Kamis, 22 November 2012

hujan mengendap-endap

saya mau curhat. saya butuh teman curhat.

barusan, hujan mencurangi tindak tanduk yang saya lakukan. padahal semua yang saya lakukan itu untuk dia. pulang kerumah pakai jaket hitam hoodie, pakai maskara non waterproof -agar ada jejak ketika hujan mencuri cium-, dan keluar kosan tepat ketika angin dari awan yang ia tunggangi lewat.

tapi dia ngga datang. dia cuma ngikutin diam-diam dari belakang; tanpa mencoba menghampiri atau menyapa atau bermain bersama. entah, dia tidak punya alasan untuk marah. seharusnya saya yang marah. ketika saya menelan rindu bulat-bulat, dia justru sok jual mahal. menyebalkan.

seharusnya saya yang marah, tetapi saya tidak pernah bisa marah; hujan terlalu memikat untuk dimarahi.

Senin, 22 Oktober 2012

pendewasaan diri dari segi apa?

Saya galau. saya kalut. setelah sekian lama saya lupa untuk berkutat dengan kemelut -well, beberapa waktu berselang saya benar menyadari bahwa kesibukan bisa bikin kita lupa total sama sesuatu yang sering disebut orang sebagai galau- dan pagi ini saya merasa ada hal yang menggigiti pikiran, perasaan, dan ingatan.


Saya akan -kembali- bertambah tua dalam hitungan beberapa hari lagi.



Kalau mau dikaji ulang, sebenernya bertambah tua itu terjadi di setiap milisekan waktu. setiap kali waktu berhitung maju, maka umur kita juga ikut berputar laju. hanya saja, manusia tidak begitu memperhatikan, karena pertambahannya konstan tanpa perbedaan. sementara manusia membutuhkan perubahan fisik; mungkin muncul uban, atau kerutan, atau penambahan angka pada usia.



Setelah perubahan fisik, maka akan merangkak maju ke perubahan yang sedikit lebih tidak terlihat; hal-hal yang disebut seperti pendewasaan diri. setelah menulis satu kalimat tadi, jemari saya membeku.



PENDEWASAAN DIRI.



Dalam hitungan hari, angka di usia saya akan bertambah banyak satu lagi. dan sejauh ini, saya merasa memasuki kepala dua tidak berarti banyak; saya masih menjadi seorang yang manja -tolong, jangan sebut kata ini sebagai singkatan dari mandi jarang. saya rajin mandi!-, masih bergantung sama orangtua -sementara saya ini anak pertama yang seharusnya menjadi tumpuan banyak pihak-, tidak becus mengambil keputusan, kekanakan, dan segudang karakter lain yang seharusnya sudah saya buang namun masih aktif dalam kelakuan.



Satu sisi, ibunda tercinta sudah mulai aktif bertanya hal-hal konyol, such as : 'jadi pacarmu yang mana?' atau, 'nanti setelah lulus mau lamar kemana?' seringkali juga mengeluarkan komentar membingungkan, seperti 'kalau mau pacaran jangan pulang malem-malem ya,' sementara saya cuma bisa bengong, mungkin menurut beliau minum secangkir kopi bersama skripsi dikategorikan sebagai pacaran.



Hal-hal kecil seperti ini muncul di pagi hari setelah hari sebelumnya saya hanya tidur selama tiga jam -skripsi dan kepergian alm. Tulang Daud benar-benar membuat kedua kelopak mata saya sulit terpejam- seakan membuat alarm di otak saya berdering kencang. it feels so much weird. saya seperti merasa dalam hitungan beberapa hari, usia saya bertambah 10 tahun.



Saya masih suka bermain air. saya masih suka manja 'ngga jelas sama Seli, my cutiest sister. saya masih merasa bahwa adik kecil saya Jojo memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa. Saya belum menjadi apa-apa, tetapi usia mendorong secara paksa agar saya segera menjadi apa. disaat saya merasa tidak -dan sepertinya tidak akan pernah- siap.



