Senin, 22 Oktober 2012

pendewasaan diri dari segi apa?

Saya galau. saya kalut. setelah sekian lama saya lupa untuk berkutat dengan kemelut -well, beberapa waktu berselang saya benar menyadari bahwa kesibukan bisa bikin kita lupa total sama sesuatu yang sering disebut orang sebagai galau- dan pagi ini saya merasa ada hal yang menggigiti pikiran, perasaan, dan ingatan.


Saya akan -kembali- bertambah tua dalam hitungan beberapa hari lagi.



Kalau mau dikaji ulang, sebenernya bertambah tua itu terjadi di setiap milisekan waktu. setiap kali waktu berhitung maju, maka umur kita juga ikut berputar laju. hanya saja, manusia tidak begitu memperhatikan, karena pertambahannya konstan tanpa perbedaan. sementara manusia membutuhkan perubahan fisik; mungkin muncul uban, atau kerutan, atau penambahan angka pada usia.



Setelah perubahan fisik, maka akan merangkak maju ke perubahan yang sedikit lebih tidak terlihat; hal-hal yang disebut seperti pendewasaan diri. setelah menulis satu kalimat tadi, jemari saya membeku.



PENDEWASAAN DIRI.



Dalam hitungan hari, angka di usia saya akan bertambah banyak satu lagi. dan sejauh ini, saya merasa memasuki kepala dua tidak berarti banyak; saya masih menjadi seorang yang manja -tolong, jangan sebut kata ini sebagai singkatan dari mandi jarang. saya rajin mandi!-, masih bergantung sama orangtua -sementara saya ini anak pertama yang seharusnya menjadi tumpuan banyak pihak-, tidak becus mengambil keputusan, kekanakan, dan segudang karakter lain yang seharusnya sudah saya buang namun masih aktif dalam kelakuan.



Satu sisi, ibunda tercinta sudah mulai aktif bertanya hal-hal konyol, such as : 'jadi pacarmu yang mana?' atau, 'nanti setelah lulus mau lamar kemana?' seringkali juga mengeluarkan komentar membingungkan, seperti 'kalau mau pacaran jangan pulang malem-malem ya,' sementara saya cuma bisa bengong, mungkin menurut beliau minum secangkir kopi bersama skripsi dikategorikan sebagai pacaran.



Hal-hal kecil seperti ini muncul di pagi hari setelah hari sebelumnya saya hanya tidur selama tiga jam -skripsi dan kepergian alm. Tulang Daud benar-benar membuat kedua kelopak mata saya sulit terpejam- seakan membuat alarm di otak saya berdering kencang. it feels so much weird. saya seperti merasa dalam hitungan beberapa hari, usia saya bertambah 10 tahun.



Saya masih suka bermain air. saya masih suka manja 'ngga jelas sama Seli, my cutiest sister. saya masih merasa bahwa adik kecil saya Jojo memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa. Saya belum menjadi apa-apa, tetapi usia mendorong secara paksa agar saya segera menjadi apa. disaat saya merasa tidak -dan sepertinya tidak akan pernah- siap.



Jika saya menyimpulkan bahwa keputusan saya untuk single sementara waktu ini -sampai nanti yang disebut entah kapan- adalah keputusan terbaik agar saya mampu meraih kata pendewasaan diri, hal ini bener ngga ya? toh saya -merasa- belum setua itu untuk berpikir masalah jodoh atau apapun itu. saya masih ingin seneng-seneng tanpa status dulu, sebelum serius...