Sabtu, 30 Oktober 2010

#30 - selamat ulang tahun, gadis hujan!

i wish happiness, maturity and wisdom are being mine, forever.

#29 - tak sengaja kembali

eh, bertambah satu langkah, derap kecil
tiba-tiba menghempas angan ke masa yang pernah terlewati
ketika angka menjadi sesuatu yang belum begitu berarti
bersama lilin-lilin kecil yang berputar dan menghiasi
dan bahagia masih berupa pelukan mesra yang selalu terasa
saat senyum begitu sering menghiasi sisi kiri kanan wajah
memberi rona setiap kali nyata menarik bibir untuk merekah
akankah setiap titik yang terlewati menjadi abadi?
meski bukan dalam makna yang sebenarnya
karena sejujurnya aku menanti setiap detiknya
walau sudah terulang, kali ini untuk yang ke sembilan belas kalinya
begitu menyadari telah banyak cerita yang terangkai
sejuta rasa yang telah terjadi
menanti denyut-denyut nadi yang berpacu
berharap susunan nyata yang akan menghidupkan fokus yang lain
tanpa mencelakakan dan hanya penuhi kebahagiaan
dan menumpahkan warna, semoga hanya yang ceria
akankah?
atau warna yang tersisa bermakna hitam dan putih saja?
karena langkah tak bisa dilompati
hanya bisa ditapak, lamat-lamat

Kamis, 28 Oktober 2010

#28 - pagiku dengan asa



Pagiku berkata dengan jutaan cahaya
Selamat pagi, bisik sang surya merdu
Adakah indah yang akan bercerita,
Atau pahit yang telah tersedia?
Lamat-lamat tertegun di sisi ujung kesadaran
Apa yang akan kukecap hari ini?
Potongan risaukah?
Atau semangkuk riang?

Aku harus bahagia.

#27 - cinta berbagai bentuk


Masih aku bertanya seperti apa bentuknya cinta
Sepertinya berbentuk kepingan yang bisa dibawa pulang
Mudah tercecer dijalan
Bisa masuk kantong celana, dipepet dijalan lalu dicuri
Atau seperti buah sekali telan dengan bermacam rasa
Masih segar, rasanya manis tanpa karuan
Sudah seharian diluar, rasanya akan bertambah masam
Namun kemudian ia busuk dan hanya bisa dibuang
Atau bahkan seperti kapas?
Begitu ringan dan lembut untuk dicicipi dan disentuh
Tapi hanya begitu cantik untuk sekali pakai
Sisanya terbang, ditiup angin
Mungkin juga seperti polusi di jakarta
Seringkali muncul dan terhirup
Terbawa ke paru-paru
Dan berulang terus seperti itu tanpa ada langkah maju
Entah mana yang benar
Karena aku sendiri masih belum melihat bentuk nyata dari cinta
Ada yang mau menunjukkan?

#26 - hilang nyawa


Aku dikebiri, oleh perasaanku sendiri
Ditemani dinding putih reyot yang bahkan tak mampu menopang
Bahkan bayangannya sendiri
Terlalu rapuh
Bahkan tertawa saja mampu menyakiti rahangnya
Berusaha melangkah satu-satu mencari jati diri
Matanya jelalatan, mencari seseorang yang tak kunjung ditemukan
Nyawanya sendiri.
Aku tak hanya dikebiri, bahkan disembelih
Oleh perasaanku sendiri
Yang diperbudak nyata untuk melepas rasa
Nyawanya sendiri.

