Kamis, 15 Desember 2011

derit pelatuk

aku ingin menjadi derit yang memicu pelatuk didalam kepalamu
detik demi detik hingga terbentuk menit
menit demi menit hingga terbentuk jam
jam demi jam hingga terbentuk hari
agar waktu yang terlewat tidak berbentuk penat
dan sepi yang membentang tak segarut dengan jelaga
hingga kamu tidak lagi merasa sendiri.

tetapi kini aku yang selalu sendiri.

none




congratulation, now you are being my NIGHTMARE



Selasa, 29 November 2011

kata berkata

Hey, langit-langit dengan riap harap yang tak pernah habis diantara semu,
Hentikan ini semua.
Aku memang mencinta, tetapi aku tak dicinta, lagi.
Dia, aku, kamu.
Kamu, dia, aku.
Kalian, dan aku. Bukan kita dan dia.
Karena kalian terlalu rapuh dari aku.
Biar saja semua yang tertera menjadi mimpi indah diantara bayangmu dan senyumku. Hanya ilusi. Dan bukan certa utuh yang pantas diabadikan.
Abaikan saja rindu yang menggelitik, yang sesekali menyusup kemudian mengiris, ia hanya bagian yang harus kamu dan aku lewati dalam proses menjadi dewasa. Dengan keputusan yang kamu dan aku akan pelajari.
Semuanya akan baik-baik saja. Suatu hari nanti.
Dengan waktu yang terulur dan jarak yang terukir.
Jangan memencak, aku yang telah menggali kuburku sendiri. Aku hanya bercerita, dan bukan memelas untuk meminta.
Hey, langit-langit dengan riap harap yang tak pernah habis diantara semu,
Jangan menatapku pelik.
Aku tak sudi melihatmu mendelik. Karena kamu hanya saksi yang bisu tuli buta.
Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Untuk aku, kamu. Kamu, aku. Bukan kita. Memang tetiada kita.
Saat kamu rasa, aku buta. Saat aku rasa, kamu tak bersedia.
Meski kamu kata akan ada aku dan kamu. Di lain waktu. Kapan? Nanti. Nanti? Kapan-kapan.
Bukan, langit-langit. Aku tak mau lari. Aku bahkan tak bisa lari. Kamu satu yang mungkin diperjuangkan dan ingin diperjuangkan tanpa dipandang pantas tidaknya untuk diperjuangkan.
Hanya saja, langkah yang terpekur sudah membuat jiwaku tersuruk. Jangan berharap ada lagi senyum yang benar di bibir. Aku lupa. Jika kamu mengira senyum ini benar, maka kamu buta.
Kamu benar sudah merebut sendi hati tanpa sudi mengembalikannya. Atau mungkin sudah hilangkannya?
Atau bahkan kamu tengah bermain dengannya.
Aku tak tahu. Tak mau tahu.
Satu hal pasti, semuanya sudah menjadi milik kamu. Aku tak peduli mau kamu buang, kamu juang, kamu bentang, kamu pasang. Atau kamu jadikan sisa petang sebagai hiburan. Atau mungkin sekedar pajangan kebanggaan?
Aku tak menuntut. Ini salahku. Kuburanku. Nyawaku.
Mati.
Hey langit-langit dengan riap harap yang tak pernah habis diantara semu, kamu tau?
Mungkin kamu yang tengah bersekongkol dengan kamu. Disini aku tertawa miris menatap pilu. Mengapa dengan mudah aku menitipkan semua nyawa yang kumiliki kepada kamu yang tak bisa kumiliki untuk saat ini?

Tuhanku aku, buta.

Tuhanku, aku buta.
Diantara pahit-pahit yang memeluk, dengan sendi-sendi harap yang menusuk.
Aku merana.
Ditempa hidup yang membabi buta coba merasuk dan menyakti hingga tak lagi aku punya bentuk.
Menelan sayup pilu yang bertumpuk disetiap mimpi-mimpi yang setiap hari semakin buruk.
Penciptaku, aku tak lagi kuasa.
Satu-satu nafas yang ditampuk hanya buat jiwaku semakin remuk.
Aku tak pinta.
Detik-detik hidup yang coba merajuk lagi mampu tempaku jadi terbekuk.
pagi yang menyusup dari pias yang tertumbuk buat makin tertohok, masuk.

Aku tak mau nyawa yang terpendar, tarik saja. Pendaran nadi haya membunuhku pelan-pelan.
Meregang nyawa yang kunanti, mengapa tak kunjung datang?

Minggu, 30 Oktober 2011

goodbye, teenager.

Hari ini, katanya spesial. Biasanya minggu malam udah lenyeh di kamar kos, sekali ini diminta mama tetap dirumah dan memilih untuk ikut papa berangkat pagi buta yang akan berangkat ke bandara jam lima. Kenapa?

Biar orang rumah tetap bisa ngucapin selamat ultah secara langsung, untuk yang pertama. Dan masih, papa berhasil menjadi orang yang pertama. Lelakiku.

