya rindu dia; nyawa saya.
belakangan, saya menyadari bahwa aktivitas dapat membunuh anda secara perlahan; satu-satunya alasan yang sesungguhnya tidak beralasan karena saya memilih aktivitas ini secara sadar meski dibawah tekanan. banyak hal yang saya sukai, tetapi hanya menjadi sisipan semata, dimana saya sadar bahwa semua itu bisa menjadi nyawa cadangan. tetapi lenyap.
dan saat ini saya masih menjadi manusia tanpa nyawa. heran, apa ini berarti saya tengah menjadi zombie?
saya butuh nyawa saya. sekarang. mungkin anda punya? atau anda nyawa saya?

Rabu, 01 Februari 2012

hujan hujan hujan

akhirnya nyerah juga, semalam badan koyak sana-sini. ujian pagi, dan sepanjang waktu ujian perut ngajakin berantem. efek belum sarapan? mungkin. kurang tidur juga, begadang di malam sebelumnya karena tumpukan materi yang ujungnya disembunyikan pagi. ditambah lagi kemarinnya saya bermain dengan hujan. setelah ujian jam delapan, sorenya harus berhadapan dengan konfigurasi router dan switch dan tetek bengeknya : ujian skill.
saya gadis hujan, tetapi tidak cukup kuat untuk menghadang hujan. rasanya seperti belanja ke factory outlet dan baru sadar uang kurang ketika didepan kasir.
terakhir kali saya bermain hujan, di penghujung 2011; awalnya hanya mendung yang tanpa tepi. anginnya dingin, tapi yakin ngga akan bikin masuk angin. dan sendal jepit oranye yang mengikat kaki penuh kuyup. inti daripada intinya : ketika angin basah niup aroma tanah yang kena hujan. rasanya... kalaupun harus sakit, saya ikhlas :') hehe

np : yang bikin heran, kenapa setiap kali ketemu kamu selalu ada hujan? hujan yang mengikutimu, atau kamu yang mengikuti hujan, atau kamu sendiri adalah hujan? hei kamu, lain kali kalau ada waktu untuk ketemu, saya mau bertanya tentang hujan. saya yakin anda tahu.
dan sekarang diluar hujan. mungkin saya akan ketemu kamu :)

Jumat, 16 Desember 2011

derit pelatuk

aku ingin menjadi derit yang memicu pelatuk didalam kepalamu
detik demi detik hingga terbentuk menit
menit demi menit hingga terbentuk jam
jam demi jam hingga terbentuk hari
agar waktu yang terlewat tidak berbentuk penat
dan sepi yang membentang tak segarut dengan jelaga
hingga kamu tidak lagi merasa sendiri.

tetapi kini aku yang selalu sendiri.

none




congratulation, now you are being my NIGHTMARE



Rabu, 30 November 2011

kata berkata

Hey, langit-langit dengan riap harap yang tak pernah habis diantara semu,
Hentikan ini semua.
Aku memang mencinta, tetapi aku tak dicinta, lagi.
Dia, aku, kamu.
Kamu, dia, aku.
Kalian, dan aku. Bukan kita dan dia.
Karena kalian terlalu rapuh dari aku.
Biar saja semua yang tertera menjadi mimpi indah diantara bayangmu dan senyumku. Hanya ilusi. Dan bukan certa utuh yang pantas diabadikan.
Abaikan saja rindu yang menggelitik, yang sesekali menyusup kemudian mengiris, ia hanya bagian yang harus kamu dan aku lewati dalam proses menjadi dewasa. Dengan keputusan yang kamu dan aku akan pelajari.
Semuanya akan baik-baik saja. Suatu hari nanti.
Dengan waktu yang terulur dan jarak yang terukir.
Jangan memencak, aku yang telah menggali kuburku sendiri. Aku hanya bercerita, dan bukan memelas untuk meminta.
Hey, langit-langit dengan riap harap yang tak pernah habis diantara semu,
Jangan menatapku pelik.
Aku tak sudi melihatmu mendelik. Karena kamu hanya saksi yang bisu tuli buta.
Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Untuk aku, kamu. Kamu, aku. Bukan kita. Memang tetiada kita.
Saat kamu rasa, aku buta. Saat aku rasa, kamu tak bersedia.
Meski kamu kata akan ada aku dan kamu. Di lain waktu. Kapan? Nanti. Nanti? Kapan-kapan.
Bukan, langit-langit. Aku tak mau lari. Aku bahkan tak bisa lari. Kamu satu yang mungkin diperjuangkan dan ingin diperjuangkan tanpa dipandang pantas tidaknya untuk diperjuangkan.
Hanya saja, langkah yang terpekur sudah membuat jiwaku tersuruk. Jangan berharap ada lagi senyum yang benar di bibir. Aku lupa. Jika kamu mengira senyum ini benar, maka kamu buta.
Kamu benar sudah merebut sendi hati tanpa sudi mengembalikannya. Atau mungkin sudah hilangkannya?
Atau bahkan kamu tengah bermain dengannya.
Aku tak tahu. Tak mau tahu.
Satu hal pasti, semuanya sudah menjadi milik kamu. Aku tak peduli mau kamu buang, kamu juang, kamu bentang, kamu pasang. Atau kamu jadikan sisa petang sebagai hiburan. Atau mungkin sekedar pajangan kebanggaan?
Aku tak menuntut. Ini salahku. Kuburanku. Nyawaku.
Mati.
Hey langit-langit dengan riap harap yang tak pernah habis diantara semu, kamu tau?
Mungkin kamu yang tengah bersekongkol dengan kamu. Disini aku tertawa miris menatap pilu. Mengapa dengan mudah aku menitipkan semua nyawa yang kumiliki kepada kamu yang tak bisa kumiliki untuk saat ini?

Tuhanku aku, buta.

Tuhanku, aku buta.
Diantara pahit-pahit yang memeluk, dengan sendi-sendi harap yang menusuk.
Aku merana.
Ditempa hidup yang membabi buta coba merasuk dan menyakti hingga tak lagi aku punya bentuk.
Menelan sayup pilu yang bertumpuk disetiap mimpi-mimpi yang setiap hari semakin buruk.
Penciptaku, aku tak lagi kuasa.
Satu-satu nafas yang ditampuk hanya buat jiwaku semakin remuk.
Aku tak pinta.
Detik-detik hidup yang coba merajuk lagi mampu tempaku jadi terbekuk.
pagi yang menyusup dari pias yang tertumbuk buat makin tertohok, masuk.

Aku tak mau nyawa yang terpendar, tarik saja. Pendaran nadi haya membunuhku pelan-pelan.
Meregang nyawa yang kunanti, mengapa tak kunjung datang?

Senin, 31 Oktober 2011

goodbye, teenager.

Hari ini, katanya spesial. Biasanya minggu malam udah lenyeh di kamar kos, sekali ini diminta mama tetap dirumah dan memilih untuk ikut papa berangkat pagi buta yang akan berangkat ke bandara jam lima. Kenapa?

Biar orang rumah tetap bisa ngucapin selamat ultah secara langsung, untuk yang pertama. Dan masih, papa berhasil menjadi orang yang pertama. Lelakiku.

Kata banyak orang –dengan saya masih dalam satu pemikiran-, ulang tahun itu penting. Inginnya ada saat untuk tiup lilin. Ada ucapan dari orang yang terpenting. Mendapat doa dan kecupan di pipi dan di kening. Todongan bayarin makan dari banyak orang yang ingin.

Entah kenapa, di tahun ini semua hampir terasa hambar.

Bukan tanpa alasan, tetapi justru kekhawatiran yang lebih mendominasi. Beberapa hari silam, saya mencoba membuat bahan renungan untuk introspeksi diri, dengan bertanya secara gamblang kepada sejumlah orang dalam contact BBM tentang karakter yang seharusnya saya buang.

Dan, tidak ada jawaban yang cukup memuaskan, sehingga saya gagal mencari cerminan agar menjadi manusia yang lebih baik.

Jujur, saya khawatir jumlah angka yang sudah jelas menghapus kata teenager tidak berbanding lurus dengan tingkat kedewasaan yang saya miliki. Kini pilihan hanya ada dua yang tersisa; “menjadi dewasa sejalan dengan usia” atau “kekanakan meskipun usia sudah masuk kepala dua”, tanpa pilihan “kekanakan karena memang belum dewasa”.

Dan karena hal ini juga, saya berharap tidak menjadi pusat perhatian untuk hari ini. memilih untuk memperhatikan daripada diperhatikan. Untuk melihat daripada dilihat. Karena saya belum siap, menjadi dewasa. Pemikiran saya masih kanak-kanak. Belum pantas dibilang ‘dua puluhan’.

Hal kecil seperti ini justru terasa lebih mengganggu. Entah mengapa banyak orang berpikir bahagia di hari lahir yang berulang. Banyak yang menuntut kedewasaan di hari yang sama. Padahal, seharusnya bertambah dalam hal positif itu dilakukan setiap hari, bukan? Mengapa orang-orang justru mengharapkan perubahan dalam satu hari saja?

Sebenarnya, saya lebih berharap semua berjalan seperti biasa. Jangan ingatkan saya kalau jatah hidup saya sudah kembali berkurang, karena sebenarnya saya menyadari bahwa setiap hari saya bertambah tua dan (semoga) bertambah dewasa.

Tetap, saya akan tetap berucap selamat menapaki hari dengan pemikiran yang berbeda, gadis hujan. Semoga hujan yang berlalu dan berlalang di harimu yang datang tidak sampai hati untuk membasahi sudut-sudut mata yang tengah berusaha untuk kering.

Kamis, 27 Oktober 2011

blogger's day!



ide memang bisa didapat dari mana saja, tapi spesial untuk hari ini... saya memilih untuk tidak menulis. lebih baik berkeliling ke rumah-rumah yang sudah dihiasi dengan kado-kado dan warna untuk para penjelajahnya <3

anyway, happy blogger's day!



Selasa, 25 Oktober 2011

saat kamu

ketika dingin yang menyeruak bukan lagi kamu
dengan rindu sesekali menelusup masuk
menyamar jadi bayangan kantuk
dan wajahmu akan menempel di kelopak mata yang tertutup
dengan senyum terukir, atau bibir tertekuk
dan lampau menjadi penguasa antara aku dengan kamu
setengah sadar mengomentari sepi yang menelisik
diantara jemari dan sekelebat manusia lalu lalang
bosan jadi bayang, kamu menjadi udara
melanglang buana sepanjang hati sampai jiwa
sampai satu waktu kamu kembali bosan dan
mencari musim lain yang akan kamu singgahi

terus berputar sampai ada satu masa
ketika dingin yang menyeruak bukan lagi kamu
hanya hampa

Rabu, 19 Oktober 2011




life would never be fair, trust me. it depends on how you can accept them all.


Selasa, 20 September 2011

Mari, kamu

Mari, menari.
Diantara hujan yang menyamar turun dari pucuk-pucuk awan yang teriris
Beriringan dengan sendu, kemarin hadir tanpa sudi pergi
Ditabur sedikit rindu yang menusuk dan perih yang menyusup dari
Terikat dengan bayang-bayang yang menatap dibalik singgasana rasa
Hujan mencoba menipu,
dan menari.
Mari, kemari.
Bersama kita akan meneriakkan satu-satu sepi yang melingkupi
Menyicipi senyum dengan bahagia yang sempat berlari dan pergi
Membisiki waktu dan masa lalu kemudian persiapkan hari
Terdikte dengan pencarian warna warni semu beralaskan cinta
Kita teriak satu-satu,
lalu kemari.

Ketika aku jadi, akan kugenggam balas tanganmu
Satu-satunya lelaki yang akan mengunci hatiku.
Entah siapa kamu.

Senin, 22 Agustus 2011

mimpi

ketika mata mulai terlelap
imaji merangkai ingin yang tertindih kenyataan dengan sangsi
melepas kekang dunia serta kata-kata bertanduk
sarat penyiksaan
hanya ketika lelah semakin merayap
angan mau bermain bebas tanpa mengingat asa yang semakin menguap
mengiringi ikatan semu dengan temali cinta berhias mimpi
mungkin suatu saat nanti
dimana berjuta hasrat tak lagi ada untuk menyelimuti hari
segenggam penuh ingin yang akan kubawa pergi
meninggalkan tapak yang selama ini ku daki
sendiri
tanpa menunggu mata terlelap aku akan menjadi

Rabu, 22 Juni 2011

sudah, biarkan

sudah, biarkan saya bercinta dengan ujung-ujung harapan yang ditindas nyata
karena pelangi yang membentang bukan ditujukan untuk pengharap mimpi
menyamar sebagai senyum penggembira dan memberi cerita-cerita bahagia
dan mengakhiri kisah sendiri yang berbalut derita tanpa sudi melangkah pergi

sudah, bebaskan saja menari bersama cita-cita kelabu beralaskan merah muda
karena lelaki yang dinanti tak akan pernah ada untuk hari yang dirajut pedih
melangkah satu-satu untuk pergi dan menyanyi sejumput kisah si gadis hujan
kemudian memonopoli akhir dengan tawa meski bukan bahagia yang terbawa

sudah, biarkan saya. bebaskan saja
berlari dengan mimpi yang akan dilepas satu-satu hingga habis semua.

Jumat, 27 Mei 2011

cerita tertera

selangkah hari yang kujalin dengan diri mulai berarti
ketika menyadari kehadiran senyummu yang tak mungkin dihindari
dengan setitik luka yang sama, tanpa tawar yang berbeda
bahkan tak dapat dibandingkan antara tangis dan tawa
sepetak langkah yang terhimpit ternyata berujung
saat mengetahui adanya hangatmu yang lebih berseri
tanpa cela yang bermakna, dengan hasrat yang tak mendua
hanya perlu waktu untuk menikmati dan semua berbeda
sekejap mata yang kurakit bukan sia yang akhiri
waktu bergulir dan mengetahui adanya hari yang lebih pasti
bukan tanpa tiada, namun sedikit lebih jauh dari perih
dan rasa yang tersedia mau tak mau akan tercicipi asa

aku mencinta? ah, entah
hanya saja, bayanganmu terlalu melekat pada dinding kesadaranku.