Selasa, 26 Oktober 2010

#25 - derap


ini derap langkahku yang hampir terakhir
setelah ribuan tawa dan maki
entah bagaimana membubuhkan titik setelah kejadian serupa

#24 - setengah dari setengah


tercekat satu-satu
nadiku diujung tanduk, terhempas dari ujung mimpi
yang ada hanya tabu, nyawaku tersisa setengah
di sudut ruang, dibungkus rapi berdebu
dengan beberapa orang yang telah tahu isi kotaknya
mungkin tersisa satu
yang tak mungkin dibuang

jika digenggam hanya helaan tak bersisa dan tercekat, satu-satu
dengan ribuan asa yang telah patah dan dimaki
yang ada hanya tabu,
karena nyawaku tersisa setengah
dari setengah yang tersisa

#23 - nyaris


ah, nyaris mati.
sekedip waktu melintas, nyawaku hampir melayang dibawa tangis
malaikat maut yang awalnya tak ingin bekerja tiba-tiba bernafsu
mengikat parang sebesar tiang di lengan kanan
mengharapkan seorang teman baru
etika berjuta umpatan nyaris menguntai dibawah bibir berlapis madu

bahkan hampir tak lagi mengenali rasa yang terlewat
ada ratap tangis yang bercerita dimana tekanan menjadi hal yang biasa digenggam satu-satu diantara jemari
digantung lamat-lamat dibalik senyuman pasi
ah, ternyata hanya nyaris sekedip lagi
waktu melintas, mungkin namaku tinggal nama.

Senin, 25 Oktober 2010

#22 - hujanku

eh, hujan ternyata setia menanti
dibalik rintik ternyata ia menunggu waktu senggang
siang panas terik, ia merayap pelan-pelan ke langit
melenggang ke arahku
ingin menghabiskan waktu berdua saja, katanya.
ah, aku makin cinta rasanya :)

Jumat, 22 Oktober 2010

#21 - untukmu


Untuknya
Sepikat rindu terikat di dahan pohon
Terbakar bersama asa dan harap.
Namun tak mampu terlepas.
Sepikat rindu terikat di dahan pohon
Berbayang dinaungi cinta dan rasa.
Tapi tak kuasa terbebas.
Sepikat rindu terikat di dahan pohon
Digenggam melingkupi getar dan hasrat.
Sayang tak mampu ditebas.
Sepikat rindu terikat, tertambat
Di dahan pohon angan pinggir sungai kata.

#20 - aku, kamu


terdera bisikan hampa yang diujar sang pembunuh nestapa
aku memang bukan pujangga, namun mampu bertutur kata.
nadiku dapat tertawa, tanpa menghina
walau dirajam berjuta makna, hanya satu yang akan terburai.
aku, kamu.
tanpa harap berlebih, hanya inginkanmu
untuk dicinta, bukan disandera
hasrat berbisik bukan untuk ternikmat, walau masih berharap untuk menggenggammu.
yakini diri, malaikat hanya ingin terbang bebas
biar lenyap warna pelangi, terbias penas
dengan sejuta harap terbang membuai,
lebih bahagia dirimu.

aku, kamu.
tanpa harap lebih, hanya inginkanmu.

#19 - entah


terlalu lama mengecap lelah,
hingga tak ada lagi label rasa.
mengumandangkan kematian hasrat tanpa lagu,
mungkinkah?
kita telah mati, benar?
tak lagi kukenal cinta,
maupun dera.

Rabu, 20 Oktober 2010

#18 - pahit

bersama debu pasir, aku mengeluh
atas ketidakadilan bernama kehidupan yang masih kujalani
teriris satu-satu, menanti setiap kepalan asa yang memudar
seiring waktu
diatas lantai putih, aku meraung
meratapi kematian hasrat yang terus dipasung oleh nyata
terangkai petak-petak, membentuk khayalan tak menentu
setiap menutup mata
menyesap iringan pahit, aku menjelma
menjadi segenggam mimpi setengah sadar dengan jutaan bayang
dibakar bentukan langkah sendiri hanya untuk sebentuk arang
seakan tanpa sisa nyawa
bersembunyi dibalik lemari tua bersama debu dan lantai putih, aku menyesap iringan pahit
yang menyiksa bahkan nyaris membunuh jiwa
hingga satu langkah mundur yang hanya tersisa

Selasa, 19 Oktober 2010

#17 - jangan bercerita!


hey langit! kamu tahu?
aku jatuh cinta
bukan padanya, tapi padamu.
yang menyanyikan denting surga dengan manisnya
aduh, aku benar-benar jatuh cinta lagi
bukan padanya, tapi padamu
yang rutin merajut kata-kata dengan senyuman
angin, jangan berbisik! aku tengah jatuh cinta!
bukan padanya, tapi padamu
yang seringkali mengecup pelan kening dengan madu dan gula
astaga, aku tak bisa melepas cinta
bukan padanya, tapi padamu
yang berulang-ulang menggenggam jemari erat dengan sutera
ah, langit dan angin, berhenti bercerita! jangan tertawa!
biarkan aku yang membisikkan jeritan cinta
bukan padanya, tapi padamu...