Kata banyak orang –dengan saya masih dalam satu pemikiran-, ulang tahun itu penting. Inginnya ada saat untuk tiup lilin. Ada ucapan dari orang yang terpenting. Mendapat doa dan kecupan di pipi dan di kening. Todongan bayarin makan dari banyak orang yang ingin.

Entah kenapa, di tahun ini semua hampir terasa hambar.

Bukan tanpa alasan, tetapi justru kekhawatiran yang lebih mendominasi. Beberapa hari silam, saya mencoba membuat bahan renungan untuk introspeksi diri, dengan bertanya secara gamblang kepada sejumlah orang dalam contact BBM tentang karakter yang seharusnya saya buang.

Dan, tidak ada jawaban yang cukup memuaskan, sehingga saya gagal mencari cerminan agar menjadi manusia yang lebih baik.

Jujur, saya khawatir jumlah angka yang sudah jelas menghapus kata teenager tidak berbanding lurus dengan tingkat kedewasaan yang saya miliki. Kini pilihan hanya ada dua yang tersisa; “menjadi dewasa sejalan dengan usia” atau “kekanakan meskipun usia sudah masuk kepala dua”, tanpa pilihan “kekanakan karena memang belum dewasa”.

Dan karena hal ini juga, saya berharap tidak menjadi pusat perhatian untuk hari ini. memilih untuk memperhatikan daripada diperhatikan. Untuk melihat daripada dilihat. Karena saya belum siap, menjadi dewasa. Pemikiran saya masih kanak-kanak. Belum pantas dibilang ‘dua puluhan’.

Hal kecil seperti ini justru terasa lebih mengganggu. Entah mengapa banyak orang berpikir bahagia di hari lahir yang berulang. Banyak yang menuntut kedewasaan di hari yang sama. Padahal, seharusnya bertambah dalam hal positif itu dilakukan setiap hari, bukan? Mengapa orang-orang justru mengharapkan perubahan dalam satu hari saja?

Sebenarnya, saya lebih berharap semua berjalan seperti biasa. Jangan ingatkan saya kalau jatah hidup saya sudah kembali berkurang, karena sebenarnya saya menyadari bahwa setiap hari saya bertambah tua dan (semoga) bertambah dewasa.

Tetap, saya akan tetap berucap selamat menapaki hari dengan pemikiran yang berbeda, gadis hujan. Semoga hujan yang berlalu dan berlalang di harimu yang datang tidak sampai hati untuk membasahi sudut-sudut mata yang tengah berusaha untuk kering.

Rabu, 26 Oktober 2011

blogger's day!



ide memang bisa didapat dari mana saja, tapi spesial untuk hari ini... saya memilih untuk tidak menulis. lebih baik berkeliling ke rumah-rumah yang sudah dihiasi dengan kado-kado dan warna untuk para penjelajahnya <3

anyway, happy blogger's day!



Selasa, 25 Oktober 2011

saat kamu

ketika dingin yang menyeruak bukan lagi kamu
dengan rindu sesekali menelusup masuk
menyamar jadi bayangan kantuk
dan wajahmu akan menempel di kelopak mata yang tertutup
dengan senyum terukir, atau bibir tertekuk
dan lampau menjadi penguasa antara aku dengan kamu
setengah sadar mengomentari sepi yang menelisik
diantara jemari dan sekelebat manusia lalu lalang
bosan jadi bayang, kamu menjadi udara
melanglang buana sepanjang hati sampai jiwa
sampai satu waktu kamu kembali bosan dan
mencari musim lain yang akan kamu singgahi

terus berputar sampai ada satu masa
ketika dingin yang menyeruak bukan lagi kamu
hanya hampa

Kamis, 20 Oktober 2011

Mimpi - Gadis Hujan

what a miracle! Sempet mikir ngga akan bisa ikutan proyek @nulisbuku sama sekali, ternyata berhasil ikutan meski cuma tiga hari aja :) dan entah bagaimana, tulisan ini kok malah ga nyambung sama tema ya? ya sudah lah check this out, cerpen ketiga dengan sudut pandang yang jauh berbeda dari dua cerpen sebelumnya. hehehe. lagi, kritik sangat diterima tetapi saran lebih ditampung ;)

MIMPI
gadis hujan
Jika matahari selama ini sudah menggigit, siang ini terasa lebih menjepit. Terik cahayanya membuat daerah disekitar kampus terasa lengang. Tanpa menghiraukan cuaca, Citra asyik bercokol dengan tumpukan kertas dihadapannya. Ratusan lembar kertas penuh tulisan kini sedang diurus oleh lelaki berambut gondrong berkulit cokelat matang.
“Mas Jok, satu dijilid pake cover warna biru ya, dua lagi putih aja,” Citra sibuk mengingatkan. Lelaki didepannya hanya menoleh sebentar, melempar senyum singkat kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya. “Halo, yang?” ia sibuk menjawab ponsel yang tiba-tiba berdering. “Aku di fotokopi depan kampus, kamu dimana? Ya udah kesini aja, ntar kita makan siang bareng ya. Dah!” Citra mengakhiri pembicaraan, kemudian memilih untuk duduk di deretan kursi yang kosong melompong.
“Hey,” Citra tersentak ketika ada sepasang tangan yang menyentuh kepala dan bahunya lembut dari arah belakang. Dhika. Senyumnya lantas terkembang, kemudian menarik tangan lelaki itu agar duduk disebelahnya. “bahan skripsi?” nada si lelaki bertanya sambil menunjuk kearah kertas yang dipegang Mas Jok, tukang fotokopi langganan mereka. Citra lantas mengangguk sambil tersenyum lebar.
“Bu Andin udah setuju, tinggal sidang aja ini...” Dhika ikut tersenyum melihat wajah gadis dihadapannya cerah. “Aduh, ngga sabar pengen pake toga!” lanjutnya kemudian. Matanya mengawang. “Nanti mau minta ibu nemenin nyari kebaya ah, buat wisuda! Ngga mau pake kebaya yang biasa, ini kan momen penting!” senyum lebar terukir manis di wajah Citra.
“Kamu mau nyari kebaya?” potong Dhika, yang dibalas dengan anggukan kepala Citra. “Hmm, ibu aku juga mau ikut beli kebaya deh kayaknya...” kalimat Dhika terputus di udara. Kening Citra lantas berkerut bingung.
“Ibu kamu mau beli kebaya baru?”
“Bukan, katanya sih ibu mau beli kebaya samaan dari sekarang, buat nikahan kita nanti...” Dhika bergerak canggung ketika melihat ekspresi kaget terpancar dari wajah Citra. “Aku udah nabung buat beliin ibu kita kebaya samaan yang, sedikit demi sedikit buat ngurangin biaya nanti, boleh kan?” mata mereka beradu, kemudian Dhika menyadari ada sesuatu yang keliru. “Kamu marah?” tanyanya kemudian.
“Ngga kok, aku ngga marah...” Citra menunduk ragu. Menatap ujung sepatunya yang berhias pita berwarna hitam dan kelabu. “Yang, kamu inget kan? Dulu aku pernah dapet beasiswa S1 ke Australia?” Citra kembali menatap lelaki dihadapannya yang kini tengah mengangguk bingung. Mungkin mempertanyakan kemana arah pembicaraan mereka, dari kebaya menjadi beasiswa. “Sekitar dua bulan yang lalu aku nyoba ikut tes beasiswa ke Jerman yang, dan aku lulus seleksi pertama,” suara Citra sedikit meninggi, bangga akan dirinya sendiri. Mata lelaki dihadapannya ikut berbinar bangga. “dan aku berencana untuk ikut seleksi kedua, sekitar bulan depan...” lanjutnya kemudian. Keduanya terdiam sejenak. Merenungi makna kalimat tersebut.
“Kamu berniat nyoba doang?”
“Nyoba doang sih, tapi aku mau berusaha maksimal. Pol pol-an deh, kasian sama orang yang udah ikut dari awal terus gagal gara-gara aku cuma nyoba...”
“Bukannya butuh pengalaman kerja ya?”
“Aku sempet ngajar di bimbingan belajar dari awal kuliah sampe semester lima kan? Katanya sih itu cukup. Lagipula aku sempet magang di kantor papa juga,”
“Kalau kamu berhasil, lantas kamu disana sama siapa?”
“Ada kelompok mahasiswa mahasiswi Indonesia kok disana, jadi aman,”
“Biaya lain-lainnya?”
“Aku kan ada tabungan, Dhika. Aku juga sempet cerita sama tante Desti, katanya kalau berhasil dia mau ngebantuin aku,”
“Ke Jerman?” nada Dhika menciut.
“Iya.” Citra bahkan tak mampu menatap wajah Dhika.
