Minggu, 21 Desember 2014

Celoteh daun teh di pagi hari

Istirahat makan siang, jemari saya menarikan ritual pemanggil hujan. Satu-dua ketukan, justru menemukan satu tulisan lama milik seorang Shinta yang lama.
Mungkin menarik untuk kalian baca, mungkin tidak. Tetapi ini rumah saya, dan saya punya kapasitas penuh untuk meletakkan sampah apapun didalamnya.


Celoteh daun teh di pagi hari
Menggenggam embun di pangkuan, tatapannya menerawang
Matahari tersenyum lebar, tidakkah kamu ingin mengecupnya ringan?
Jangan tunggu hari esok, rupanya semu
Sepetik lengah dan kita hanya akan lebur menjadi uap dengan udara

Celoteh daun teh di pagi hari
Menantang terik di hadapan dunia, angannya terbahak
Matahari mengerling penuh makna, tidakkah kamu ingin merengkuhnya dalam?
Jangan tunggu hari esok, rupanya semu
Sebelum malam menjadi preman dan mencuri harap yang tertumpuk di permukaan

Celoteh daun teh di pagi hari
Warnanya kian memudar, sementara aromanya telah menyengat pekat
"Waktuku menipuku," bisingnya pilu
Dan kini saatku menyelinap pergi, pagi-pagi yang kulalui
Mengapa kamu hanya menunggu hari esok, yang rupanya semu?


Cipanas, Juli 2013

Gadis Hujan.


Ps: saya bahagia. Ada apresiasi dari tulisan saya, yang lamat tersendat dan terlihat tidak mungkin memikat. Setidaknya ada peminat. Terima kasih, kamu :)

Jumat, 21 November 2014

Apakah kamu baik-baik saja?

It has been a very long time. How are you? Are you alright? Did anything hurt you anywhere? What is just going on while I am not around?

Saya bertandang selayaknya tamu di dalam rumah sendiri. Ruah. Kedinginan, Bersin-bersin tidak karuan. Memetakan mimpi masa lalu yang tidak lagi memiliki rupa. Saya datang hanya ingin sedikit bersih-bersih. Mengelap kaca, menyapu lantai. Menghapus debu-debu yang sudah menyisakan karat pada sisi-sisi kehidupan.
Apakah kamu baik-baik saja?

Hidup saya mengkeret. Mimpi saya luar biasa hitam. Hari saya kelabu, walau sekarang-sekarang ini ada banyak awan putih menaungi. Menjadi dari abu-abu menjadi abu-putih. Cita-cita saya meredup, realita saya kian menyiksa. Waktu-waktu melangkah maju tanpa mampu dirasa. Umur semakin bergulir tanpa ada daya untuk tidak menyakiti sesiapa, tetapi merusak segala.
Apakah kamu baik-baik saja?

Adakah diantara kita; abu imaji dan harapan; baik-baik saja?


Kepada Langit Sendu,
Gadis yang menunggu hujan.

Selasa, 10 Juni 2014

What worth is?

Hari ini panjang dan melelahkan, sejujurnya. Dengan status sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta, saya diwajibkan masuk kerja sebelum jam delapan, dan barusan *dengan terpaksa* saya harus mengambil lembur sampai baru menginjakkan kaki di rumah jam sepuluh malam.
Life. is. hard. enough. LOL

Meski kemarin malam saya kurang tidur, tadi ambil lembur sampai telat makan kemudian maag, tetapi saya berhasil menemukan celah waktu untuk menulis lagi, disini. Lagi, rasa rindu mengikat yang membuat saya kembali menulis di blog. Meskipun *lagi-lagi* tidak tahu apa yang mau ditulis. Meskipun rasanya saya mau nyopot badan terlebih dahulu, agar lelah-nya hilang.
But I feel like this is worth to do. So I choose to do this, writing.

Talk about worth or not, I wanna ask you *anyone, yang ngebaca postingan ini* something.

Menurut kalian, apakah keputusan yang sudah kalian ambil dan tengah kalian jalani saat ini adalah keputusan yang pantas untuk dipertahankan?

Mungkin efek malam, hujan dan rasa lelah membuat saya -sekali lagi, kembali- menulis postingan yang cukup, galau. Tentang kehidupan.

Saya akui, saya tengah merasa hilang jejak. Menulis bukan lagi menjadi sebuah cita-cita namun hanya hobi yang sesekali harus saya lampiaskan. Musik bukan lagi menjadi harapan untuk digapai tetapi kebutuhan yang harus tetap dijalankan. Seperti manusia butuh nafas dan tidur, atau seorang hiperseks yang butuh hubungan intim. Saya butuh menulis, saya butuh musik.
Tetapi saya justru menjadi seorang musafir tersesat dalam construction company yang tengah berusaha untuk berkembang, ikut mengais rejeki ketika saya bahkan tidak mengerti apa yang terjadi.

Stress? Jangan tanya. Saya hampir gila, dalam makna yang sebenarnya. Pelarian saya tidak ada, hilang. Saya tidak puas hanya membaca, saya butuh menulis tetapi waktu seakan pergi berlarian. Tidak cukup hanya mendengarkan musik, saya butuh bermain tetapi jemari saya kaku; terlalu lama memegang keyboard dengan jenis yang berbeda, yang tidak melahirkan nada.

But, guess what, time heals. Saya mulai merasa ini semua menjadi habit. Saya menjadi seorang yang pendiam, acuh tidak acuh, Menjalankan hari tanpa target yang saya inginkan. Begitu saja, sudah. Pergi pagi pulang petang untuk mengumpulkan pundi-pundi yang masih juga tidak terkumpul, karena banyak sekali yang harus ditanggung selain diri sendiri.

But -again-, I feel like it is worth. Pengalaman ini. Pertahanan diri model seperti ini. Didikan yang saya terima dari manusia-manusia kantor dan kantor itu sendiri. Kelelahan dan muak yang menumpuk ini. Jangan tanya -please do not ask- apa yang membuat hal ini worth. Saya sendiri bingung, tetapi menurut saya, this strengthen my mental. Kalau kata lagu, what doesn't kill you makes you stronger. Dan saya tidak menyesal. Saya merasa keputusan yang saya ambil untuk tenggelam disini, adalah pantas untuk dipertahankan. Meskipun ada banyak kata "tetapi" mengekor dibelakang.

Bagaimana dengan keputusan yang tengah kalian ambil? Pertanyaannya hanya satu; is it worth?

Entah. Mungkin otak saya memang benar sudah tumpul. Setidaknya saya menguapkan sedikit kepul dari kepala saya, dengan menulis saat ini :)