Sabtu, 25 Desember 2010

berdansa

mari berdansa
dengan rintik-rintik hujan yang menyela diantara
dinding-dinding jendela
aku menjadi air dan kamu dinginnya
kamu menjadi hesap dan aku udara

Sabtu, 18 Desember 2010

ketika mencinta

aku mencinta sekerat batu
yang melebur ketika disadur bersama abu
dicoba satu-satu
dengan sayat di setiap penat yang tersisa
demikian, namun tetap menghentak asa
melepuh pahit menerpa
Tuhan, aku mencinta sekerat batu
meski terlalu pahit untuk ditelan disatu waktu
maafkan aku

Rabu, 15 Desember 2010

#30 siapa aku

karena aku, bukan aku yang
menjelma dengan senyuman dibalik riap jelita kehidupan
lalu melenggang manis meninggalkan altar kenyataan
meniti inci demi inci hasrat yang tak pernah terbayar
dengan kasar
melepas penat dengan bingar
tanpa guna
karena aku, bukan aku yang
mengguyur hati tapak-tapak demi sebuah kebahagiaan
kemudian terbirit lepas ketika rasa mematri bosan
menapaki langkah-langkah yang pasti merajam sunyi
lalu mati
membuang nyaman tanpa pasti
tiada arti

karena aku, bukan aku yang
menjadi aku
jadi siapa aku?

#29 kalau aku

ketika aku mencinta
mungkin langit tak akan terbelah dua
lalu menumpahkan dewa-dewi menemani jejakmu
tetapi
ketika aku mencinta
hati ini terpisah dan lepas semua
kemudian semuanya menjadi milikmu

#28 tirai

tirainya sudah dibuka
lebar
tapi kamu tak juga menunjukkan muka
hanya mengintip dibalik jendela
melambaikan cinta setengah-setengah
dan aku sudah menumpahkan semuanya
ruah
kamu hanya mendelik
melirik
mungkin memang bukan searah dengan rasa
yang kamu punya
padahal tirainya sudah dibuka
terlalu lebar

Senin, 13 Desember 2010

secarik cerita tentang papa

papa cuma manusia, memang.
hanya seorang papa yang mengganti popokku ketika bayi dan menyiapkan susu untuk diminum setiap pagi. dulu. sekarang? susu untuknya harus dua sendok penuh susu putih dan satu sendok penuh gula. dan papa begitu mencintai rasa manis yang tercipta.

papa cuma manusia, memang.
selalu mencoba menghibur anaknya yang tidak bisa menggambar dikala senja. merobek selembar kertas kerjanya, lalu mengambil pena. mencorat-coret pelan dan menghasilkan gambar berpita. terkadang ada jerapah, kuda, tikus ataupun zebra. ia yang memberi nama. sekarang? aku menyadari gambarnya bukan apa-apa. ia hanya membentuk kepala dengan badan yang sama, terkadang dengan ukuran leher yang berbeda. tetapi semuanya masih menciptakan tawa.

papa cuma manusia, memang.
ketika aku bercerita di kelas lima untuk yang pertama tentang seorang laki-laki setahun lebih tua, berani menyatakan cinta. papa tertawa. dan aku ikut tertawa. kami tertawa renyah dan begitu saja. sekarang? entah berapa banyak laki-laki datang, papa bingung. aku acuh tak acuh, papa yang linglung. meski wajahnya terlihat tak suka, menyadari anaknya kini sudah hampir menjadi wanita.

papa cuma manusia, memang.
yang pertama kali mengenalkanku akan musik. gayanya memetik gitar ada di ingatanku, terekam dengan baik. ia akan berdendang kencang-kencang, dan aku mengikuti dari belakang, meski tak mengerti. sekarang? aku menyadari kunci-kunci sederhana yang ia mainkan. setiap pulang kerumah, aku akan duduk didepan piano dan papa berdiri di sebelah. meminta lagu aku mainkan, ia berdendang. meminta lagi, dan berdendang lagi. begitu terus sampai kami merasa bosan.

papa cuma manusia, memang.
ia selalu berusaha menjadi orang yang bisa diandalkan. pergi sekeluarga, menyetir hanya ditemani radio usang dikala yang lain sudah tenggelam dalam tidur dan diam. membetulkan tas yang rombeng hanya dengan obeng yang sudah usang. menjadi montir atas segalanya. sekarang? ilmu menyetirnya sudah turun kepadaku, tetapi ia masih berusaha menyetir sendiri, walau malam-malam. mungkin ia tak menyadari aku berusaha untuk tak lagi tidur ketika ia menyetir, menemaninya meski dengan diam. tas rombeng kini tak lagi dipintal, aku yang mencoba memperbaikinya. namun ia tetap menjadi montir sejati didalam rumah.

papa cuma manusia, memang.
ketika sabtu menjelang, ia menjadi koki handal. rendang, teri medan, ikan bakar, sayur singkong, daun bayam, sayur pahit. dan aku mengintip dari sisi tangga, mencoba menebak masakan apa untuk hari itu. dan semuanya pasti enak. sekarang? ia tetap memasak, dan aku yang membereskan. aku sering bercanda dengan mengepel sisi-sisi sendal yang dipakainya, lalu papa akan memasang muka garang.

papa cuma manusia, memang.
setiap malam mengendap kekamar tidur aku dan adikku, memastikan pintu dan jendela sudah terkunci rapat lalu memperbaiki selimut. sekarang? ia masih masuk kekamar, tanpa mengendap. adikku sudah terlelap dan pintu jendela terkunci rapat, lalu kami akan menonton acara malam. seringkali tertawa bersama, tak jarang serius dan terpana.

papa cuma manusia, memang.
sekarang dan mungkin selamanya tak akan bisa meminta dengan baik ataupun bertanya. ia hanya akan menunjukkan ekspresi kecil rasa penasarannya, dan itu sangat jelas untuk kubaca. dan aku akan berusaha memenuhi keinginannya. segalanya.

papa cuma manusia, memang.
sedari kecil senang menciumku. setiap pagi ketika mengantar ke sekolah, selalu menempelkan pipi kanan lalu pipi kiri, kemudian menyentuhkan ujung hidungnya ke hidungku perlahan. dan masih, sampai sekarang.

papa cuma manusia, memang.
manusia yang aku banggakan sepenuh rasa. papaku.

untuk papa tercinta ~

#27 mari

mari bercinta dengan bahagia
menyamar jadi senyuman
dan kamu bibirnya

#26 mengukir sampai waktunya

aku mengukir baris-baris cinta yang bisa kita tanam
bersama
saat hari masih ada untuk digenggam
dan kenyataan masih bisa bersembunyi di plastik hitam

menunggu saatnya kita saling berbalik arah
dan memutar haluan kapal
masing-masing
saling menjauhi dan memastikan tak ada yang terluka

#25 coreng di mata

hey kamu, dengan coreng di wajah
mengapa membawa butiran pahit di bibirmu?
oles saja dengan madu setipis
atau terlalu malas mencari?
terlalu cantik cerita yang mengalir dari matamu,
mengapa harus terbagi dengan debu yang bersandar
ditiap kedip yang menghantar?

#24 parodi cerita

alkisah suatu cerita, hiduplah seorang gadis biasa
dengan tawa dan kutang putih membalut tubuhnya
ditinggal ibunya bekerja
sore menghadapi keluarga penuh dilema
hanya ditemani sejumput nista dengan seorang jahanam
duapuluh tahun lebih tua
melampiaskan parodi dalam otaknya
yang berceceran setan
tanpa belas kasihan
kepada yang belum mengerti apapun bahkan sekedip mata
bahkan mahkota yang tengah direnggut darinya
dengan sia-sia
tanpa ancaman, hanya penuh tanda tanya
terpendam sepanjang masa yang harusnya bahagia
sampai satu masa, dimana
gadis menjadi wanita
yang disadari oleh dunia
: senggama yang tak bisa dipilihnya


ps : untuk SAT, terimakasih untuk inspirasinya :)

#23 karena aku

karena aku mencinta
sehingga langit membentuk bahagia dan menderita
sampai hujan membentuk lagi asmara

Kamis, 09 Desember 2010

#22 duadua

aku ingat, kamu begitu nyata
dulu
ketika cinta menjadi hal yang membahagiakan
dimana aku percaya kamu memang pencinta
seperti hujan
dan aku hampir menjadi tanah yang selalu meminta langit
untuk kehadiranmu
sebelum aku memejamkan mata dan menatap dunia dari
sisi keabadian
kamu malah menjelma menjadi malaikat maut
yang membunuh rasa
aku masih ingat ketika aku begitu mencinta
dulu
walau sekarang masih begitu terasa