“Kenapa ngga di Indonesia?” Dhika menggenggam tangan Citra lembut. “Jadi kamu mau kita nikah nanti terus kepisah dulu, gitu?” Citra mendongak, langsung menatap mata Dhika sesaat setelah kalimat terakhirnya terucap.
“Apa ngga sebaiknya... ditunda dulu semua rencananya?” tanya Citra pelan. Kini ia benar-benar tidak mengerti ekspresi yang muncul di wajah Dhika.
“Maksud kamu?”
“Iya, rencana beli kebaya kembaran untuk ibu kita, atau batik yang sama untuk ayah, tunda dulu aja... Kita pikirin dulu masak-masak,” Citra membungkam kalimat Dhika. “Tabungan kamu, simpen dulu aja... Ibu ngga perlu dibeliin kebaya dulu,”
“Terus hubungan kita?” Dhika memotong pembicaraan. Citra tersentak, ini kali pertama ia mendengar seorang Dhika berbicara dengan nada yang cukup tinggi. Ia kembali menatap lantai, kemudian berusaha melanjutkan pembicaraan.
“Aku bener-bener mau mempertahankan hubungan kita. Lagipula, seharusnya ini ngga ada hubungannya sama hubungan kita. Aku sayang kamu, tapi aku ngga mau nelen mimpi aku gitu aja. Kamu tau kan betapa excited aku sama beasiswa keluar negeri? Udah lima tahun lebih kamu ngejalin hubungan sama aku, aku yakin kamu pasti tau sebesar apa keinginan aku untuk ngambil beasiswa ini...”
“Jadi kamu bener-bener udah nyusun plan dari dulu tanpa ngomongin sedikitpun sama aku?”
“Aku kan udah pernah ngebahas, tapi kamu selalu ngubah arah pembicaraan...” Citra menghela nafas berat. “Tolong Dhika, jangan ngelarang aku buat ngeraih mimpi aku yang satu ini,” kalimat Citra menggantung. Tiba-tiba otaknya kosong, blank. “Kamu tau ngga gimana bahagianya aku sama kehidupan aku ini? Sebentar lagi lulus strata satu, punya pacar se-amazing kamu, dukungan penuh dari keluarga aku, dan ternyata mimpi aku untuk kuliah ke negara orang mulai ada jalannya!” rona berapi-api jelas terpapar dari wajah manis Citra.
“Kenapa kamu ngga mau ngelanjutin di Indonesia aja sih?” Dhika kembali membahas pertanyaannya yang belum sempat terjawab. “Pendidikan disini juga ngga kalah berkualitas kok. Apalagi universitas negerinya. Iya kan?” lanjutnya. “Kalau kamu ambil kuliah disini, kamu ngga perlu repot mikirin biayanya. Aku bisa ngebantuin juga kok,”
“Bukan soal kualitas, Dhika. Apalagi biaya,” Citra menyela. “Kamu tau kan aku tipe orang yang suka mencoba hal-hal baru?” Citra menatap mata Dhika, berharap lelaki yang ia cintai itu mau mengerti. “Kalau aku bisa dapetin beasiswanya, aku bakalan nyoba hidup di negara orang! Ngerasain jadi bagian dari kehidupan mereka, jadi bagian dari mereka, aku mau nyoba itu semua!” Citra mengemukakan pemikirannya segamblang mungkin.
“Kamu bener-bener ngga mikirin aku?” Dhika memelas, menatap Citra dengan wajah pias. “Kamu ngga ngebayangin gimana jadinya aku ditinggal sama kamu selama kurun waktu dua tahun? Ngga mungkin kan aku bolak-balik Indonesia-Jerman? Dan kamu juga ngga mungkin ngelakuin itu, iya kan?”
“Kan ada internet. Ada banyak media, Dhika. Email, skype, messenger sekarang udah ada banyak tipe,”
“Kamu yakin kamu kuat dua tahun berhubungan sama aku hanya lewat layar yang ngga lebih dari 14 inchi?” Dhika kembali menyela. Tatapannya, campur aduk. Marah, sedih, kesal, semua ditumpuk dan dibumbui penat dari gerahnya kota Jakarta.
“Aku yakin, Dhika. Keputusan aku udah bulat.” Citra melepaskan genggaman tangan Dhika yang kini membuat tangannya berkeringat. “Hubungan kita, aku masih ingin perjuangkan. Ngga ada kata putus atau ambil jarak, atau apapun itu. Ini mimpiku, dan kamu juga bagian dari semua itu.” Citra berusaha mengakhiri pembicaraan, kemudian mengecup pipi Dhika pelan.
Sayup terdengar suara mesin fotokopi dan mesin jilid berdengung memecah keheningan.
ps : mohon bantuan doa, semoga tulisan saya ada yang ikut tercetak dalam proyeknya ya *amin*