Jika saya menyimpulkan bahwa keputusan saya untuk single sementara waktu ini -sampai nanti yang disebut entah kapan- adalah keputusan terbaik agar saya mampu meraih kata pendewasaan diri, hal ini bener ngga ya? toh saya -merasa- belum setua itu untuk berpikir masalah jodoh atau apapun itu. saya masih ingin seneng-seneng tanpa status dulu, sebelum serius...

Senin, 24 September 2012

Nothing to lose

It has been a looong... time since my last chit chat in here, ya? Dan saya merasa sangat kangen. Pada hakekatnya, saya adalah orang yang suka nulis. Tapi kali ini saya nulis bukan dengan tema yang ada di otak, tapi yang dikasih orang. Karena otak saya lagi ngga bisa mikirin tema. Karena tema lagi musuhan sama otak saya. Halah -_-

Actually, someone told me soal lomba yang diadain oleh @bloggercomp, namanya @eliahutajulu. He just said, "ikutan aja, ka. Nothing to lose lah." Terus saya sadar akan situasi blog saya yang -mungkin kalau dia berbentuk benda nyata- sudah jamuran. Sudah kudisan. Sudah katarak. Wong sudah sekian bulan saya tidak menjenguk, membersihkan ataupun sekedar ngasih kata hi. So here I am, -tentu saja,- nulis. Nothing to lose, bukan?

Gara-gara sedari tadi saya berulang kali menulis nothing to lose, saya jadi ngeh kalau sudah banyak kesempatan yang saya ambil karena kalimat tersebut belakangan ini. Ikutan cast untuk sebuah talkshow, ikutan temen yang mau traktir makan, ikutan sebuah organisasi, ikutan bikin blog, ikutan temen yang lagi suka jualan, dan masih banyak ikutan-ikutan lainnya. Toh, ikut atau tidak, saya tidak akan kehilangan apapun. Paling parah, mungkin saya hanya akan menyia-nyiakan waktu yang saya miliki. Tapi di jaman yang sudah super canggih seperti sekarang ini, saya rasa waktu-pun akan sulit untuk disia-siakan.

 Beberapa bulan yang lalu, saya sibuk memperhatikan bagaimana cara teman saya mengefisiensikan waktu yang ia miliki dengan mengandalkan teknologi yang ada. Melalui smart phone yang dimiliki, ia berhasil mengembangkan bisnis jual-beli baju bola yang ia kelola. Dan marketing yang ia lakukan hanya melalui satu benda mungil tersebut. Rasa penasaran saya memuncak, sampai akhirnya saya memilih untuk mengamati bagaimana ia memanfaatkan teknologi yang ia miliki untuk menyokong usaha kecilnya itu.

Pertama, promosi. Selain menjadikan kaos bola sebagi topik awal ketika ia membuka sebuah pembicaraan, ia -pastinya- juga menggunakan ponselnya sebagai ajang 'pamer'. Ia akan menggunakan BBM, whatsapp, twitter, facebook dan masih banyak media promosi lainnya yang ia manfaatkan dengan cara memajang foto baju kaos bola yang ia jual. Dan yang saya tahu, he's doing it with fun, karena orangnya memang tergila-gila sama dunia bola.

Kedua, komunikasi. Serius, semua teknologi yang ada sekarang ini is totally useful. Ponsel jaman sekarang -sebut saja dia smart phone- tidak hanya membuat kita dapat mengirim sms ataupun nelpon, it is much more than this. Bisa kirim voice note, kirim gambar, akses internet, dan -uh- saya rasa berbagai hal lain yang tidak saya ketahui. Tanpa perlu tatap muka, ponsel pintar ini membantu teman saya dalam komunikasi; dengan konsumen maupun distributor sehingga mengurangi ribet yang ada.

