Rabu, 21 Juli 2021

Definisi nugget buat Shinta

So, I think I'm having lots of free time nowadays, sampai bisa arriving at this page again. lol. Otak gue lagi flash back. I don't know if any people reaches this site, but, since it is my undetected diary, so be it.

If someone ask you, what food comes to your mind that feels extraordinary or pricey or expensive, what would be your answer? I bet your answer will be something like, caviar, or escargot (iya bener bekicot, but in France this is sow exs-phen-zhive!) or creme brulee or lobster etc etc deh. But for me, the answer is "nugget".

Just laugh, that's alrite. If I were you, gue juga bakalan terpingkal-pingkal. But seriously, nugget punya cerita tersendiri di otak gue.

Back then when I was a lil girl (well, sekarang juga masih muda kok. dan juga besok. dan sampai kapanpun. hehe), finance family gue ngga se-sehat sekarang. Gue gak begitu paham gimana seorang Shinta kecil bisa berpikir demikian, tapi gue inget banget sebegimananya gue gamau (dan gak berani) meminta sesuatu sama nyokap gue, because I was thinking that my mom need to save some money for my sister and for household. So, in so many times our family came to mall, I never asked anything. Dan waktu nyokap maksa buat gue memilih sesuatu, I took time to see the price tag first to make sure that I choose the cheapest one of the option. Termasuk ketika memilih makanan (dan ini terkadang masih kebawa sampe sekarang hehe).
Waktu itu adek gue baru ada Seli. Jadi, satu hari sebelumnya, lunch temen sekolah gue ada yang bawa nugget with french fries, terus pas sore, gue main kerumah tetangga gue and she ate her meal yaitu nasi pake nugget. Two times I saw nugget, and both gue minta nugget mereka (ke temen sekolah dengan cara tukeran bekal, meanwhile pas ke tetangga, gue minta sesuap with nugget sama mba-nya dia, gitude). But still, ternyata Shinta kecil kaga puas, tjuy.
Then, the dinner time came. Gue lupa scene exactnya seperti apa, tapi gue sama adek gue laper abis maen dan ternyata waktu itu nyokap atawa mba dirumah belom sempet masak. Jadilah, nyokap gue bilang  ke mba gue "yaudah, digorengin nugget aja mba buat anak-anak". 

When I heard that sentence, hatikuw dagdigdug bahagya. Anjay, nugget, tcuy! Pengeeen!

Si mba ngegoreng four pieces of nugget back then. Buat gue dua, buat seli juga dua. Fair enough back then, tapi Shinta kecil aslinya pengen nugget banya-banya. But, balik lagi, si Shinta ini gak berani minta lebih. Abis ditirisin itu nugget, dibagi lah ke piring gue sama Seli. For both of us nasinya satu porsi nasi padang yang dibungkus bawa pulang, meanwhile nuggetnya dua biji kicik-kicik. Gapapa kok, yang penting nugget! Enak! Excited banget tuh gue makan nuggetnya. Back then, nyokap gue tuh selalu marah-marah kalo ada yang 'ngga beres' dimata dia, termasuk kalo nasi gak abis. Aaand, gue penganut "save the best for last", jadi Shinta kecil mencoba untuk menghabiskan sebakul nasi hanya pakai satu nugget aja, dan merencanakan untuk makan the last nugget-diamond tanpa nasi biar digigit dikit-dikit sambil ngayal betapa ena potongan daging yang satu ini lol. Dengan semangat '45, gue berusaha ngabisin nasi sebanyak-banyaknya dengan nugget se-sedikit mungkin.

Tetapi, takdir berkata lain.

Gue tuh makannya emang rada lelet (gak paham kenapa, serius dah), walaupun porsi gue waktu itu (kayaknya) sama aja dengan porsi adek gue, tapi ternyata adek gue duluan yang ngabisin makanannya. Dia duduk disebelah gue, ngeliatin gue in progress buat ngabisin makanan gue. And, suddenly, gak ada angin gak ada ujan, ini bocah atu nangis kejer di meja makan. Yha? Kenape lau?
"Seli kenapa nangis?" tanya nyokap gue pake nada ngegas. Yaiyalah doi ngegas, ini mahluk atu abis dikasih makan malah mewek. Gue ikutan bingung kan. Belom kelar ngunyah pula. Abis ditanya, bukannya ngejawab malah makin meledak tangisan adek gue. FYI, suara tangisan Seli pada masanya tuh annoying abis, bisa bikin manusia darah rendah auto meledug butuh obat penurun tensi darah. Pusing lah si nyokap, dia cuma bisa melempar tatapan merana sama gue.
Di sela tangisannya Seli, dia sempet ngelirik piring gue. Dan, sayangnya, gue sadar sama tatapannya itu. Matanya menatap lurus ke potongan nugget terbesar gue yang belom tersentuh. Deg-degan, gue mencoba menawarkan potongan nugget satunya (yang udah gue gigit tentunya, yang tengah gue upayakan menjadi satu-satunya partner nasi di piring gue) dan doi gak bergeming. Setengah ragu, gue coba tawarin nugget satunya yang masih utuh. Doi langsung ngeraih nuggetnya dan diem. Gue pasrah.
"Shin, kasih aja dulu nuggetmu sama adekmu itu, pusing mama. Nanti mama gorengin lagi nuggetnya." Kata nyokap gue sambil gerak kearah kulkas. Well, I have no option. Gue percaya nyokap gue bakal gorengin gue nugget lagi, dan -jujur- gue sayang -dan males ngeladenin bocah nangis tentunya- Seli.
Gue inget how sumringah her face back then when receiving my precious nugget. Beh, gue langsung berasa jadi hero. Penyelamat rumah tangga Manullang dari porak poranda monster Seli.