Remember you - gadis hujan

lagi, hari ini berhasil ikutan proyek @nulisbuku. let's pray, tulisan gue ada yang masuk salah satu dari buku yang akan mereka terbitin *amin*

Remember you

Gadis Hujan

“Citra!” aku menoleh. Dion terlihat tergopoh melangkah kearahku, terlihat sedikit bosan dengan tas selempang merah bata. Aku memicingkan mata, berharap kali ini ada topik lain yang ia bawa untuk dibicarakan. “Diky nyariin lo tau,” lanjutnya setelah berhasil duduk disebelahku. Aku mendesah malas. “lo ngapain dia sih? Orangnya sampe mati-matian nyari lo gini. Salah masang pelet ya, Cit?” dahiku mengernyit.

“Mana bahan tugas kelompok yang gue minta?” aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Jujur, aku bosan membahas masalah yang tengah ia angkat ke permukaan.

Mungkin bukan bosan.

“Nih,” Dion menyodorkan setumpuk kertas yang masih terasa hangat, mungkin baru selesai di fotocopy. “lo ngapain ganti nomor hape sih? Provider butut ya?”

“Ampun deh, Yon. Nanya mulu kerjaan lo,”

“Ya iyalah, gue penasaran tau.” Dion memotong. “Si Diky ada salah sama lo ya? Dia ngapain lo sih? Orangnya ngotot banget pengen ketemu sama lo, tau.” Aku pura-pura menyibukkan diri dengan bahan-bahan yang ada dihadapanku. Jelas terasa, Dion belum akan mengakhiri rasa ingin tahunya. “Diky itu mantannya Dinda kan? Sekarang lo juga udah ngga pernah keliatan sama Dinda lagi. Ada apaan sih?” aku dapat merasakan tatapan penasaran Dion menusuk dari sisi kiri, tapi aku berusaha keras untuk tidak menghiraukan.

Tidak, setelah semua sudah kutempuh sampai sejauh ini.

xxx

“Kamu kemana aja sih?” saat itu malam sudah merayap, dengan nyamuk mulai aktif berkeliaran. Aku yakin kamu menyadari rasa rindu yang terpancar dari nada suaraku. Kamu bahkan tidak menatapku, malah sibuk menepuk lenganku yang dihinggapi nyamuk kelaparan. Lelah, aku meraih telapak tanganmu yang kosong kemudian menatap matamu dalam.

“Kamu yakin mau aku jujur?” aku tersentak. Kini malah tanganku yang sudah ada didalam genggamanmu. “Dinda minta tolong sama aku untuk nganterin dia sama ibunya belanja,” kamu melanjutkan kalimat tanpa menyadari ada luka baru dalam hati. Aku menatap lantai, berusaha mengerti. Tetapi ada sakit baru yang menggelayut disekujur tubuh.

“Tapi kemaren kan ulang tahun aku,” suaraku hilang ditengah kalimat. Setengah sadar aku menyadari kedua tanganmu merayap naik ke bahu. “kamu bener-bener ngga dateng loh, Diky. Kamu tau kan, siapa orang yang paling aku butuhin? Yang bener-bener aku mau? Aku mau kamu ada, ngga usah bawa kado juga ngga papa kok. Tapi apa?” pelan-pelan kesal kembali naik ke ubun-ubun ketika mengingat kejadian kemarin. Memang tidak ada acara spesial, tetapi aku telah menyiapkan makanan dikamar kos, berharap lelaki yang paling disayangi datang dan menghabiskan hari tanpa spasi.

Jangankan makan bersama, sms pun tidak kunjung datang.

“Jangan marah dulu,” kamu berusaha menyela. “tadinya aku mau jadi orang pertama yang ngucapin, tapi aku pikir itu udah biasa. Jadi aku mau kekosan kamu aja. Ngga taunya, Dinda mau ditemenin belanja. Dan, aku rasa kamu tau dia belanja kayak gimana, iya kan? Akhirnya aku mau ngucapin terakhir, tapi ngga sengaja ketiduran...” bahkan aku enggan menatap matamu meskipun ada rasa cukup kuat yang menyuruhku segera memelukmu. “Tolong banget berhenti marah sama aku. Aku ngga kuat didiemin sama kamu,” kecupan kecil mendarat diatas dahi. Ternyata merambat ke pipi. Lalu berhenti sebentar ke ujung hidung. Kemudian...

“Diky, cukup.” Aku mendorong bahunya pelan kemudian tersentak. Entah darimana ada kekuatan datang, mungkin rasa marah sudah menumpuk sampai luber keseluruh bagian. “Aku ngga bisa ngelanjutin hubungan ini lagi,” kini otakku terbagi menjadi dua bagian. Satu sisi aku seperti merutuki diri, sisi lain seolah mendukung mulut agar tetap membela ego. “Ini baru moment ulang tahun aku. What about tomorrow? Akan ada ultah kamu, natal, tahun baru dan masih banyak lagi. Lantas? Aku ngga akan dapetin waktu dari kamu. Cuma Dinda. Iya kan?” aku menatap matamu, dan terlihat ragu tergores disana. “Apa kamu mau milih aku?” kini kamu bahkan tak mau menatapku.

“Aku bukan ngga mau milih kamu, tapi aku belum bisa mutusin Dinda. Aku belum punya alasan cukup,”

“Jadi aku bukan alasan kan?” aku menyadari mataku terasa berkaca-kaca. Kamu memilih untuk tetap menunduk. “Aku ngga bisa terus jadi nomor dua. Dan aku milih untuk mundur,” suaraku terdengar kokoh, tetapi tekadku mengendur. Perlahan, kedua tanganmu mundur dari bahu. Detik kemudian, ada rasa ingin menarik semua kata-kataku yang terlontar kemudian menarikmu kedalam pelukan.

“Aku,”

It’s over, Diky. We’re done.” Aku terhenyak, jelas bukan ini yang ingin kuucapkan. Tetapi bagaimana bisa kalimat yang keluar dari mulutku sendiri tidak kuakui keluar dari hati? Aku berpaling dari bayanganmu, memilih untuk masuk kamar dan mengunci pintu dari dalam. Bahkan setelah aku berada didalam, kamu tidak berusaha mengetuk dan hanya berdiri diam.

Dan dalam diam juga, aku menelan rindu banyak-banyak, yang tidak terungkap.

xxx

“Jangan bengong woy,” aku merespon tepukan halus di bahu kiri. Dion menatap mataku bingung. “Gue nanya soal Diky, lo mingkem. Giliran gue diem, lo bengong. Tugas kelompok gimana nih?” tanyanya sambil menunjuk lembaran-lembaran penuh tabel dihadapan. Aku membenahi sebagian, kemudian membaginya menjadi dua.

“Lo urus yang itu deh, gue yang ini,” setengah sadar aku menunjuk salah satu tumpukan kertas. Aku merindukannya. Lelaki yang berhasil memecah hatiku menjadi dua.

“Yakin nih segini doang? Lo mau ngerjain setumpuk gitu?” suara Dion mengawang. Entah bagaimana hingga sebagian dari suaranya terdengar seperti suara Diky. Aku menelan liur sambil mengangguk, berharap rasa rindu yang tercekat di tenggorokan bisa turun ke perut kemudian hilang selamanya. “Hehe asik, ya udah gue cabut ya! Nanti gue kabarin lagi deh nih tugas!” Dion melambai kemudian menghilang ditengah keramaian orang. Aku mengkerut menatap bangku kosong yang baru saja ditinggal Dion.

Baru saja aku menyadari bahwa ini bangku yang sama dengan bangku yang dulu ditempati Diky.

Ponselku berdering, tanda pesan masuk berbunyi. Linglung, aku bukan membuka pesan yang baru masuk dan justru membuka saved messages. Ada sekitar 20 pesan darimu yang masih tersimpan.

‘makasih. Makasih banget udah ngasih ijin untuk aku tinggal di hati kamu.’

morning, sunshine. How was your sleep? Pasti mimpiin aku, iya kan? Hehe’

Nafasku tertahan di kerongkongan. Baru kali ini aku merasa membaca pesan masuk menjadi hal paling menyakitkan yang bisa dilakukan. Tanpa sadar, aku justru terus membaca, membiarkan nyeri di ulu hati yang semakin menyiksa.

‘hey my little fairy, dont ever dare to run from my life, please?

‘gombal apaan tuh? Aku sih ga mau neko-neko. Intinya, kalau kamu jadi prangko, aku ga mau jadi lemnya. Aku mau jadi gambar yang ada didalam kamu. Jadi bagian dari kamu.’

‘wah! Awas aja klo nanti kita ketemu. Kamu abis aku makan! Rawr! Hehe’

‘kamu itu sebagian dari jiwa aku, tau ga sih?!’

let me know if I could make your life happier...’

‘I miss you a lot! Your eyes, your nose, your lips, your everything!’

Maaf ya, aku lagi sama Dinda. Dia minta dibantuin nyari kado, katanya buat kamu. Kan kamu ulang tahun dua hari lagi :)’

Jemariku bergerak ragu. Entah siapa yang menggerakkan mereka hingga kini tampilan ‘Delete all?’ terpampang di layar utama.

Entah kemana setengah nyawaku melayang.

ps : kali ini saya berhasil menulis sebuah cerpen hanya dalam waktu dua jam kurang! what a miracle it is! *pekik girang*

Selasa, 18 Oktober 2011




life would never be fair, trust me. it depends on how you can accept them all.


Kamu - gadis hujan

ikutan #11projects11days untuk ulang tahun @nulisbuku baru kesampean hari ini di hari ke #8 :)
gotta write mine here. boleh kritik kok, tetapi masukan lebih diterima <3

Kamu
by Gadis Hujan

“Aku suka kamu.” seluruh gerakanku terhenti tiba-tiba. Itu bukan kalimat sembarangan. Aku menatap matamu, berusaha mencari kesempatan agar bisa tertawa dan menganggap kalimat barusan hanya bagian dari lawakan. Tetapi, sia-sia. Dan aku justru tenggelam dalam tatapan matamu yang baru kusadari berwarna abu gelap.

“Tapi...”

“Kamu ngga suka sama aku?” nafasku hampir terhenti ketika tanganmu sudah lancang menggenggam kedua tanganku. Terhipnotis, aku tidak menyadari bahwa jarak yang tercipta diantara aku denganmu mulai menipis. “Beneran, aku suka sama kamu.” Kini nafasmu sudah terasa, meniup pelan diwajahku. Wangi cengkeh, dan mint. Aku menggigit bibirku pelan. Setengah mati aku berusaha menahan diri agar tidak langsung memeluk bahumu yang bidang ataupun melumat bibir yang hanya berjarak sekian senti dari hadapanku.

“Tapi...”

