Jumat, 16 Januari 2015
What is the right thing to do?
What is "right"?
Owning a slave isnt right today,
But 1000 years ago, it was rightful.
Even more years, if you were a king, you could just fuck a random woman, rape her and all, and you would have her as your wife - this, according to Bible, was the right thing to do.
Now? I dont think so.
In Indonesia, being a Muslim is a right thing to do - or at least being religious.
Rewind a thousand years ago, being Hindu was the right thing to do. Even more years, being an animist was the right thing to do.
Now, succeeding in life economically is the right thing to do. As well as being a doctor or an engineer.
Centuries ago, being a mayor was the right thing to do, as well as being a good wife who stayed her whole life in a kitchen.
Not even a century ago, smoking was the right thing to do when you were sick.
Now, by not smoking, is the right thing to do when you are sick.
Now, war isnt the right thing to do to solve a big problem.
Centuries ago, war is the right thing to do to solve a big problem.
Lets stop seeing it from time to time,
Lets start seeing it from place to place.
In Indonesia, being virgin until marriage is the right thing to do.
In Russia, not being virgin after 18yo is the right thing to do.
In Indonesia, not criticizing religions is the right thing to do.
In Europe, criticizing religions is the right thing to do.
In Sweden, a rapist treated with psychological and social treatment is the right thing.
In Iran, a rapist treated with stones to the head until death is the right thing.
Whether you see it throughout the time or place,
Whether you see it from my point of view or else,
I dont think we can know the truly "right".
Or maybe, just maybe,
Rightness itself doesnt exist,
And we are deluding ourselves, the rightness should exist.
In conclusion,
There is no right path,
There is only a path you choose.
Credit to: Mario.
Senin, 22 Desember 2014
Celoteh daun teh di pagi hari
Mungkin menarik untuk kalian baca, mungkin tidak. Tetapi ini rumah saya, dan saya punya kapasitas penuh untuk meletakkan sampah apapun didalamnya.
Celoteh daun teh di pagi hari
Menggenggam embun di pangkuan, tatapannya menerawang
Matahari tersenyum lebar, tidakkah kamu ingin mengecupnya ringan?
Jangan tunggu hari esok, rupanya semu
Sepetik lengah dan kita hanya akan lebur menjadi uap dengan udara
Celoteh daun teh di pagi hari
Menantang terik di hadapan dunia, angannya terbahak
Matahari mengerling penuh makna, tidakkah kamu ingin merengkuhnya dalam?
Jangan tunggu hari esok, rupanya semu
Sebelum malam menjadi preman dan mencuri harap yang tertumpuk di permukaan
Celoteh daun teh di pagi hari
Warnanya kian memudar, sementara aromanya telah menyengat pekat
"Waktuku menipuku," bisingnya pilu
Dan kini saatku menyelinap pergi, pagi-pagi yang kulalui
Mengapa kamu hanya menunggu hari esok, yang rupanya semu?
Cipanas, Juli 2013
Gadis Hujan.
Ps: saya bahagia. Ada apresiasi dari tulisan saya, yang lamat tersendat dan terlihat tidak mungkin memikat. Setidaknya ada peminat. Terima kasih, kamu :)
Jumat, 21 November 2014
Apakah kamu baik-baik saja?
Saya bertandang selayaknya tamu di dalam rumah sendiri. Ruah. Kedinginan, Bersin-bersin tidak karuan. Memetakan mimpi masa lalu yang tidak lagi memiliki rupa. Saya datang hanya ingin sedikit bersih-bersih. Mengelap kaca, menyapu lantai. Menghapus debu-debu yang sudah menyisakan karat pada sisi-sisi kehidupan.
Apakah kamu baik-baik saja?
Hidup saya mengkeret. Mimpi saya luar biasa hitam. Hari saya kelabu, walau sekarang-sekarang ini ada banyak awan putih menaungi. Menjadi dari abu-abu menjadi abu-putih. Cita-cita saya meredup, realita saya kian menyiksa. Waktu-waktu melangkah maju tanpa mampu dirasa. Umur semakin bergulir tanpa ada daya untuk tidak menyakiti sesiapa, tetapi merusak segala.