After I hand over nugget tercinta gue ke Seli, gue nengok ke nyokap gue yang lagi merogoh plastik nugget dari kulkas. Abis ngecek isi kreseknya she paused a bit, then looked at me and said her sentence, "yah, Shin, ini nuggetnya tinggal buat bekal kamu sama Seli besok, mama gorengin ikan aja ya."
And, yep, itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. I have no choice but having fried fish to accompany the rest of my meal back then. Patah hatinya jangan dibayangin deh, sedih banget itu. Tapi gue -gak ngerti kenapa- gak berani minta digorengin nugget. Masih mencoba berpikir positif, I was like "iya gapapa, besok bekel-nya nugget..." and repeating these sentence couple times when looking at my lil sister ngunyah nugget tanpa dosa.

Aaaand, of course, besok-nya gue ngga ada bawa bekal nugget at all. Kalo gak salah inget, bekal gue justru indomie goreng pake telor. Double-combo mellow dah itu, si Shinta kecil. Dan gue gak tau kemana the rest of nugget yang dibilang nyokap gue itu, lupa juga.

I bet, since that time, gue selalu ngerasa nugget itu 'precious' lol. I even ever think that nugget is that pricey, soalnya otak Shinta kecil pernah berpikir bahwa nugget lebih mahal dari ikan. Even until now. Alasan gue melarikan diri ke kosan terkadang sebenernya bukan pengen kerja gak digangguin suara orang-orang rumah, atau bukan pengen nonton bokep sendirian, atau pengen main ama temen-temen diem-diem; nope. Sometimes, gue cuma pengen bisa goreng nugget lebih dari setengah lusin tanpa harus berbagi sama siapapun. Seperti, sekarang.


Yep. Nugget is that precious for me. Hehehe.


Kamis, 01 Juli 2021

Meluruskan otak kusut Shinta part sekian -

Here comes my another theory (or whatever, you named it) of human mindset. This is how I classified one of them.

Basically, semua orang butuh untuk merasa fulfilled through everything. Yang paling simpel (atau yang pernah gue rasain? I bet you too) adalah: 1. Perasaan diterima dan diakui atas apa yang (dapat) kamu lakukan oleh orang lain. Banyak cara untuk dapat merasakan hal ini, contohnya; joining some cool clubs or organizations to prove something, or anything. Atau melamar pekerjaan di perusahaan yang gain your interest, and doing the tasks they give to you. Once you complete those tasks you will receive present, biasanya berbentuk salary atau terkadang ucapan terima kasih yang tulus. Di usia muda, pola berulang atas hal ini akan menjadi trigger atas perasaan jenuh (well, young soul loves 'tantangan', benar kan?). Atau membantu orang lain yang sedang memerlukan bantuan. By seeking at their grateful face when receiving your kindness, it feels tingling deep inside; pengakuan yang didapat rasanya beda aja, bingung jelasinnya.

Atau, beberapa orang memilih untuk melakukan jalur ini; terikat terhadap satu orang (umumnya lawan jenis, akhir-akhir ini gue sering mendengar banyak orang yang melakukannya dengan sesama jenis) dalam sebuah lembaga yang diberi nama "pernikahan".

Well, jujur, untuk opsi terakhir yang gue mention, sebenernya banyak penjelasannya sih. Otak gue masih kusut untuk menuliskan penjelasan panjang lebar satu-satu disini, but one thing for sure, TIDAK SEMUA ORANG melakukan pernikahan hanya untuk mendapatkan perasaan diterima dan diakui saja. Alasannya tentu jauh lebih kompleks dari itu.

Atau mungkin cuma gue yang berpikir sekompleks itu? Hmm, menjelaskan hal ini butuh section tersendiri, lol.

I mean, in my opinion (please, this is my current theory. If you think you can change my mindset, feel free to discuss LOL), ketika pasangan memilih untuk melakukan pernikahan, secara otomatis mereka akan lebih merasa 'diterima' dan 'diakui' di society; dari teman-teman yang seumuran, mereka akan mendapatkan pengakuan karena mereka karena sudah berani untuk mengambil sebuah keputusan besar.  We all know, marriage is hard mentally and financially lol. Some of them juga akan merasa iri (ngaku deh LOL), karena si pelaku pernikahan dianggap sudah menemukan soulmate mereka, sesuatu yang terasa magnificent soalnya susah banget mendapatkannya. Juga dari environment yang lebih elder, mereka juga akan mendapat penilaian lebih, mereka akan dianggap lebih dewasa dari teman-teman seumuran mereka karena sudah mengantongi status no-more-single-person.

That's why, some people choose to held their wedding in a super big and expensive party, jadi pengakuan yang mereka terima menjadi lebih 'besar serta wah' karena semakin banyak manusia yang memberikan pengakuan tersebut, sesuatu yang bisa membuat mereka merasa fulfilled. Bener atau benar?

Kalau benar, kenapa gue tidak bisa merasakan urgency untuk merasakan penerimaan tersebut, ya? hehe.

Nope, nope. Bukan itu sih poinnya lol. Gue cuma penasaran, kenapa harus melakukan sesuatu untuk merasa diterima dan diakui oleh orang lain? Is it really only for the sake of ego?