“Kalau suka ngga harus ada alasan kan?” aku tak yakin masih ada jarak yang tercipta. “aku mau kamu cuma untuk aku...” Kamu merangsek maju, dan aku hanya diam. Kemudian wangi cengkeh dan mint sudah terasa didalam mulutku. Rasa bibirmu. Konsentrasiku hilang, yang ada hanya rasa ingin dan ingin yang berlebihan. Kesadaranku buyar, yang tersisa hanya cinta yang semakin berkembang.

Aku lupa ada hal-hal lain yang juga harus diperhatikan.

xx

Kata orang, kalau orang lagi jatuh cinta biasanya suka bertingkah seperti orang gila. Aku jatuh cinta, tapi tidak merasa gila tuh. Hanya saja, sejak pagi aku sudah suka tersenyum. Aku juga menyempatkan diri membuat sarapan untuk orang rumah, hal yang baru kali ini kulakukan. Dan pagi ini aku masuk kelas matematika tanpa keluhan. Bukan hal gila, kan?

“Cit, lo kenapa?” Dinda menyenggol pelan lengan kananku. Aku menghentikan diri dari kesibukan mencatat rumus yang tengah ditulis Pak Fredy, kemudian menoleh sebentar kearahnya.

“Emang kenapa?” dahiku berkerut bingung. Dinda menatapku lebih bingung lagi.

For your info, ini kelas matek, Citra. Lo jadi orang satu-satunya yang nyatet rumus! Anak-anak lain aja pada tidur!” aku menjauhkan telingaku sedikit dari rentetan kalimatnya. “dan, ini pertama kalinya lo nyatet! Ya ampun Cit, lo lagi stres?” Dinda mencoba menyentuh keningku dengan tangannya.

“Lo kira gue sakit?” aku mendengus pelan, berusaha mengabaikan tingkahnya. “Gue cuma lagi mau nyatet kok, itu aja. Kasian Pak Fredy, ngga pernah ada yang mau nyimak dia,” aku kembali menatap whiteboard yang kini mulai penuh dengan simbol dan angka. “padahal penjelasan dia lumayan bagus loh. Gampang dicerna,” dan aku kembali sibuk dengan pensil dan kertas, menyalin semua yang ditulis di papan tulis.

“Biar gue tebak. Lo lagi suka sama cowo ya?” aku tersedak. Permen yang tengah kukulum tanpa sengaja langsung tertelan. Dinda semakin bersemangat melihat tingkahku barusan. “Siapa Cit? Anak kampus ini juga? Kenal dimana?” Aku gelagapan. Bukan panik, tetapi kerongkongan tertahan itu rasanya ngga karuan.

“Din, lo liat gue keselek kan? Kasih minum dulu kek!” suaraku panik. Dinda cengengesan, kemudian menyerahkan botol air mineral yang sempat ia beli sebelum kelas dimulai. Sambil menenggak, mau tak mau senyumku terkulum dibibir. Jatuh cinta memang tak bisa diatur, kan?

Kelas berakhir ketika matahari tengah menyunggingkan senyumnya yang terlebar. Aku menatap Dinda yang tengah sibuk merogoh tasnya, mencari kipas lipat sambil membalas pesan yang masuk kedalam smart phone kepunyaannya. Aku? Setelah membalas pesan singkat darimu yang sampai sekitar lima menit yang lalu, aku langsung menyimpan ponsel dan menunggu. Ini saatnya menguatkan diri untuk menatap senyummu yang terlalu tampan dan matamu yang terlampau menghipnotis. Senyumku terkembang, baru semalam aku menatap wajahmu dan kini aku sudah kembali merindu.

“Cit, lo mau kan nemenin gue nunggu Diky?” Dinda memelas, menatap wajahku dengan memohon. “bisa gila gara-gara bosen nih gue kalo nungguin dia sendirian disini. Kosan lo kan deket, daripada pulang sekarang mending disini dulu... ya?” lanjutnya sambil mengipasi wajahnya yang mulai berkeringat. Aku tersenyum kecil sambil mengangguk.

“Nyantai, toh gue juga nunggu orang kok,” senyumku melebar, membuat Dinda mendelik. Aku melihat ekspresi-ingin-tahu-banget sudah bertengger di wajahnya, membuatku tak mampu menahan tawa. “Tadi sih bilangnya ketemu disini...”

“Tuh kan, gue bener! Lo baru jadian ya?” pekik Dinda girang sambil menepuk kedua telapak tangannya. “Siapa sih? Anak kampus ini juga deh pasti. Kenalin!” Dinda menarik-narik lengan bajuku kemudian menoleh kekiri dan kekanan, mencoba mencari tokoh yang berhasil meraih rasa ketertarikanku akan lawan jenis.

“Orangnya belom sampe disini tau,” aku tertawa pelan. “belum jadian Din, tapi kemaren... dia nyium gue...” ceritaku terbata. Bibir merah Dinda menganga.