Jumat, 15 Oktober 2010

#16 - pesta rasa


perlahan, aku melepas harap yang kugantungkan padamu
di langit-langit mimpi
dihiasi pita warna-warni dengan kata cinta dibaliknya
ceritanya sudah berakhir, walau bukan dengan bahagia
dan tumpukan rasa berantakan dimana-mana
setidaknya aku memilikimu
dalam setiap waktu memejamkan mat
a

#15 - pagi semalam suntuk


pagi ini kelabu
dengan keping hitam menggantung di sudut-sudut mata
menyertai kabut yang bertiup pelan, mencoba menggoda
ia bosan, bisiknya mengayun-ayunkan kaki
tangannya mencoba merengkuh semesta, memeluk langit
sesekali ia melirik matahari, memastikan kehadirannya seperti biasa
dan ketika siap, ia berdiri
lalu melangkah satu-satu meniti anak tangga hari
tangannya masih menggenggam sisa pesta semalam
kantung matanya menggelap, kurang tidur sepertinya
ah aku menerka
mungkin cahayanya sembab karena terlalu lelah
entah apa yang membuatnya tak begitu merekah
pagi ini kelabu
kepingan hitam menggantung di sudut-sudut matanya

Rabu, 13 Oktober 2010

#14 - (sedikit) mengeluh

benar-benar sedang merasa, satu langkah pertama yang saya ambil diawal kelulusan sma bukan hal yang benar. saya melakukan kesalahan, dan ini bukan hal yang pantas untuk dibahas lebih lanjut.
mengapa?
karena saat ini, hari saya sudah menginjak pada tiga anak tangga. terlalu sayang untuk mundur. terdengar ironis, tetapi saya iri akan anak-anak kelas sebelah yang membicarakan tentang garis. tentang warna. tentang kata. tentang jiwa. mereka nafas saya. mengapa mereka yang mendapatkannya?
sementara saya harus tetap bercinta dengan angka yang berderet. dengan huruf yang tidak mampu kuraba. dengan cerita yang tidak berasa. dengan hampa. berbincang semalaman suntuk dengan tumpukan hitam putih yang begitu menyiksa. karena aku lebih cinta dengan kata.
tapi tak apa, aku akan belajar untuk mencintai mereka lebih dalam lagi. toh, poliandri dengan kata tidak dipergunjingkan oleh mereka.
mau bagaimana lagi?

#13 - kata rindu


ah, aku kelaparan
akan degupan yang bernyanyi dibawah jemari, saat menyentuhmu
dengan seutas garis yang terlihat di ujung pelangi bibirmu
ah, aku tergila-gila
melihat seujung punggung yang duduk tegak dihadapanku
berharap sedetik mata mengintip di sela kesadaranku
ah, tak mampu aku berkata
menanti untaian kata yang membuai dibalik semua tindakanmu
terbius akan semburat rona yang membaur dengan senyummu
ah aku kelaparan, tergila-gila dan hilang kata
hanya untuk sekejap waktu bersamamu

#12 - ngilu tanpa bermakna


seberat hati bergulir, menggurat namamu dipelupuk mata
satu-satu terasa begitu berat, namun begitu tetap
walau menyadari setiap detik teramat ngilu untuk berlalu.
sejengkal rasa tertoreh, merekah senyummu dalamku
bagai dipenggal kasat mata, tetapi begitu nyata
seakan bercinta dengan gumpalan tawa tanpa makna.
ketika disesah bersama dinding tinggi
berkabut kata
ketika semakin merayap naik meraih asa
namun selalu terjatuh dipecut rasa
seakan meminta binasa segera
disesap hentak-hentak bebal
walau menyadari teramat ngilu untuk berlalu
seakan bercinta dengan gumpalan tawa tanpa makna.

