Selasa, 10 Juni 2014

What worth is?

Hari ini panjang dan melelahkan, sejujurnya. Dengan status sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta, saya diwajibkan masuk kerja sebelum jam delapan, dan barusan *dengan terpaksa* saya harus mengambil lembur sampai baru menginjakkan kaki di rumah jam sepuluh malam.
Life. is. hard. enough. LOL

Meski kemarin malam saya kurang tidur, tadi ambil lembur sampai telat makan kemudian maag, tetapi saya berhasil menemukan celah waktu untuk menulis lagi, disini. Lagi, rasa rindu mengikat yang membuat saya kembali menulis di blog. Meskipun *lagi-lagi* tidak tahu apa yang mau ditulis. Meskipun rasanya saya mau nyopot badan terlebih dahulu, agar lelah-nya hilang.
But I feel like this is worth to do. So I choose to do this, writing.

Talk about worth or not, I wanna ask you *anyone, yang ngebaca postingan ini* something.

Menurut kalian, apakah keputusan yang sudah kalian ambil dan tengah kalian jalani saat ini adalah keputusan yang pantas untuk dipertahankan?

Mungkin efek malam, hujan dan rasa lelah membuat saya -sekali lagi, kembali- menulis postingan yang cukup, galau. Tentang kehidupan.

Saya akui, saya tengah merasa hilang jejak. Menulis bukan lagi menjadi sebuah cita-cita namun hanya hobi yang sesekali harus saya lampiaskan. Musik bukan lagi menjadi harapan untuk digapai tetapi kebutuhan yang harus tetap dijalankan. Seperti manusia butuh nafas dan tidur, atau seorang hiperseks yang butuh hubungan intim. Saya butuh menulis, saya butuh musik.
Tetapi saya justru menjadi seorang musafir tersesat dalam construction company yang tengah berusaha untuk berkembang, ikut mengais rejeki ketika saya bahkan tidak mengerti apa yang terjadi.

Stress? Jangan tanya. Saya hampir gila, dalam makna yang sebenarnya. Pelarian saya tidak ada, hilang. Saya tidak puas hanya membaca, saya butuh menulis tetapi waktu seakan pergi berlarian. Tidak cukup hanya mendengarkan musik, saya butuh bermain tetapi jemari saya kaku; terlalu lama memegang keyboard dengan jenis yang berbeda, yang tidak melahirkan nada.

But, guess what, time heals. Saya mulai merasa ini semua menjadi habit. Saya menjadi seorang yang pendiam, acuh tidak acuh, Menjalankan hari tanpa target yang saya inginkan. Begitu saja, sudah. Pergi pagi pulang petang untuk mengumpulkan pundi-pundi yang masih juga tidak terkumpul, karena banyak sekali yang harus ditanggung selain diri sendiri.

But -again-, I feel like it is worth. Pengalaman ini. Pertahanan diri model seperti ini. Didikan yang saya terima dari manusia-manusia kantor dan kantor itu sendiri. Kelelahan dan muak yang menumpuk ini. Jangan tanya -please do not ask- apa yang membuat hal ini worth. Saya sendiri bingung, tetapi menurut saya, this strengthen my mental. Kalau kata lagu, what doesn't kill you makes you stronger. Dan saya tidak menyesal. Saya merasa keputusan yang saya ambil untuk tenggelam disini, adalah pantas untuk dipertahankan. Meskipun ada banyak kata "tetapi" mengekor dibelakang.

Bagaimana dengan keputusan yang tengah kalian ambil? Pertanyaannya hanya satu; is it worth?

Entah. Mungkin otak saya memang benar sudah tumpul. Setidaknya saya menguapkan sedikit kepul dari kepala saya, dengan menulis saat ini :)