Senin, 27 September 2010

#3 - ayah


aku gadishujan pecinta ayah, yang sudi mengganti popok saat aku baru melangkah ke dunia
bangun dimalam hari mendengar celotehan kecilku dan berupaya menenangkan disaat bayi.

aku gadishujan pecinta ayah, yang selalu hadir melangkahkan kaki mengambil rapot tahunan
baik merah maupun hitam selalu mendapat semangat dan senyuman.
aku gadishujan pecinta ayah, yang susah payah memasang kipas di ujung jendela kamar
dan mengulangi prosesnya yang penuh penat agar tidak jatuh menyakiti anaknya.
aku gadishujan pecinta ayah, yang menyemangati pertandinganku dengan caranya
meniti setiap titik yang peduli agar aku tidak merasa sendiri.
aku gadishujan pecinta ayah, yang mengendap-endap menyusup masuk keruang tidur
hanya untuk melirik apakah selimut telah melapisi tubuh dengan sempurna.
aku gadishujan pecinta ayah, yang tidak mampu memeluk ketika aku terkapar tangis
namun merutuki dirinya sendiri merasa gagal untuk melindungi.
aku gadishujan pecinta ayah, yang seringkali tak mampu berbual ketika duduk semeja
tetapi aku tahu kami berbincang walau tanpa kata terujar dimuka.
aku gadishujan pecinta ayah, yang kini mulai terlihat kerut didahinya karena tuntutan usia
walau aku sadar hatinya akan sama tak tergarut oleh rajutan waktu...
aku gadishujan, yang mencintai ayahnya :**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar