Kamis, 30 September 2010

#5 - nyawakata


kata itu, bahan dasar dari sebuah nyawa
berikrar menjadi seperti tuhan
menumpahkan setetes demi tetes nadi antara kata dengan kata
meniupkan nafas yang terurai dibalik rangkaian dari cerita

ketika kata, terasa seperti manusia yang tak memiliki apa-apa

kecuali tuhannya

yang menjalin dengan kata-kata lainnya

tetapi tanpa perlu perlahan ia merangsek, menuju depan

terkadang menjadi pemeran utama, diatara rentet drama

sesekali hanya figuran disela fasihnya kata berirama

bahkan mampu menghilangkan makna asli dari dirinya

tergantung tuhannya
menyesapkan senyum, selama kata terlalu banyak gula

menghapuskan tawa, sewaktu kata mengandung segudang lara

memupuk jalur diatas dahi, manakala kata begitu memenuhi arti
menghabiskan rasa, diatas penasaran yang menggugah asa

terlalu menyamak nyata dikala hela merambah

terserah tuhannya

dan sekali ini lagi, aku menjelma
menjadi tuhan atas kata
yang kucipta

menjadi sebuah asa

Selasa, 28 September 2010

#4 - beruangcokelat


bukan, dia bukan beruangku (lagi)
tetapi dulu ketika waktu masih bergulat dengan rasa tawar, aku memilikinya
ketika setiap tawa yang terlintas tak perlu diperhatikan
saat kedekatan yang hadir tak pantas untuk dirisaukan
lamat-lamat aku menyadari setiap detik yang terlewati mulai mengukir wajahnya
satu, dua langkah perlahan membisikkan bayangannya
lima ketuk yang dirangkai bersama mulai mengganggu hari dan menit tanpa dirinya
dan menyadari, berhenti mengingini adalah hal mustahil untuk dilalui
baru mampu dimengerti, ternyata pahit itu sesuatu yang nyata
mungkin dinikmati
bukan, dia bukan beruangku (lagi)
meski waktu yang sempat terjalin begitu berarti dan menguasai langit-langit harap
menguasai imaji yang begitu berkuasa, bukan hanya disaat gelap meraja
mematri pikiran agar tak mencinta seorang yang tak mampu diraih
tetap saja, sayat terasa jika ia memalingkan mata
satu saat nanti ketika waktunya tiba

#3 - ayah


aku gadishujan pecinta ayah, yang sudi mengganti popok saat aku baru melangkah ke dunia
bangun dimalam hari mendengar celotehan kecilku dan berupaya menenangkan disaat bayi.

aku gadishujan pecinta ayah, yang selalu hadir melangkahkan kaki mengambil rapot tahunan
baik merah maupun hitam selalu mendapat semangat dan senyuman.
aku gadishujan pecinta ayah, yang susah payah memasang kipas di ujung jendela kamar
dan mengulangi prosesnya yang penuh penat agar tidak jatuh menyakiti anaknya.
aku gadishujan pecinta ayah, yang menyemangati pertandinganku dengan caranya
meniti setiap titik yang peduli agar aku tidak merasa sendiri.
aku gadishujan pecinta ayah, yang mengendap-endap menyusup masuk keruang tidur
hanya untuk melirik apakah selimut telah melapisi tubuh dengan sempurna.
aku gadishujan pecinta ayah, yang tidak mampu memeluk ketika aku terkapar tangis
namun merutuki dirinya sendiri merasa gagal untuk melindungi.
aku gadishujan pecinta ayah, yang seringkali tak mampu berbual ketika duduk semeja
tetapi aku tahu kami berbincang walau tanpa kata terujar dimuka.
aku gadishujan pecinta ayah, yang kini mulai terlihat kerut didahinya karena tuntutan usia
walau aku sadar hatinya akan sama tak tergarut oleh rajutan waktu...
aku gadishujan, yang mencintai ayahnya :**

Senin, 27 September 2010

#2 - malam bulan gulita



ini malam, menjelang pagi
ketika detik-detik waktu bergusar, minta dininabobokan
disaat senyum bulan dihalang tingginya bangunan
sinarnya malu-malu merembes di sela kaca transparan
seorang di balik kamar tak mampu terpejam
ini malam, menjelang pagi
redup cahaya lampu berkedip-kedip, minta diberi neon pengganti
derum motor melintas, pelan-pelan bersama derap kaki
langkahnya satu-satu tak mau mengganggu hari
takut disangka maling yang ingin pergi
ini malam, menjelang pagi
lensa besi teronggok lunglai di pinggir gelas
tak ingin digunakan, tak mau disimpan
pemiliknya hanya mengintip dari balik bantal
toh, matanya sudah buta, untuk apa pakai kacamata?

hatiku pecah!

eh, hatiku pecah total. Prang! dibentak nyata
kamu bilang sudah akan melepaskannya! mengapa masih mengharap dunia berputar bersamanya?
aduh. jangankan langkah satu-satu. menatap ke depan saja aku masih belum mampu;
masih melirik sisi jendela, berharap kamu ada di situ,
sibuk mengutak-atik ponsel, menanti sms yang paling ditunggu,
bingung memikirkan lagu yg ingin kunyanyikan diiringi kamu.
waktu dimana seharusnya aku menghitung maju, justru kulakukan untuk mengulang lagi
bahkan otak yang biasa berpikir dengan logika justru terbawa jauh dengan perasaan. mungkinkah?
tik tok. denyut kenyataan mulai berbisik lagi. tik tok tik tok
perasaanmu bukan milikmu seutuhnya, katanya. tik tok
kata temanku, menelan rindu sebentuk hati sesekali mampu mengenyangkan asamu
untukku, itu justru membunuh jiwa yang berdetak mulai tak beraturan
aduh. menghentak nafas pun rasanya menyakitkan
karena hatiku sepertinya sudah pecah total, dibentak nyata.

#1 - gadishujan dan gelascokelat


gadis hujan meratap di balik jendela kayu
menggenggam segelas cokelat berlapis kopi pahit
ketika angin bergulir, meniup-niup selapis rambut di pelipis
sampai udara gelas tercampur dengan baur air menyentuh tanah
setitik, dua titik merembes masuk dari sisi jendela
menyentuh lengan telanjang
menyerap dingin yang terhambur keluar
ketika kaca yang tersentuh mulai terlapis dinginnya suhu
gadis hujan masih meratap, kekasih tak kunjung datang
meski kopi cokelat telah dibuat bertahun-tahun yang lalu

selamat datang :D

awal penuturan kata, saya ingin berkata selamat datang, kepada jiwa. kepada mata. kepada kata dan kepada anda. saya cinta kata, saya ingin menulis berjuta juta kata. bukan semata untuk menghibur sesiapa, tetapi hanya untuk meleburkan diri dengan cerita tentang segalanya.