Karena kemudahan-kemudahan tersebut, saya jadi ikut nyemplung di dunia bisnis seperti ini. Menjual apapun yang bisa dijual (LOL). Nothing to lose, rite? Saya rasa tidak ada rugi, tetapi membuka peluang untuk sebuah keuntungan agar bisa kita raih. Oh ya, saya pengen sekalian ngingetin lagi pihak yang mengadakan event ini :

 
mungkin kalian ingin ikutan lomba blog. Atau ingin seperti dua tokoh yang terlihat disana, two awesome bloggers yang sudah berhasil meraup ketenaran dan banyak hal lainnya. 
Coba saja, nothing to lose.

Selasa, 12 Juni 2012

bahagiaan

bahagia itu semu adanya

Saya yakin kalian yang membaca setuju dengan pernyataan saya yang satu ini. Kebahagiaan itu membingungkan. Ia tidak bertuan, dan memiliki kebebasan untuk datang dan pergi dan meninggalkan. Ia kembaran dari kenyataan, dan ketidaknyataan.

Saya pernah dengan bodohnya menyerahkan sebagian besar kehidupan saya kepada rasa bahagia. Ketika naif masih menjadi bagian dari jiwa. Saat itu bahagia sedang betah tinggal bersama saya, tidur bersebelahan dengan senyum dan tangis dan tawa dan airmata. Saya ingat, mereka berteman akrab. Hanya saja, saya tidak boleh membiarkan mereka terlalu akrab. Dan saya melewatkan hal itu.

 Yang saya ingat, saat itu ada tokoh baru, namanya masalah. Ia gemar memporak poranda segala sesuatu, termasuk hubungan. Dan yang saat itu berhasil ia hancurkan adalah hubungan antara bahagia dengan airmata. Dan airmata menjalin hubungan khusus dengan tangis. Alhasil, mereka membuat bahagia tidak mampu bertahan. Ia memilih pergi dari peraduan, sehingga jiwa tidak lagi menjadi bagian. Mencari tuan yang baru, atau memilih menjadi perantau bisu.

Saya tahu persis, airmata dan tangis juga merasa kehilangan. Mereka juga membutuhkan. Tetapi... sudah. Ceritanya sudah menemukan kata berakhir. Bagiannya sudah lagi layu dan tidak mampu berbuah.

Ia tahu, saya seringkali merindu. Saya sering menatap tempat dimana ia sering singgah dan beristirahat. Saya juga tahu ia sering mengintip dari balik jendela, entah hanya mengintip atau memang rindu yang menggelitik. Tetapi kemudian ia akan pergi lagi, tanpa sempat membubuhkan rasa. Dan saya tidak memiliki kuasa untuk mengundang, walau sekedar minum kopi dan bersenda kawan.

Saya juga tidak bisa meminta balik kehidupan yang sering ia bawa di bibirnya. Saya yang bodoh, mentato bagian terpenting dari jiwa kepadanya. Menitipkan segala yang saya punya kebagiannya. Ia sudah terluka, dan saya sudah menggila. Sedang airmata dan tangis memilih tinggal diam dan bersabda.

Jumat, 04 Mei 2012

selamat malam, malam rindu.

selamat malam, malam. mengapa hujan tidak menemanimu hari ini? ah sayang, padahal aku merindu suasana itu. dingin dengan tanah yang berbau lembab. air yang merintik titik-titik sampai bosan. langit yang sendu, aroma yang kelabu.
jangan bilang galau, karena aku tidak. aku hanya merindu.
baru saja ingin menyadur lelah yang terkumpul sedari kosan sampai rumah, tetapi otak berisik. ingin bicara, ingin didengar, tiada yang menyimak. jadi jemari saja yang berkutat. dengan hati yang melunjak. minta hati, minta manusia, minta lelaki kaya.
kaya hati, kaya materi. kaya cinta, kaya jejaka muda. kaya lelaki yang dicari oleh wanita-wanita seusia.
tetap, jangan bilang galau. karena aku tidak, aku hanya merindu.
lalu lalang kantung mata dan kantuk yang menghadang, tetapi heran. jemari memilih tidak berhenti dan terus membisik. dipandu otak, dibimbing kangen. ditambah pahit yang menelisik kemudian menyusuri jengkal demi jengkal aliran sadar.
jangan bilang galau, karena sejujurnya aku merasa tidak. aku hanya merindu.
kiri kanan belakang dilirik, dan tiada sesiapa yang menyentik. ah, saya linglung.
mungkin memang sedang butuh orang yang bisa dilawan. atau orang untuk dicinta.
atau lawan yang untuk dicinta? entah
tetap, jangan bilang galau. karena aku tidak, aku hanya merindu.
 