“Serius?” Dinda menatapku terpana. Wajahnya yang mulus tertimpa sinar matahari, tetapi ia acuh ketika mendengar kalimatku barusan. Perlahan aku mengangguk, dan menyadari kini pasti ada rona merah terpantul di pipi kiri dan kananku. “Itu sih lo udah jadian Cit, masa dia nyium lo kalo dia ngga suka sama lo?” Dinda terlihat excited. “Mungkin dia bukan tipe orang yang suka nyatain perasaan, tapi langsung dilakoni lewat perbuatan,” Dinda mengerling, membuatku semakin malu. “Anak mana sih? Gue kenal?” tanyanya lagi.

“Hehe, lo kenal kok Din,” aku menjawab pertanyaannya. “Anak Budibakti,”

“Ya ampun, sama kayak Diky dong!” Dinda memotong kalimatku. “Gue kenal banyak anak Budibakti, Citra. Yang mana?” Dinda merongrong penasaran. Aku hanya menggeleng sambil tertawa. “Anak fotografi? Anak klifonara? Anak teater? Citra jawab dong, gue penasaran!” wajahnya semakin berbinar menatapku, berusaha mendapat informasi lebih lanjut. Aku hanya menggeleng sambil terus tertawa.

Kemudian kamu datang. Dengan senyum manis terpatri di bibir, dari arah depan. Aku balas tersenyum ketika kamu melambaikan tangan, mengecup telapak tangan kemudian meniupkannya kearahku. Langkahmu pasti, kemudian berhenti tepat dibelakang Dinda.

I miss you,” kedua tanganmu menutup kedua mata Dinda dari belakang, kemudian menatap kedua mataku dan mengunci sisa kesadaran yang kumiliki.

I miss you too,” Dinda tertawa renyah sambil menggenggam kedua tanganmu, kemudian mendaratkan bibirnya ke pipi kananmu. Masih, aku hanya mampu menatap kedua mata abu milikmu yang masih menatap mataku. Aku juga merindukanmu.

“Udah lama nunggu?” bibirmu bergerak, bertanya. Aku menatap bibirmu, membayangkan wangi cengkeh dan mint yang masih tersisa hingga saat ini.

“Ngga kok, sayang,” Dinda menjawab sambil merangkul tanganmu, menarikmu untuk duduk di sisi kirinya. Aku selalu menunggumu sebegini lama, meski hanya untuk merasa hangatmu. Dan kini rasanya panas matahari berhasil menggigit isi kepalaku.

“Cit, cowo kamu masih lama?” tanya Dinda, mengembalikan kesadaranku yang sempat mengambang entah kemana. Aku hanya menjawab dengan senyuman.

“Citra udah punya pacar?” kamu bertanya kemudian kembali menatap mataku dalam. Kekasihku itu, hanya kamu. Matamu, bibirmu, senyummu.

“Iya, katanya anak Budibakti juga! Terus dia nunggu disini, mau dijemput disini juga kan?” Dinda tersenyum lebar. “Wah banget deh pasti cowo itu, sampe bisa bikin Citra luluh,” lanjutnya kemudian. Aku hanya bisa menunduk. Entah mengapa.

“Pasti cowo itu beruntung banget ya,” kalimatmu membuatku kembali mendongak. Senyummu masih disana. “seberuntung aku...” Tiba-tiba seperti ada yang membuncah didalam sini. Didalam hati. Kemudian tanganmu terangkat, mengusap pelan rambut Dinda. Kedua tanganku mengepal kencang dibawah meja, kemudian saling mencakar satu sama lainnya.

“Kalian kalo mau duluan juga ngga papa kok, aku nunggu disini sendiri aja,” aku melontarkan senyum paling manis yang bisa kubuat. “jangan sampe, gue ngerusak jam date kalian...” susah payah aku melanjutkan kalimat ketika Dinda kembali mengecup pelan pipimu. Aku menelan rasa sesak yang tertinggal di tenggorokan.

“Filmnya dimulai bentar lagi, yang,” kamu mencolek Dinda pelan. Aku pura-pura buta, mencoba mencari benda lain yang bisa mengalihkan pemikiranku dari niat untuk mencakar Dinda.

“Yakin lo mau nunggu sendirian disini?” Dinda menatapku ragu. “Emang dia mau dateng jam berapa?”

“Harusnya sih udah dateng Din, tapi kayaknya dia ada janji sama orang lain deh,” aku tertawa. Miris. “gue balik kekosan aja deh, paling ntar dia kekosan gue,” jelasku kemudian. Senyummu terukir kembali, membuatku lupa cara bernafas.

“Yaudah, kita pergi ya...” Dinda beranjak dari tempat duduknya. Aku menatap gerakan bibirmu. Kamu memintaku menunggu. “Daaah Citra!” Dinda melambaikan tangan kemudian bergelayut dilenganmu. Aku berusaha keras menahan emosi yang membludak didalam, hampir meledak dari tenggorokan. Kemudian tanganmu merangkul pinggang Dinda, lalu mengecup keningnya. Tanpa sadar aku merasa ada dingin yang menyelimuti seluruh tubuhku. Atau panas? Entah apapun itu.

Entah berapa lama aku mampu bertahan.