Kamis, 17 Maret 2011

aku adalah

aku adalah kerut diantara dahimu ketika logika tak lagi mampu terpikirkan
aku adalah air dingin yang ada ketika haus mengendap di tenggorokan
aku adalah lengkungan pelangi ketika hujan dengan petir telah habis peraduan
aku adalah fortuna dengan senyum ketika keajaiban menjauhi setiap langkah
aku adalah manis yang didamba ketika lidah mengecap pedas begitu menyiksa
aku adalah angin yang tertiup ketika siang menyengat lalu mencipta gerah
aku adalah tetesan peluh ketika aktivitas yang dilalui menjadi begitu lelah
aku adalah hiruk bahagia ketika hari yang tertambat ternyata berbentuk bosan
aku adalah tawa dengan bebas ketika cerita yang dirangkai menjadi himpitan

aku adalah harap dengan mimpi ketika nyata menjadi jauh dari jangkauan
aku adalah alasan ketika penyataan tercipta
aku adalah sebab ketika akibat menandai kata
aku adalah aku
rindu yang terasa ketika kamu begitu merana.

Selasa, 08 Maret 2011

dempa

hey kamu, lelaki dengan cinta yang bergelantungan di jemari kiri dan kanan
menunggu wanita demi wanita singgah di pelukan
aku berlari lalu tertawa dengan bebas? jangan heran
jika kamu kadal yang bertaburkan malaikat di hadap wajah, maka aku setan
dengan pelupuk dendam pembalasan yang bersiap bertaburan
beririskan potongan senyum dengan topeng bertahtakan kebencian
kamu, lelaki dengan cinta yang bergelantungan
mungkin kamu belum mengenali identitas saya yang baru jadi?
wanita berhiaskan sejuta tatapan berlian
untuk mentahbiskan rasa bertekuk lutut dengan kematian.

dan kamu, lelaki dengan cinta, akan bertepuk sebelah tangan
suatu saat, dengan kebencian.

Minggu, 06 Maret 2011

kamu dan dia ternyata sama.

ah. langit-langit bisu mendelik perih.
ternyata kamu dan dia sama saja. pelik
riak pikuk yang berucap ternyata bisa begitu mematikan
kamu berkata, nyata menjabar
lika-liku hidup tak lagi mampu menjadi alasan
dengan jutaan waras yang berlarian kesana kemari
ditambah nyata ternyata kamu dan dia sama saja. pelik
setiap galau yang dunia hadirkan, mungkin kamu tahu
bahkan semua senti dari pikiran picik dia yang terekam
kamu tahu
ah. langit-langit bisu mendelik perih.
mengapa kamu tak mencoba memberi penawar, dulu?
ternyata kamu dan dia sama saja. pelik