Senin, 11 Oktober 2010

#11 - lelah


aku menjerit, dalam lembayung kosong
saat senyum terkapar lemah, ia berbual
bahagia bukan bagian utama dari relung
tanpa suara, tanpa jejak, mereka tertawa
aku lelah bersua
imajinasi hanya mampu berkabung
mereka kata aku anak tak berarti
tak apa, aku tetap berlari
biar derita menghadap hadir, aku mampu berkata
meski akhir cerita bukan nyata yang dihidang
kalian tahu? aku lelah bersua
gadis kecil bergaun merah muda
saat terkata, ia masih amat balita
ketika dunia merenung apa yang akan terujar
ia akan begitu rapuh, pikirnya
aku lelah bersua
mimpi, mengapa terengah?
tak maukah kamu berkata dengan bayangku lagi?
sebegitu pahitkah lalu, sampai tak mampu lagi kamu menyatu?
karena aku telah begitu lelah bersua

#10 - untuk kamu


ini rasa, ada di genggamanku. untukmu
yang menjadi harap dalam setiap cita yang ada di hembusan khayal
harta karun yang tersisa dalam cerita seorang perempuan dewasa
mencipta langkah-langkah kecil, maju. yang tanpa disadari semakin mundur
ketika debu yang beriak diantara nyata mulai lemah meneriaki diri
dimana setan dalam gelas menarik maju masuki dunia mimpi
derap waktu yang tersisa hanya mampu membisikkan kata hampir sia-sia
aku hampir layu dirajam rindu,
atau memang sudah mati karena dahaga yang tak menentu?

ini rasa, untukmu
sepertinya sudah menjadi milikmu.

Jumat, 08 Oktober 2010

#9 - kata dengan rasa


sejujurnya, saya kehilangan akal saya untuk sementara. imajinasi saya hilang arah, bahkan saya tidak mampu untuk mengumpulkan kata-kata yang sedang bermain di pandangan. tetapi ada satu kata yang duduk diam di pojokan, hingga saya bisa memperhatikannya, bahkan menangkapnya jika saya mau. namanya cinta. bukan tak ingin ikut bermain, tetapi sepertinya ia telah memilih untuk hanya berayun di sisi-sisi gelap dengan melemparkan senyum saja. ia tak mau lagi memaksakan diri, entah apa yang terjadi. sesekali ia menatap sesuatu dalam genggamannya, lalu mendesah perlahan, entah apa yang diharapkan. bibirnya membentuk garis lengkung, tetapi tidak ada arti bagi maknanya. seolah dia lupa akan namanya sendiri. seakan dia kosong, hanya menanti.
dan ternyata, kata itu sadar dirinya diperhatikan. saya melempar senyum, dan dia menyisakan sejarak kosong disebelahnya. saya mengangguk saja.
cinta bukan sedang kehilangan maknanya, ujarnya perlahan. ia hanya sudah letih menunjukkan perasaannya. ia masih merindukannya, ia masih menginginkannya. hanya saja, sudah terlalu dalam ia terluka. hanya sayatan-sayatan kecil, namun setiap hari didapatkannya. ia tak mampu lagi berharap, walaupun sebuncah ingin masih menyesak di dirinya. ketika ia menyadari tak akan ada lagi asa yang mampu digenggamnya, semakin besar nadi membengkak karena tak mampu menahan rindu. beribu kali angin hilir mudik mencoba menghibur, tak berguna. berulang-ulang awan melindungi dari sengatan pahit, tak mampu menarik perhatian. yang dinantikan hanya hujan, namun seringkali hujan hanya melukai. kehadirannya dinanti, namun menyakiti. sebenarnya bukan maksud hujan, tetapi sakit itu selalu ada setelah kehadirannya. betul-betul buah simalakama, merindukannya, namun tersakiti setelah meraih senyumannya.
ah, saya benar-benar tidak mengerti rasa yang dirasakannya. lagi, ia melirik genggamannya, lalu menghela nafas lagi. seolah harapannya melayang setengah ketika menyadari tak ada apa-apa ditangannya, namun sekejap bertambah dua kali lipat, yang semakin menyiksa. terlihat dari matanya.
menyadari saya memperhatikan yang ia lakukan, ia hanya membalas dengan senyuman pahit. aku sedang mengais sisa-sisa harap yang masih mampu terkumpul, bisiknya lemah. meskipun hujan tak pernah berharap seperti apa yang aku lakukan, tak apa. karena aku memberikan perasaanku tanpa pamrih. aku tak bisa memilih kepada siapa aku memberikan perasaan ini, benar?