merindu suasana yang itu.

Selasa, 03 April 2012

hilang nyawa

dua bulan penuh tanpa membuka blog ini rasanya... menusuk. saya tetap menulis, tetapi bukan menulis apa. ketika menulis biasanya mengisi jiwa, ini hanya sekedar alfabet. hanya rentetan kata yang jika diulang tiada makna. tulisan-tulisan yang ditulis tanpa apa. saya hilang apa, saya hilang nyawa. nyawa berarti arah bagi saya.
pendek kata : saya kehilangan arah.
nyawa saya tersesat entah dimana, ia hilang arah. mungkin dia lupa kalau dia punya rumah; hati saya. mungkin ia tengah bosan dengan kemunafikan hidup yang akhir-akhir ini ditujukan langsung, dikirim tanpa perantara untuknya. mungkin kini ia tengah duduk-duduk santai menikmati kopi pagi di hati yang lain. atau tengah berinteraksi dengan psikiater yang pastinya mampu mengendalikan segala pemikiran yang tidak diperlukan? entah. saya rindu dia; nyawa saya.
belakangan, saya menyadari bahwa aktivitas dapat membunuh anda secara perlahan; satu-satunya alasan yang sesungguhnya tidak beralasan karena saya memilih aktivitas ini secara sadar meski dibawah tekanan. banyak hal yang saya sukai, tetapi hanya menjadi sisipan semata, dimana saya sadar bahwa semua itu bisa menjadi nyawa cadangan. tetapi lenyap.
dan saat ini saya masih menjadi manusia tanpa nyawa. heran, apa ini berarti saya tengah menjadi zombie?
saya butuh nyawa saya. sekarang. mungkin anda punya? atau anda nyawa saya?

Selasa, 31 Januari 2012

hujan hujan hujan

akhirnya nyerah juga, semalam badan koyak sana-sini. ujian pagi, dan sepanjang waktu ujian perut ngajakin berantem. efek belum sarapan? mungkin. kurang tidur juga, begadang di malam sebelumnya karena tumpukan materi yang ujungnya disembunyikan pagi. ditambah lagi kemarinnya saya bermain dengan hujan. setelah ujian jam delapan, sorenya harus berhadapan dengan konfigurasi router dan switch dan tetek bengeknya : ujian skill.
saya gadis hujan, tetapi tidak cukup kuat untuk menghadang hujan. rasanya seperti belanja ke factory outlet dan baru sadar uang kurang ketika didepan kasir.
terakhir kali saya bermain hujan, di penghujung 2011; awalnya hanya mendung yang tanpa tepi. anginnya dingin, tapi yakin ngga akan bikin masuk angin. dan sendal jepit oranye yang mengikat kaki penuh kuyup. inti daripada intinya : ketika angin basah niup aroma tanah yang kena hujan. rasanya... kalaupun harus sakit, saya ikhlas :') hehe

np : yang bikin heran, kenapa setiap kali ketemu kamu selalu ada hujan? hujan yang mengikutimu, atau kamu yang mengikuti hujan, atau kamu sendiri adalah hujan? hei kamu, lain kali kalau ada waktu untuk ketemu, saya mau bertanya tentang hujan. saya yakin anda tahu.
dan sekarang diluar hujan. mungkin saya akan ketemu kamu :)