#21 santa dan sepatu natal

santa mengintip dari balik pintu kaca
membawa sepatu hijau-merah tanpa dikenakan
dan tanpa hadiah.
bahkan keretanya tertinggal di pangkalan
mungkin dia terpana, rumahku sudah terbuka
pohon natal kini menjulang menyambut
dengan bintang tersemat di puncaknya

atau mungkin ia marah? aku mencuri bintang itu semalam

#20 kamu

kamu masih terselip
di halaman buku tipis
dengan potongan-potongan sunyi yang menari
menutup lembaran kosong dari ingatan
berdebu, berpeluh
dengan pita sutera merah muda yang menyembul diantaranya
tersemat luka

#19 bicara

titik-titik peluh dengan sabar menanti
ketika saya menghabiskan waktu senja
dengan hujan
yang masih gerimis
meminta nasehat tentang cinta dan duka
selalu mengintip di balik jeruji kaca
sambil merayap pelan
lalu merembes masuk meski tak pernah ada celah
yang tersisa
titik-titik peluh masih sabar menanti
karena setelah ini ia yang akan diperhatikan

Senin, 06 Desember 2010

#18 berlari

satu langkah, saya cidera menatap hujan
yang menyulam terlalu banyak tetes
menjadi selimut bumi
dijahit dengan tangan-tangan mungil
pecinta tawa
sesekali mencomot satu lalu diemut habis
dan Tuhan tak pernah marah, hanya tersenyum samar
dibalik dinding marmer penghalang
lalu saya menyamar (lagi)
menjadi peri
ikut mencomot setetes hujan
lalu bersembunyi membawa genggaman
duduk-duduk dengan kaki telanjang membawa
cinta Tuhan yang tak pernah meleleh ditangan

#17 penawar rasa

boleh? aku meminta penawar rasa
antara mencinta dengan melupa
jejakmu datang semakin menyiksa
mengintip di sela-sela kenyataan yang tak terungkap
di balik rajutan tipis selembar harap
yang nyaris terkoyak akan waktu
tolong? sediakan penawar rasa
hampir aku hilang kesadaran dengan rasa yang tercipta

#16 ketika mencinta

ketika aku mencinta langit dilema
melupakan bagiannya menghibur lara
karena terlalu banyak pelangi dibalik sepasang mata
katanya bahagia
lalu dicumbu beribu kali dengan cerita
katanya bahagia
semoga

Jumat, 03 Desember 2010

#15 untuk nyonya

matahari masih mengapung ketika
sayup-sayup cerita meruak dari bibir anda
tentang saya
: derita.
yang masih mengiris berjuta kali setiap menggumam
masih berdarah
menyiksa tanpa ampun ditiap malam
sebentuk mimpi
memecut setiap saat ketika pagi
berupa nyata
tiba-tiba kata maaf yang anda berikan

entah siapa yang harus disalahkan.

#14 merindu

aku merindu lusinan kupu-kupu yang merebak
ketika langit menjeritkan namamu
lalu mendatangkan senyummu sebagai kejutan
aku merindu jutaan pelangi yang terangkai
ketika air membiaskan cahayamu
lalu mentahbiskan wajahmu dalam genggaman
aku merindu hembusan riak yang mencuat
ketika hari menampilkan dirimu
lalu menjanjikan nafasmu sebagai hidupku
aku merindu segala sesuatu
yang menampar keras cerita
karena semua hanya penolakan dari nyata
: kamu tak akan pernah ada.

Rabu, 01 Desember 2010

#13 jejak

jejakmu tertinggal, puan. dengan noda tanah diujung sepatu
yang pernah menjajaki ruang-ruang dipenjuru hati
bekasnya tak bisa hilang bahkan dengan apapun
baunya menusuk kesemua sudut
terlalu tajam
sudikah melepas segala yang mengganggu ruang?

#12 cerita

I
ada seruang kosong di hati, terkunci
anak kuncinya berlari
tak mau ditemukan
digedor pun percuma, tak bisa dibuka
padahal ada benda penting didalamnya
senyum, merona dan asa tertinggal
milikku

II
sampai mengais harap aku merindumu
dibalur denyut luka yang merayap menguasai imaji
dari ujung rambut sampai ujung kaki
rasa genggamanmu hilang, tanpa sisa
lalu bayangan saja yang tertinggal
tanpa mampu memeluk