Apakah kamu baik-baik saja?
Adakah diantara kita; abu imaji dan harapan; baik-baik saja?
Kepada Langit Sendu,
Gadis yang menunggu hujan.
Selasa, 10 Juni 2014
What worth is?
Life. is. hard. enough. LOL
Meski kemarin malam saya kurang tidur, tadi ambil lembur sampai telat makan kemudian maag, tetapi saya berhasil menemukan celah waktu untuk menulis lagi, disini. Lagi, rasa rindu mengikat yang membuat saya kembali menulis di blog. Meskipun *lagi-lagi* tidak tahu apa yang mau ditulis. Meskipun rasanya saya mau nyopot badan terlebih dahulu, agar lelah-nya hilang.
But I feel like this is worth to do. So I choose to do this, writing.
Talk about worth or not, I wanna ask you *anyone, yang ngebaca postingan ini* something.
Menurut kalian, apakah keputusan yang sudah kalian ambil dan tengah kalian jalani saat ini adalah keputusan yang pantas untuk dipertahankan?
Selasa, 26 November 2013
Aku si Penggila Rasa
Jumat, 01 November 2013
Reaching Older
Atau lebih tepat jika disebut pasrah, dengan tingkat penyerahan level tidak terhingga. Terutama mengenai mimpi.
Saya ingat jelas, ketika ulangtahun yang ke-5. Dirayakan di te-ka, guru saya bertanya setelah meniup lilin ultah,"nanti besar, mau jadi apa?" Spontan saya menjawab, "dokter.". Pemikiran standar anak umur kisaran. Lulus SD, saya berkata sama orangtua saya kalau saya ingin menjadi pianis. Ketika SMA, saya berharap menjadi seorang psikolog dengan sambilan menjadi seorang penulis. Bahkan ketika kuliah, saya masih sempat bermimpi menjadi seorang presenter.
Sekarang?
Saya jadi kuli bagi kehidupan. Merintis kehidupan yang diinginkan orangtua, yang dituntut keluarga ditambah situasi saya sebagai anak pertama. Menyadari bahwa mimpi-mimpi itu indah tetapi tidak cukup menghasilkan uang; hal yang dianggap menaikkan martabat diri ditengah kota metropolitan. Mengibarkan bendera putih sepenuhnya. Mimpi saya hilang, lenyap.
Make a wish? Di usia yang mencetak angka favorit saya, saya hilang arah; ditelan tekanan hidup.
But still, sweet things happened when you are having birth-day. Yang agak ngeselin comes from seli; my cutiest sister. But still, that's sweet. Just check her blog : here
Jumat, 26 Juli 2013
BALI I AM IN HOLIDAY!
| me, mom, sally |
![]() |
| Somehow I wonder, where is this statue lookin’ at? Or who? |
| I love my sister’s smile in here. Ngga sebanding sama batu-batu tajam yang melatari senyumannya *okesip* |
She is very pretty,
especially her long skirt. Pink! Those kind of ethnic skirt, aweee~
|
| greenday. LOL |
| pretty, isn't it? |
| pura in Bedugul |
| Bedugul |
| moron sista |
ps : all the pictures here are belong to me. was taken by me. so? nope, I just wanna let you know.. :p
Jumat, 24 Mei 2013
Ketika galau datang lagi
rasanya saya rindu menulis. sangat. dan karena -terimakasih atas datangnya kembali- rasa rindu yang mendesak tersebut, saya kembali melongok kesini. sekedar menulis, sekedar basa-basi. bertemu teman lama, blog.
saya patah arang. kemarin, saya resign dari posisi reporter sebuah televisi swasta yang disiarkan lewat kabel -atau sebut saja tv berbayar LOL- dan hal itu membuat saya semakin bingung harus apa. pusing.