Rabu, 06 Oktober 2010

#8 - tanpajudul


aih, hatiku meringis. lagi.
sepetak waktu yang kusisihkan khusus untuk kamu, ternyata tidak berarti apa-apa. tak apa.
walau begitu perih ternyata.
titik-titik waktu yang kulewati ternyata cuma bersama hujan, tanpa senyumanmu.
ketika sekelebat angin meracau, seolah mengejek dan buatku semakin merindukanmu.
dibalik rajutan benang-benang hujan, hatiku berkelebat harap.
seolah tak menyadari betapa jarak yang ada semakin menyulut asa.
seakan langit mengerti, ia menangis lebih lagi. menyesali.
toh ini bukan pertama kali. tak apa, tetap kuresapi.
karena ternyata sayatan yang tercipta justru membawaku kembali menapaki sadar. aku sendiri.
toh lambat laun aku yang harus mengakhiri. kamu selalu mengikuti.
entah siapa yang mengawali. mungkin tanpa kamu sadari.
sepetak waktu yang selalu kusisihkan, hanya berlalu. seperti biasa.
padahal cuma untuk kamu seorang.

Senin, 04 Oktober 2010

#7 - mengapa gadishujan?


seorang temanku bertanya. mengapa harus menjadi gadis hujan?
ada yang mampu menjelaskan? :)

sepintas, saya juga memikirkan untuk menjadi seorang perempuansubuh, atau wanitamatahari, atau mungkin penceritamalam. tetapi akhirnya, saya tahu saya adalah gadishujan. penari sulung ditengah tangisan langit yang bisa muncul ketika siang ataupun malam. ketika cerah ataupun gelap. ketika senang ataupun redup. ketika tawa ataupun sendu. datangnya tak diduga. ia harus mampu membentangkan asa ketika suara-suara telah meneriakkan sejuta kelam tanpa harap. banyak yang benci namun tak sedikit juga yang suka. seorang gadis hujan pasti mampu menangis ketika langit sedih, dan ikut bergembira dikala langit bersuka. dan pada akhirnya, senyum gadishujan yang akan membentangkan pelangi di sudut-sudut senyuman langit. meski cenderung tergambar seperti labil, seorang gadishujan justru jauh lebih stabil dari dunianya. hatinya menangis, ia tersenyum. jiwanya bersuka, ia tersenyum. bukan menjaga diri dari cerca lingkup sekitarnya, tetapi ia hanya sulit menunjukkan cerita sebenarnya. hanya kepada bayang ataupun langit ataupun hujan, ia berkeluh-kesah. itupun kalau didengar.

ada yang mampu mengerti? :)

Jumat, 01 Oktober 2010

#6 - yang kamu rasa

kemarin kata cinta terlepas dari matamu
pelan-pelan, mengapa ia merayap maju ke hatiku?
ketika harap telah menjadi serbuk kayu
yang tak mampu lagi dirajut
ia justru berbunga lebat bersama asa
tanpa menyadari nyata tak lagi mau bermain mata
entah bagaimana ia tergantung di langit-langit pohon
menjadi angan yang sedemikian
terlampau jauh untuk diraih
atau kupatahkan saja hentakannya?
biar rasa yang menjelma menjadi mimpi pudar
pelan-pelan
biar tak berdarah sayatannya