sebelumnya sempat keterima di Gramedia PKG -kalau ngga salah, lupa juga sih singkatannya- sebagai editor, tapi ayah ngga setuju. he said, "editor kan cuma duduk dibelakang meja, ngobrol sama komputer. kalau reporter kan bisa ketemu banyak orang penting!"
then, I tried to make him happy. I took that job, but I failed.
ibarat kata, saya tidak biasa mencari berita, saya biasanya menjadi sumber berita *PUIH* XD
meskipun salary dari posisi reporter jauh lebih besar, tetapi ternyata saya berharap kemarin saya mengambil posisi editor. don't ask me why.
dan sekarang, saya semakin bingung mengenai masa depan. mungkin saya harus kuliah lagi. Magister. dan kemudian bekerja kantoran, just like ordinary people.
Tuhan, saya tidak akan melepaskan passion saya sebagai seorang penulis. entah darimana jiwa seni yang satu ini, yang pasti saya menyukainya. walaupun orang-orang disekeliling tidak begitu ngeh akan tulisan saya.
eniwey! ngga sengaja buka blog lama jamannya sama mantan pas kuliah dulu. and damn, I miss that moment so much. rasanya memang butuh lelaki baru yah? *hihi
penasaran sama blognya? I won't tell you :P that's privacy! saya aja kaget pas ngeliat blog itu sekarang, kinda shocked kalau saya bisa merangkai kalimat romantis. romansa memang bisa membuat manusia menjadi pujangga. yang setuju katakan amen!
Kamis, 22 November 2012
hujan mengendap-endap
Selasa, 23 Oktober 2012
pendewasaan diri dari segi apa?
Selasa, 25 September 2012
Nothing to lose
Rabu, 13 Juni 2012
bahagiaan
Jumat, 04 Mei 2012
selamat malam, malam rindu.
Rabu, 04 April 2012
hilang nyawa
Rabu, 01 Februari 2012
hujan hujan hujan
saya gadis hujan, tetapi tidak cukup kuat untuk menghadang hujan. rasanya seperti belanja ke factory outlet dan baru sadar uang kurang ketika didepan kasir.terakhir kali saya bermain hujan, di penghujung 2011; awalnya hanya mendung yang tanpa tepi. anginnya dingin, tapi yakin ngga akan bikin masuk angin. dan sendal jepit oranye yang mengikat kaki penuh kuyup. inti daripada intinya : ketika angin basah niup aroma tanah yang kena hujan. rasanya... kalaupun harus sakit, saya ikhlas :') hehe
np : yang bikin heran, kenapa setiap kali ketemu kamu selalu ada hujan? hujan yang mengikutimu, atau kamu yang mengikuti hujan, atau kamu sendiri adalah hujan? hei kamu, lain kali kalau ada waktu untuk ketemu, saya mau bertanya tentang hujan. saya yakin anda tahu.
dan sekarang diluar hujan. mungkin saya akan ketemu kamu :)
Jumat, 16 Desember 2011
derit pelatuk
Rabu, 30 November 2011
kata berkata
Hentikan ini semua.
Aku memang mencinta, tetapi aku tak dicinta, lagi.
Dia, aku, kamu.
Kamu, dia, aku.
Kalian, dan aku. Bukan kita dan dia.
Karena kalian terlalu rapuh dari aku.
Biar saja semua yang tertera menjadi mimpi indah diantara bayangmu dan senyumku. Hanya ilusi. Dan bukan certa utuh yang pantas diabadikan.
Abaikan saja rindu yang menggelitik, yang sesekali menyusup kemudian mengiris, ia hanya bagian yang harus kamu dan aku lewati dalam proses menjadi dewasa. Dengan keputusan yang kamu dan aku akan pelajari.
Semuanya akan baik-baik saja. Suatu hari nanti.
Dengan waktu yang terulur dan jarak yang terukir.
Jangan memencak, aku yang telah menggali kuburku sendiri. Aku hanya bercerita, dan bukan memelas untuk meminta.
Hey, langit-langit dengan riap harap yang tak pernah habis diantara semu,
Jangan menatapku pelik.
Aku tak sudi melihatmu mendelik. Karena kamu hanya saksi yang bisu tuli buta.
Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Untuk aku, kamu. Kamu, aku. Bukan kita. Memang tetiada kita.
Saat kamu rasa, aku buta. Saat aku rasa, kamu tak bersedia.
Meski kamu kata akan ada aku dan kamu. Di lain waktu. Kapan? Nanti. Nanti? Kapan-kapan.
Bukan, langit-langit. Aku tak mau lari. Aku bahkan tak bisa lari. Kamu satu yang mungkin diperjuangkan dan ingin diperjuangkan tanpa dipandang pantas tidaknya untuk diperjuangkan.
Hanya saja, langkah yang terpekur sudah membuat jiwaku tersuruk. Jangan berharap ada lagi senyum yang benar di bibir. Aku lupa. Jika kamu mengira senyum ini benar, maka kamu buta.
Kamu benar sudah merebut sendi hati tanpa sudi mengembalikannya. Atau mungkin sudah hilangkannya?
Atau bahkan kamu tengah bermain dengannya.
Aku tak tahu. Tak mau tahu.
Satu hal pasti, semuanya sudah menjadi milik kamu. Aku tak peduli mau kamu buang, kamu juang, kamu bentang, kamu pasang. Atau kamu jadikan sisa petang sebagai hiburan. Atau mungkin sekedar pajangan kebanggaan?
Aku tak menuntut. Ini salahku. Kuburanku. Nyawaku.
Mati.
Hey langit-langit dengan riap harap yang tak pernah habis diantara semu, kamu tau?
Mungkin kamu yang tengah bersekongkol dengan kamu. Disini aku tertawa miris menatap pilu. Mengapa dengan mudah aku menitipkan semua nyawa yang kumiliki kepada kamu yang tak bisa kumiliki untuk saat ini?
Tuhanku aku, buta.
Diantara pahit-pahit yang memeluk, dengan sendi-sendi harap yang menusuk.
Aku merana.
Ditempa hidup yang membabi buta coba merasuk dan menyakti hingga tak lagi aku punya bentuk.
Menelan sayup pilu yang bertumpuk disetiap mimpi-mimpi yang setiap hari semakin buruk.
Penciptaku, aku tak lagi kuasa.
Satu-satu nafas yang ditampuk hanya buat jiwaku semakin remuk.
Aku tak pinta.
Detik-detik hidup yang coba merajuk lagi mampu tempaku jadi terbekuk.
pagi yang menyusup dari pias yang tertumbuk buat makin tertohok, masuk.
Aku tak mau nyawa yang terpendar, tarik saja. Pendaran nadi haya membunuhku pelan-pelan.
Meregang nyawa yang kunanti, mengapa tak kunjung datang?
Senin, 31 Oktober 2011
goodbye, teenager.
Hari ini, katanya spesial. Biasanya minggu malam udah lenyeh di kamar kos, sekali ini diminta mama tetap dirumah dan memilih untuk ikut papa berangkat pagi buta yang akan berangkat ke bandara jam lima. Kenapa?
Biar orang rumah tetap bisa ngucapin selamat ultah secara langsung, untuk yang pertama. Dan masih, papa berhasil menjadi orang yang pertama. Lelakiku.
Kata banyak orang –dengan saya masih dalam satu pemikiran-, ulang tahun itu penting. Inginnya ada saat untuk tiup lilin. Ada ucapan dari orang yang terpenting. Mendapat doa dan kecupan di pipi dan di kening. Todongan bayarin makan dari banyak orang yang ingin.
Entah kenapa, di tahun ini semua hampir terasa hambar.
Bukan tanpa alasan, tetapi justru kekhawatiran yang lebih mendominasi. Beberapa hari silam, saya mencoba membuat bahan renungan untuk introspeksi diri, dengan bertanya secara gamblang kepada sejumlah orang dalam contact BBM tentang karakter yang seharusnya saya buang.
Dan, tidak ada jawaban yang cukup memuaskan, sehingga saya gagal mencari cerminan agar menjadi manusia yang lebih baik.
Jujur, saya khawatir jumlah angka yang sudah jelas menghapus kata teenager tidak berbanding lurus dengan tingkat kedewasaan yang saya miliki. Kini pilihan hanya ada dua yang tersisa; “menjadi dewasa sejalan dengan usia” atau “kekanakan meskipun usia sudah masuk kepala dua”, tanpa pilihan “kekanakan karena memang belum dewasa”.
Dan karena hal ini juga, saya berharap tidak menjadi pusat perhatian untuk hari ini. memilih untuk memperhatikan daripada diperhatikan. Untuk melihat daripada dilihat. Karena saya belum siap, menjadi dewasa. Pemikiran saya masih kanak-kanak. Belum pantas dibilang ‘dua puluhan’.
Hal kecil seperti ini justru terasa lebih mengganggu. Entah mengapa banyak orang berpikir bahagia di hari lahir yang berulang. Banyak yang menuntut kedewasaan di hari yang sama. Padahal, seharusnya bertambah dalam hal positif itu dilakukan setiap hari, bukan? Mengapa orang-orang justru mengharapkan perubahan dalam satu hari saja?
Sebenarnya, saya lebih berharap semua berjalan seperti biasa. Jangan ingatkan saya kalau jatah hidup saya sudah kembali berkurang, karena sebenarnya saya menyadari bahwa setiap hari saya bertambah tua dan (semoga) bertambah dewasa.
Tetap, saya akan tetap berucap selamat menapaki hari dengan pemikiran yang berbeda, gadis hujan. Semoga hujan yang berlalu dan berlalang di harimu yang datang tidak sampai hati untuk membasahi sudut-sudut mata yang tengah berusaha untuk kering.
Kamis, 27 Oktober 2011
blogger's day!
Selasa, 25 Oktober 2011
saat kamu
Rabu, 19 Oktober 2011
Selasa, 20 September 2011
Mari, kamu
Senin, 22 Agustus 2011
mimpi
Rabu, 22 Juni 2011
sudah, biarkan
karena pelangi yang membentang bukan ditujukan untuk pengharap mimpi
menyamar sebagai senyum penggembira dan memberi cerita-cerita bahagia
dan mengakhiri kisah sendiri yang berbalut derita tanpa sudi melangkah pergi
sudah, bebaskan saja menari bersama cita-cita kelabu beralaskan merah muda
karena lelaki yang dinanti tak akan pernah ada untuk hari yang dirajut pedih
melangkah satu-satu untuk pergi dan menyanyi sejumput kisah si gadis hujan
kemudian memonopoli akhir dengan tawa meski bukan bahagia yang terbawa
sudah, biarkan saya. bebaskan saja
berlari dengan mimpi yang akan dilepas satu-satu hingga habis semua.
Jumat, 27 Mei 2011
cerita tertera
ketika menyadari kehadiran senyummu yang tak mungkin dihindari
dengan setitik luka yang sama, tanpa tawar yang berbeda
bahkan tak dapat dibandingkan antara tangis dan tawa
sepetak langkah yang terhimpit ternyata berujung
saat mengetahui adanya hangatmu yang lebih berseri
tanpa cela yang bermakna, dengan hasrat yang tak mendua
hanya perlu waktu untuk menikmati dan semua berbeda
sekejap mata yang kurakit bukan sia yang akhiri
waktu bergulir dan mengetahui adanya hari yang lebih pasti
bukan tanpa tiada, namun sedikit lebih jauh dari perih
dan rasa yang tersedia mau tak mau akan tercicipi asa
aku mencinta? ah, entah
hanya saja, bayanganmu terlalu melekat pada dinding kesadaranku.





